Imprison

472 83 5
                                        


Tepat kala jarum jam meringsek melewati pukul duabelas malam, pada sebuah malam yang dihujani salju di akhir Desember yang dingin, pemuda itu selalu menemukan ketukan pelan di depan pintunya. Pada waktu yang sama setiap tahun, tanpa terlewat sedikitpun. Ia pikir itu hanya bongkahan es yang tanpa sengaja menghantam, namun pada akhirnya sadar bahwa itu hanyalah sugesti.

Ketukan itu nyata.

Taehyung bangkit duduk, meluruhkan selimut yang menyelimuti tubuhnya tatkala ia sibuk bergelung di atas sofa, dekat perapian hangat bersama cokelat panas. Ia mengerling, menemukan siluet yang seolah memperhatikannya dari balik jendela, yang kemudian hilang dan yang dilihatnya hanyalah hujan salju yang begitu lebat di luar sana, menyerupai badai.

Ia penasaran, benar-benar penasaran. Terlepas dari rasa takut dan terancam yang ia rasakan, terlepas dari rasa dingin yang merambati tulang biarpun telah membungkus dirinya dalam sweater tebal dan selimut besar, terlepas dari rasa jerih di dadanya dan rasa mencelos samar yang urung untuk hilang, terlepas dari keanehan betapa ia tidak pernah mengetahui siapa orang misterius itu.

Pandangannya teralih pada jam dinding bulat, besar, dan tua yang menempel apik di atas perapian kecil rumahnya yang hangat. Gemetaran meletakkan mug yang sedari tadi ia peluk begitu erat dengan kesepuluh jari langsingnya. Meneliti bahwa kini jarum yang menunjukkan menit telah bergeser ke angka tiga, teng. Ini berarti bahwa ia telah mendiamkan ketukan itu selama limabelas menit tanpa sedikitpun beranjak. Bersikap seolah tuli.

Ketukan itu semakin nyaring, dan begitu tidak sabaran.

Ia ingat tahun lalu, ia berteriak kacau. Begitu ingin mengetahui siapakah gerangan yang selalu menghantuinya pada hari ini, setiap tengah malam mulai beranjak, setiap akhir Desember yang bersaju, setiap badai menerjang ganas. Ia mengancam, ia tidak akan menuruti orang tersebut jika tidak membeberkan identitasnya. Sebab setiap kali Taehyung menghampiri pintu, suara serak bernada lembut itu selalu mencegah Taehyung untuk membuka pembatas antara mereka berdua.

"Kau baru boleh membuka pintu ini kala matahari mulai muncul," ia ingat bisikan dari balik pintu itu, begitu jelas seolah dibawa angin dan dilantunkan di telinganya. Begitu sendu dan menyayat hati. "Jangan pernah membuka pintu ini kala suaraku masih kau dengar."

"Kenapa? Kenapa aku harus menuruti ucapanmu? Aku berhak membuka pintu ini sekarang—"

"Jangan! Kumohon, jangan pernah lakukan itu." Suara penuh peringatan itu mendesing bagai peluru, menusuk dada Taehyung begitu pasti dan membuat gerakannya terhenti. Ada satu, satu hal aneh, yang selalu membuat Taehyung tidak nyaman. Suara itu seolah punya kekuatan untuk membuatnya patuh.

"Berikan alasanku untuk itu." Taehyung menumpukan keningnya di depan pintu kayu, membiarkan rambut cokelat halusnya yang mulai memanjang mengurai apik, jatuh dan mengumpul manis di depan dahinya. "Kenapa aku tidak boleh melihatmu?"

"Aku punya alasan. Dan aku yakin, kau tidak akan mau mendengarnya. Jikapun kau mendengarnya, kau akan berpura-pura tidak pernah tahu apapun."

"Kenapa aku harus percaya?"

"Karena kau memang harus percaya, Taehyung-a."

Taehyung ingat reaksi dingin dan mencelos yang ia rasakan kala itu, kala ia memaksa untuk mengetahui beberapa potong informasi dari suara misterius itu. Yang selalu memberinya satu kotak berisi salju, tiga buah kelopak cherry plum, dua buah cherry sewarna darah, dan satu buah peach—yang sampai sekarang tidak pernah Taehyung ketahui maksudnya apa. Hadiah yang selalu sama sejak sembilan tahun yang lalu.

Entry 3Where stories live. Discover now