Pagi menyigsing cerah, cahaya matahari menembus tirai jendela kamarku . Aku bersiap lebih awal tepat pukul 06.00 aku sudah siap dengan seragam putih abu – abu . Rok abu – abu yang menjuntai kebawah, baju putih dan dasi abu – abu , lengkap dengan jilbab putih segitiga putih senada , sepatu hitam mengkilap , tas berwarna pink keluaran terbaru . Aku melangkah dengan riangnya menuju meja makan , tatkala ketika kulihat tebaran roti cokelat dipiring dan segelas susu . Jelas saja ini dipersiapkan bunda , yah tentu saja sekarang sudah duduk manis menungguiku . Aku duduk lalu dengan cepat menyambar roti cokelat dan susu hangat . Setelah perutku terisih penuh mataku terarah pada arloji merah muda milikku yang sekarang tepat menunjukkan pukul 07.00. Bagi kami pukul 07.00 adalah jam terlambat untuk hari pertama sekolah.
Aku bergegas berpamitan pada bunda ,"Bund, isyah kesekolah dulu yah doain semoga hari pertama isyah menyenangkan , assalamualaikum" Sembari meraih tangan Bunda untuk salaman."Yah, hati – hati dijalan, waalaikumsalam" jawab bunda. Cahaya matahari semakin meninggi , membuatku terburu – buru menaiki sepeda . Aku mengayuh dengan perlahan namun pasti , jaraknya masih ada sekitar satu kiloan . Tapi hari ini bukan waktunya untuk terburu – buru jelas hari ini harus dinikmati setiap detailnya .
Kali ini ku putuskan untuk mengayuh lambat – lambat saja , aku memerhatikan dengan jelas suasana jalan dan rumah – rumah yang kulalui . Meskipun terik matahari mulai terasa tapi udara sejuk masih tersisah untukku pagi ini . Tatkala ketika aku memerhatikan satu rumah kayu bercat warna biru, kulihat ada seorang anak perempuan yang tengah membersihkan sepatu baru miliknya , ia menggosoknya berkali – kali hingga terlihat begitu mengkilap. Ingatan masa kanak – kanak terbayang ketikah ayah membelikan sepatu baru untukku , satu pesan yang selalu sempat ia sampaikan " Ini sepatunya , jaga baik – baik jangan sampai dicuri sama tikus , ingat" . Karena kata – kata ayah yang bak ancaman untukku , sepatu itu lengkap saja kubawa tidur bersamaku , hiks kupikir dengan cara inilah bisa aman dari jangkauan sitikus pencuri.
Setelah beberapa saat berhenti , aku melanjutkan mengayuh . Kali ini kubuat lebih kencang lantaran sudah pukul 07.15 . Beberpa saat tak terasa sudah samapi saja . Sepedaku kuparkir rapi digaris terdepan , herannya hanya aku satu – satunya siswa yang berspeda ke sekolah . Aku kaget sekaligus keheranan melihat barisan – barisan motor berplak merah keluaran terbaru . Sesaat kuterdiam dan bertanya dalam hati ."Apakah aku tidak salah masuk sekolah?" . Aku berlari terpintal – pintal menuju gerbang kemudian menatap ketas membaca kop sekolah " SMA 1 Unggulan Bangsa" aku mengusap dadaku dan ternyata tidak salah.
Aku menelan berkali – kali , apapun yang ada didalam sana aku menguatkan dan mencoba memotivasi diri . Aku kembali masuk melalui gerbang yang sama . Entahlah tapi aku berfikir kembali mengingat hasil pengunguman pembagian kelas kemarin yang menempatkanku dikelas X KHUSUS rasa was – was menghantuiku , membayangkan situasi kelas dan teman – teman baru .
Langkahku kubuat perlahan , untuk lebih merasa rileks . Tapi toh ternyata selambat apapun langkahku kelas itu tetap sama saja dekatnya. Kakiku sekarang tepat berada didepan kelas. Aku mengetuk pintu berwarna abu – abu muda itu perlahan kemudian mengucapkan salam "Assalamu alaikum" kataku. Aku melangkah tanpa mendengar satupun balasan. Kelas bernuansa biru muda, perlatan kelas super bersih dan canggih. Membuatku takjub seketika , papan tulis putih bersih meja guru yang lengkap dengan mikrofon. Kulihat beberapa siswa perempuan , tapi seragamnya agak berbeda denganku , rok putih abu – abu setinggi lutut , baju putih agak jangkis rambut pendek sebahu dan sebuah jepitan pitah abu – abu . Hanya aku yang memakai jilbab . Seseorang diantaranya melangkah kearahku , mengulurkan sebuah pin pitah abu – abu berukuran sedang . " Nih, pakek pasang dijilbab kamu" katanya lalu berbalik menjauh dariku kembali duduk bersama kumpulan teman lainnya.
Aku memasang pitah abu –abu tadi tepat disebelah kanan . "Syukurlah ada yang peduli padaku" ucapku dalam hati . Setelah memasang pita itu aku melangkah menuju sebuah meja terdepan paling sudut .Meja terdepan adalah favoritku , disana kau bisa memerhatikan guru sedetail mungkin , mendengar dengan jelas pelajaran sangat asik bagiku. Jujur saja , perasaan rishi menghantuiku seketika melihat semua ini , yah mungkin karena belum terbiasa sama sekali.
Aku membuka perlahan buku diary kecil berwarna merah mudah, lagi. Buku ini khusus untuk menulis soal keseharian di sekolah.
"Dear Diary...
"Putih abu - abu? Langkah pertamaku canggung, bibirku ragu membagi senyum, mulutku kaku mengucap kata....tapi apakah kau tahu semangatku? semangatku masih sama sebab, mimpi dan harapn - harapan yang kubawa. Karena kepercayaan dan tekadku. Putih abu - abu kuharap aku tak lagi canggung menemuimu , sebab kau adalah dunia baruku....awal dari kisah perjuangan untuk masa depanku"-isyah
YOU ARE READING
LUSIN AISYAH
Teen Fiction"Hal yang tak pernah bisa dibeli , diminta dan direnggut adalah kesabaran" -lusinaisyah Bagaimana bisa ia mengahadapi bulian , cacian hanya karena namanya "Lus...
