Pagi akan terasa bermakna jika kau sarapan dengan semua anggota keluarga. Tapi pagiku benar-benar seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada Appa dan Eomma. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka. Mungkin ini memang cerita mainstream yang sering kalian baca. Saat orangtua sibuk, anaknya akan merasa tertekan lalu pergi bersenang-senang.
Namun aku orang yang tidak terbuka dan aku tak memiliki teman seorang pun. Ini akan terasa lebih menyedihkan. Setiap hari aku hanya akan memutar musik di laptopku sepulang sekolah atau membaca novel. Dan bahkan aku tak punya internet friend. Isi katalk ku hanya percakapan singkat dengan Eomma dan Appa ketika aku benar-benar merindukan mereka.
Dan seperti biasa pagi ini mereka tak disini. Aku hanya memakan separuh sarapanku karena tidak bernafsu. Setelah itu aku berangkat ke sekolah diantar oleh Tuan Park, ahjussi yang sudah bekerja sebagai supir sejak aku masih di sekolah dasar.
"Nona Yoori mobilnya sudah siap." Ucap tuan Park sambil membuka pintu mobil. Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Butuh 10 menit untuk sampai ke sekolah. Untung saja masih 30 menit lagi sebelum bel berbunyi. Sekolahku cukup terkenal. Yap, isinya hanya orang-orang kaya.
Aku masuk ke kelas seperti biasa. Aku disambut keributan kelas yang membuatku jenuh. Aku menunggu 30 menit sambil mendengarkan musik dari earphone.
Aku menghentikan musik saat bel mulai berbunyi dan seorang guru masuk. Itu terlihat biasa saja, namun tidak saat seorang siswa-yang menurutku baru- mengikutinya di belakang.
Rambutnya panjang sebahu dan menurutku sangat cantik. Namun bahunya seperti laki-laki ditambah dia memang memakai seragam laki-laki.
Peraturan sekolah disini memang bisa dibantah selagi kau kaya. Aku fikir dia seorang perempuan tadinya.
"Dia murid baru di kelas ini. Silahkan perkenalkan dirimu." Kata guru itu. Anak itu mengangguk.
"Annyeonghaseyo. Namaku Yoon Jeonghan. Kalian bisa memanggilku Jeonghan." Jeonhan membungkuk sekali lalu tersenyum.
"Silahkan duduk Jeonghan di sebelah sana." Dimana lagi kalau bukan di sampingku. Hanya itu bangku kosong yang tersisa.
"Annyeong~" ia melambaikan tangan padaku. Aku mengangguk kikuk. Dia terlihat sangat ceria. Berbeda denganku yang pendiam.
"Hei... siapa namamu? Ayo berkenalan." Bisiknya saat pelajaran sedang diterangkan. Aku berusaha mengacuhkannya agar tidak menjadi perhatian kelas.
"Hei..." bisiknya lagi.
"Jeonghan. Kau bisa berkenalan dengannya nanti." Dugaanku benar. Jeonghan mengangguk dengan canggung lalu melanjutkan pembelajaran.
Bel istirahat terdengar dan para siswa mulai keluar untuk pergi ke kantin. Dan aku tidak punya waktu dan teman untuk pergi ke kantin. Biasanya aku membawa bekal makan siang.
"Annyeong~" sapa Jeonghan sambil meletakkan bekalnya di atas meja. Ternyata dia juga bawa bekal.
"Kenapa kau tidak pergi ke kantin?" Tanya Jeonghan retoris. Aku hanya melirik bekal yang kubawa lalu ia mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, ayo makan bersama." Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia seperti perempuan tetapi tetap manly.
Jeonghan meletakkan bekalnya di atas mejaku dan menggeser kursinya mendekat. Ia terdiam sebentar.
"Oh... jadi namamu Kim Yoori." Ternyata ia membaca nametag yang kupakai.
"Kau ini pendiam sekali." Jeonghan tampak sabar. Aku memang tidak banyak bicara. Dan menurutku semua perkataan Jeonghan tidak perlu dibalas.
Jeonghan membuka bekalnya dan kulihat ia membawa kimbap. Sedangkan aku membawa bibimbap galbi kesukaanku.
"Waah~ bibimbap galbi." Aku menawarkannya pada Jeonghan dengan menggeser kotak makanku ke arahnya.
"Boleh kuminta?" Aku mengangguk. Ia mengambil satu sendok dan memakannya. "Oh my god~" reaksinya berlebihan sekali.
"Sekali lagi? Yang terakhir. Aku janji."
"Makanlah." Ucapku. Jeonghan tercengang. "Kau baru saja berbicara padaku. Kata pertama yang kau ucapkan 'makanlah'. Apa kau bisa katakan Appa? Eomma?" Lucu sekali. Apa dia fikir aku bayi yang baru bisa bicara?
Jeonghan memakan satu sendok lagi lalu berpindah ke kimbap miliknya. Ia memberiku 2 potong kimbap dan meletakkannya di kotakku.
"Terima kasih." Ucapnya. Aku mengangguk dan mulai memakan bekalku bersama Jeonghan. Aku tidak banyak bicara. Hanya tertawa kecil saat Jeonghan melontarkan lelucon.
Setelah makan siang, Jeonghan masih duduk di bangkunya.
"Jeonghan, kau tidak mau keluar?" Pertanyaan bodoh ini meluncur begitu saja.
"Kau mau mengusirku?" Jeonghan menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya.
"Bukan. Kau kan siswa baru. Kau tidak mau mengenal sekolah ini?" Tanyaku. Aku sudah banyak bicara hari ini.
"Aku mau kalau kau yang jadi Tour Guide nya." Aku? Aku sangat jarang keluar kelas.
"Tapi... aku-" Jeonghan langsung menarikku keluar kelas. Dia membawaku ke taman belakang sekolah. "Waa~ disini indah sekali." Kata Jeonghan sambil melihat sekitar.
"Yoon Jeonghan!" Seseorang memanggil Jeonghan. Dia seorang laki-laki. Yang aku tau ia kapten basket sekolah.
>.<
Siapa kapten basketnya ya?
Saya suka bikin nyesek.
YOU ARE READING
Here
RomanceIni bukan cerita biasa yang selalu dimulai dengan kata "matahari bersinar di pagi hari". Warning. Author tidak suka unsur sakit hati. Jadi, selamat sakit hati. Comment and vote!
