E G O S E N T R I S

172 4 0
                                        

          Pernah merasa kesal karena gagal berkumpul dengan kawan ? pernah kesal karena batal nonton ? pernah kesal karena tidak di dengarkan ? atau pernah kesal karena hujan ? Pernah berprasangka buruk akibat kekesalanmu ? Aku pun begitu. Tapi coba telaah ulang, apakah pantas kita kesal dengan keadaan ? pernah berfikir bahwa teman yang akan melakukan aktivitas bersamamu sedang dalam masa sulit ? Tidak, kan ? kita hanya memanjakan ego, memikirkan kesenangan untuk diri kita sendiri. Merasa kebetulan ini tepat ? karena aku pun begitu.

          Obrolan bersama kawan menuntun kami menuju perbincangan akan rencana naik gunung, mendirikan tenda, dan mensyukuri ciptaan Tuhan, melihat mentari mengintip di pagi hari, dan melihat mentari bersalam ketika ia akan pergi. Malam dingin diguyur rintik hujan, aku mengambil ponsel dan membukanya, mengabari kawan, menanyakan perihal rencana kami, dan tiba-tiba saja semua rencana kami batal. Kecewa menghampiri, aku kesal dan melontarkan kalimat yang mungkin menyinggung beberapa kawan, beberapa mencoba mencairkan suasana. Tapi aku tidak lagi tertarik dengan perbincangan meraka. Aku memutuskan untuk tidur terlelap akibat lelah seharian mengantar ibu dan bapak yang akan bersiap melakukan umroh.

          Aku kesal, ketika mata akan terlelap, ponsel kembali berdering. Ah, mengganggu saja pikirku.

          " Antarkan aku besok ke kampus, jalan depan rumah sedang diperbaiki, aku gak bisa ngeluarin motor, bisa ?"

Begitu kira-kira isi pesan dari kawan. Mungkin karena perasaan kesal belum hilang, aku membalas dengan penolakan karena malas. Aku malah menjadi tidak bisa tidur, kali ini hati dan akal seolah berdamai bersekongkol mencoba berbisik membuat ku mengingat kembali dikala posisiku sedang sulit, motorku sedang dalam keadaan rusak, aku meninta kawan mengantarku ke kampus, bahkan ia rela menunggu tiga jam hingga perkuliahanku selesai. Apakah pantas, aku balas dengan penolakan ? Apakah aku seorang teman setia yang selalu ada dikala temannya sedang susah ? Ah, malam ini membuat hatiku diaduk-aduk.

          Mentari mulai mengintip dikala dingin mencekik. Aku masih saja kepikiran tentang seorang kawan. Kulihat ponsel, balasan terakhirnya.

          "Yasudah gpp, kalo emang gabisa"

Aku menghebuskan nafas. Begitu kurang-ajar diri ini hanya memanfaatkan kawan dikala aku membutuhkan, dan tak peduli dikala kawan kesulitan. Aku mulai menggerakkan jemari membalas pesan.

          "Ayo aku antar"

          Aku jadi terpikir, mungkin mereka yang membatalkan rencana kami untuk naik gunung sedang dalam keadaan sulit. Ketika ku ingat-ingat, jelas saja mereka membatalkan, ternyata mereka akan menghadapi sidang seminar. Sidang seminar merupakan sidang tentang progress 50% dari skripsi, begitu aturan di kampus kami. Ah, mengapa aku menjelma menjadi seseorang yang egosentris. Aku meminta maaf, dan syukurlah mereka mengerti. Aku terpikir mengapa temanku membatalkan nonton bersamaku, padahal keluarganya sedang jatuh lemah di rumah sakit. Begitu belangsaknya diri ini yang hanya memikirkan kebahagiaan sendiri. Bahkan aku mengira kawanku kesal, marah, karena balasan pesan darinya begitu dingin, hanya membalas secukupnya dan begitu singkat. Membuatku bingung tak karuan harus membalas apa, aku begitu menyayanginya, aku takut ia tak lagi tertarik akan balasan pesan dariku. Tapi lagi-lagi tebakanku salah, ia tetap ceria seperti sedia kala. Mungkin ia dingin karena lelah bekerja, atau mungkin sedang banyak pikiran tentang pekerjaannya yang begitu melelahkan berhadapan dengan klien yang sedang dalam pelatihan, bahkan mungkin ia sedang khawatir akan keponakannya yang jatuh lemah di rumah sakit. Ego memang selalu membawa kita dalam gelap, yang hanya dipenuhi keburukan.

          Ketika kita sedang kesal, kita tak pernah bisa berpikir jernih, kita hanya bisa melemparkan kesalahan pada mereka yang bahkan kita tak tahu mereka sedang dalam kondisi bagaimana, atau kita tak ingin tahu ?

          Ibu pernah berkata, tidak semua yang kita inginkan bisa kita wujudkan. Terkadang keadaan tidak memihak kita. Jangan kesal, hadapi dengan kepala dingin. Mungkin, Tuhan tengah menyiapkan sesuatu yang lebih menyenangkan, dan jika kita paksakan akan keadaan itu, mungkin tidak akan semenyenangkan yang kita pikir.

Maafkan aku

EgosentrisDonde viven las historias. Descúbrelo ahora