Renan Albani

88 6 5
                                        

Masih bulan oktober, tapi serasa bulan desember. Hujan terus. Sepatu Alma basah berkali kali. Sudah 3 kali ganti dan sebanyak itu pula dia harus merasakan berendam dalam kolam kecil alias sepatunya sendiri. Tadi juga ujian mendadak dari bu Suk, guru ipa yang ampun-ampunan bawelnya macam tamagochi belum dikasih makan.

Srash.

Astaghfirullah.

Apaan barusan? Alma membeku seketika. Fix, habis ini dia kena damprat tantenya. Baju seragam yang baru dipakai sekali kena cipratan genangan kotor nan bau berkat mobil yang asal lewat. Padahal mau ujan segede pepes juga penumpang mobil itu gak kebasahan, gak kaya Alma yang harus nahan pasukan air pake tas.

Bener bener deh, heran Alma jadinya. Suka aneh sama kelakuan manusia zaman sekarang. Udah abad 21 tapi sopan santun suka gak diterapkan.

"Kok gue jadi kaya bu Suk sih? Ckckck".

Cklek.

Bugh.

Alma memegang kepalanya sambil menahan sakit. Ini kenapa lagi? Kenapa sih kena sial melulu dari tadi? Hari apa sih sekarang?. Sampai heran. Alma menatap pemandangan di hadapannya kaget.

"Anjir, kenapa ini...".
Alma bergegas ke dapur. Mencari tahu asal panci itu bisa melayang dan menimpa kepala Alma dengan mulus.

Drap. Drap. Drap.

Alma menatap sosok di dapur dengan pandangan sebal

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Alma menatap sosok di dapur dengan pandangan sebal. Benar. Orang itu Renan Albani. Yang melemparinya dengan panci. Untung tantenya sedang ke Jogja seminggu. Sedang apa pula Renan disini? Pelayan di rumahnya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Renan sekeluarga. Ngapain dia kemari mengacak-acak rumah orang?.

Drap. Drap. Drap.

Bugh.

"Aduuh!"

Renan membalikkan badannya lalu terkekeh saat melihat Alma. "Eh, Alma! Hehehe". Dasar gila. Malah ketawa gak jelas lagi ini manusia satu. Alma menatap sekeliling. Astaghfirullah. Dapur rumahnya. Bahkan rumah kosongpun jauh lebih baik dibanding keadaan dapurnya sekarang. Alma cuma bisa menepuk jidat frustasi.

Set.

Renan mengelus-elus pundak Alma sambil memasang wajah prihatin. Sialan. Alma sudah mau marah-marah aja sekarang. "Hey, Al, lo ga inget sekarang hari apa?". Alma menatap Renan sebal. Peduli apa dia sama hari. "Gak, dan gak mau tahu!". Renan diem lalu tertawa. Oke. Alma rasa Renan gila. Dia sudah frustasi mungkin ga bisa dapetin Jani, primadona SMA pemuda yang terkenal itu. Itu jadi pukulan terberat bagi Renan yang notabene seorang playboy kelas kakap mungkin. Renan bersandar di samping Alma, masih sambil menatap gadis itu. "Hari ini, ulang tahun gua".

Alma mendengus lalu diem. Kaget. ASTAGA!. Alma beneran gak inget sama sekali. Yaa Tuhan, pantesan. Kayanya Alma mau beli sesuatu tapi lupa apa yang mau dibeli. Ternyata kado buat Renan. Haduuh, repot nih urusannya. "Jahat banget sih lo, Al, gua kan nungguin kado dari cewe yang paling spesial buat gua", ucap Renan terdengar seperti merajuk, "Eh, cewe itu malah lupa, malang sekali nasibku ini". Alma menatap Renan jijik. Bisa-bisanya dia berakting begitu sekarang. Ampun deh Alma sama dia. Renan berdiri di depan Alma tiba-tiba, membuat Alma sedikit kaget.

"Apasih, Nan! Kaya cicak aja deh lo tiba-tiba pindah begitu!". Renan tersenyum sumringah. "Apa? Gue tau gue cantik, tapi gak usah senyum gitu liatinnya". Seketika senyum Renan langsung berubah kecut. Ditoyornya kepala Alma agak kencang. Dasar bocah. Gak bisa diajak serius dikit. "Ish, lo tuh gak bisa serius dikit apa? Gue jadi males ngomongnya dah sama lo". Alma terkekeh. "Iyaaiyaa, jangan ngambek atuh bang Renan hehehe". Alma menggelayut di lengan kiri Renan manja. Renan melirik sekilas. Huft.

"Gini, Al, gua niatnya mau ngajak lo ke dufan, udah lama kita gak jalan-jalan kan?", ucap Renan, "Ceritanya gua mau ngabisin waktu liburan gua yang AMAT SANGAT berharga sama orang yang AMAT SANGAT berharga juga". Alma tertawa. Kadang Renan bisa lucu juga kalo ngambek. Ini ulang tahun Renan yang ke 18. Ulang tahun ke 10 yang Renan lalui bersama Alma. "Idih, ngambekan dasar lo, Rence". Renan melotot mendengar Alma memanggilnya dengan sebutan Rence. Dilepaskannya pegangan Alma. "Ngeselin lo, kuntet!". Alma memukul lengan Renan. Nyebelin. Emang Alma sependek apa sampai dipanggil kuntet?.

"Jadi gak?". Alma menoleh. "Apa?". Renan menggaruk tengkuk. "Ke dufan..sama gua". Alma menghela napas panjang lalu tersenyum. "Okay". Renan melotot senang lalu menggendong Alma. "Huwaa!". Alma tertawa kemudian menyadari refleks bahagia Renan yang gak berubah. Asal angkat apapun atau siapapun yang ada di hadapannya.

"Ayo buruan ish!". Alma segera mengikuti Renan. Padahal belum ganti baju dia. Renan juga. Tapi yasudahlah. Hari ini hari bahagia Renan, jadi Alma akan menurut saja padanya. Lagipula apa yang bisa membuat Renan bahagia, juga bahagia bagi Alma.

Selalu begitu.


















Halooooo, semua!!!!
Aku baru bikin cerita, semoga aja kalian suka bacanya.
Kasih masukan dan kritik buat cerita ini biar bisa lebih bagus ke depannya. Makasihh, sampai jumpa di part selanjutnya!!
Annyeong!! :)))

KAPAN?Stories to obsess over. Discover now