"Kelas sepuluh IPA lima maju ke depan!" teriak salah satu siswa dengan tanda biru di lengan seragam kirinya, menandakan ia mengikuti organisasi OSIS.
Semua anak yang berbaris di plang kelas sepuluh IPA lima maju semua, kecuali seorang anak laki laki yang malah sibuk menggoda siswi kelas lain. Salah satu siswi kelas sebelas yang mengenakan tanda hitam di lengan seragam kirinya menyadari anak laki laki itu. Matanya menatap tajam ke arah laki laki itu dan tak lama suara siswi itu menggelegar hingga semua orang yang ada di aula terdiam.
"Heh anak baru!"
Semua mata tertuju kepadanya, samar samar terdengar suara bisik bisik dari para siswa baru, hanya suara langkah kaki siswi yang berteriak tadi yang terdengar mendominasi. Sedangkan siswa kelas 11 dan 12 yang lain, yang tak lain adalah OSIS yang mengenakan tanda biru, dan juga beberapa siswa yang mengenakan tanda hitam, yaitu anak OSIS yang dipilih sebagai 'Black Team', yang isinya adalah anak OSIS yang super menyebalkan dan galak, tapi jika MOS sudah selesai, mereka akan jinak dengan sendirinya, hanya diam saja.
"Lo kelas berapa?" tanya siswi dengan name tag 'Adilla Rachmania S.'
"Kakak bicara sama saya?" tanya anak laki laki itu.
"Iya Daren Anggara Putra" jawab Adilla dengan penuh penekanan.
"Oh, saya kelas sepuluh IPA lima kak, ada apa ya kak" katanya sambil bersikap sok sopan dengan senyuman yang dibuat buatnya. Padahal batinnya terus mengumpat.
"Kamu tau kesalahan kamu?" tanya Adilla lagi.
"Memang ada apa ya kak?"
Adilla menghela nafas. "Lo tau gak kesalahan lo hah?!" bentaknya sambil menggebrak meja yang kebetulan ada di sampingnya.
"Ih kak jangan galak galak, nanti cantiknya hilang loh"
Wajah Adilla memerah, antara menahan malu karena digoda oleh adik kelasnya sendiri dengan marah karena sikap kurang ajar adik kelas yang belum saja genap sehari menginjakkan kaki di sekolah ini.
Seorang gadis dari kejauhan terlihat khawatir dan terus mengucapkan sumpah serapah dalam hati, mengatakan 'Dasar Daren bodoh' berulanh kali tanpa henti. Gadis itu pelan pelan mencoba memberi kode kepada Daren bahwa sekarang ia sudah tamat. Daren yang tak mengerti memiringkan kepalanya.
"Heh! Lo belum sehari udah gini ya sikapnya? Lo itu masih anak baru, masih bocah!"
"Hm, iya maaf kak" balas Daren dengan tidak niatnya.
"Ughh, gue capek, sekarang lo jawab gue. Lo tau kesalahan lo?" tanya Adilla lagi dengan tatapan mengintimidasi, namun sayangnya tidak mempan pada Daren.
Daren melihat ke sekitar, lalu matanya terhenti pada gadis tadi yang menunjuk ke arah segerombolan siswa yang mengenakan kartu nama yang sama warnanya dengan miliknya. Oh, dia baru mengerti.
"Oh, maaf kak, saya tidak mendengarkan intruksi, saya akan maju ke depan" kata Daren sambil meringis.
Adilla menghela nafas sejenak. "Sebelum itu, push up dua puluh kali" katanya dengan penuh penekanan di setiap suku katanya.
"Sekarang kak?"
"Nggak, tahun depan"
"Oh ok deh kak"
"Heh! Ya iya lah sekarang!" bentak Adilla lagi.
"Yaelah kak, katanya tahun depan, iya deh, dari pada kakak tambah marah, nanti cantiknya hilang"
Adilla yang mulai jengah, hanya diam saja lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Daren dengan tatapan 'Push.Up.Sekarang'.
-_-_-_-_-
"Udah?"
"Capek gila"
"Kamu sih aneh aneh, pake ngelawan kakak kelas"
"Hehe, dia manis sih" kata Daren pada gadis yang tadi memberikan kode padanya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, merasa sebal.
"Tapi by the way, thanks ya Tes, kamu emang penyalamatku hehe" kata Daren lagi sambil tersenyum ke arah gadis itu, Tessa.
Tessa yang awalnya cemberut, dibuat kaget oleh Daren, wajahnya yang sedikit memerah karena panas, bertambah merah entah mengapa. Kepalanya menunduk saat ia merasa ada yang aneh pada dirinya hingga rambutnya yang tergerai jatuh menutupi wajahnya. Daren yang menyadari itu, langsung mengambil karet kunciran yang ada di pergelangan tangan Tessa lalu menguncir Tessa.
"Kamu tuh, udah tau rambut panjang, dikuncir dong, di Indonesia, cewek rambut panjang harus di kuncir" kata Daren sambil menguncir rambut Tessa, sedangkan Tessa hanya terdiam. Daren yang menyadari wajah merah Tessa, langsung menatap lekat wajah Tessa. "Wajahmu memerah! Apa kamu kepanasan di sini? Ayo ke sana, nanti wajahmu melepuh hehe" canda Daren sambil menarik tangan Tessa. Dan Tessa lagi lagi terdiam.
.
Kadang aku berpikir, apa ada yang salah denganku? Apa ada yang berbeda darinya? Dulu aku suka sekali saat ia menatapku, dulu aku suka sekali jika ia memujiku, dulu aku suka sekali saat ia tersenyum padaku, tapi sekarang, aku malah merasa ada yang aneh pada diriku, ketika ia melakukan semua itu, tiba tiba saja jantungku berdebar.
.
a/n : iya tau, bahasanya ancur :')
YOU ARE READING
Best Place
Teen FictionMenurutmu apa mungkin ini sebuah kebetulan? 17 tahun bersama, tak pernah terpisah, bahkan pindah sekolah hingga mendapat beasiswa yang sama. Jika memang hanya kebetulan, apa perasaan ini juga kebetulan? Perasaan nyaman dan tidak ingin berpisah? Apa...
