Terlihat seorang perempuan tengah duduk di atas atap sekolah sembari memandang langit yang kebiruan. Ia menikmati setiap gumpalan awan yang berarak menuju tempat singgahnya. Tangannya menari seolah sedang melukiskan sesuatu di atas awan itu.
"Lo gak bosen ngelihatin awan terus ?" Tanya seorang lelaki yang menghampirinya. Ia duduk di sebelahnya dengan rokok yang masih ada di tangannya.
Perempuan itu hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Karena awan adalah bagian dari Langit"
Lelaki itu mendengus sebal. "Gue juga tahu itu mah"
"Kalau tahu kenapa nanya?"
"Gue cuma penasaran". Ia kembali menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Disini rasanya sangat dekat dengan Langit. Walaupun pada akhirnya aku sadar, ia memang jauh untuk kugapai. Tapi setidaknya, di tempat ini aku bisa merasakan keindahannya"
"Lo pecinta Langit?"
"Iya"
"Gue benci Langit."
"Kenapa?"
"Langit selalu terlihat sempurna. Apapun yang ia punya selalu membuat orang-orang memujanya. Matahari, Bintang, Bulan bahkan Awan. Saat ia membuat kesalahan, mungkin dengan menurunkan hujan, menyambarkan petir atau menyembunyikan awan. Ia tak pernah disalahkan."
Lelaki itu menatapnya lekat. Sorot mata tajamnya seolah menyiratkan apa yang ada dalam isi hatinya. Ia terluka.
"Apa yang salah dari Langit?"
"Seperti yang gue bilang, Langit gak pernah salah di mata siapapun. Kecuali gue"
Setelahnya hanya hening yang tercipta. Tak ada yang berani untuk memulai percakapan. Atau mungkin mereka hanya sedang menikmati betapa mempesona langit siang ini. Tidak, bagi lelaki itu Langit hanyalah sebuah kepalsuan yang ditutupi topeng kesempurnaan.
.
Ini cerita pertamaku :')
Ditunggu vommentnya ya kawan. Karena vote dan comment kalian sangat berharga 😄
Hope you guys enjoy this story
YOU ARE READING
Sandhya
Teen Fiction"Gue benci Langit." "Kenapa?" "Langit selalu terlihat sempurna. Apapun yang ia punya selalu membuat orang-orang memujanya. Matahari, Bintang, Bulan bahkan Awan. Saat ia membuat kesalahan, Ia tak pernah disalahkan." "Apa yang salah dari Langit?" "Sep...
