0.1 Mengerikan

4.1K 123 86
                                        

Gedung Barat – Gudang Belakang SMP Cheongdam

"Akh! Sakit, Kak! Tolong... lepas..."

Erangan pilu itu memecah keheningan gudang tua yang pengap dan berdebu.

Park Sunghoon, sang pangeran berdarah dingin dari kelas Diamond VVIP, sama sekali tidak menunjukkan setitik pun rasa iba.

Dengan gerakan yang sangat tidak berperasaan, ia merenggut helai rambut Kim Juhoon, menjambaknya dengan tenaga penuh hingga kepala anak laki-laki itu mendongak paksa dengan posisi yang menyakitkan.

Ini adalah minggu ketiga belas. Tiga bulan lebih Juhoon harus merasakan bagaimana rasanya menjadi samsak hidup, menjadi sasaran empuk kemarahan dan kebosanan seorang Park Sunghoon yang tak tersentuh hukum.

"Hajar dia!" titah Sunghoon dengan nada angkuh yang mutlak, matanya berkilat menatap mangsanya yang tak berdaya.

Heeseung dan Jake yang berdiri di sampingnya sempat saling berpandangan ragu. Udara di gudang itu terasa berat, seolah oksigen pun enggan menjadi saksi atas kekejaman yang akan terjadi.

"Kau yakin Hoon?" tanya Jake dengan suara rendah, mencoba memastikan apakah mereka benar-benar harus melangkah sejauh itu hari ini.

Sunghoon memiringkan kepalanya sedikit, menatap mereka dengan tatapan meremehkan yang tajam. "Kalian mulai berani meragukanku?"

"Ti... tidak..." sahut mereka serentak dengan nada suara yang menciut.

Bugh!

Satu hantaman keras mendarat telak di ulu hati Juhoon. Anak laki-laki itu terbatuk hebat, tubuhnya yang kurus terjerembap ke lantai beton yang kotor dan dingin.

"Ampun, Kak... Akh... hng..." rintih Juhoon susah payah, suaranya terdengar parau karena menahan perih yang luar biasa.

Darah kental mulai merembes keluar dari sudut mulutnya, mengalir perlahan dari lubang hidung dan pelipisnya yang robek akibat benturan.

Di tengah pandangannya yang mulai memburam karena air mata dan rasa sakit, Juhoon bertanya-tanya dalam hati; apakah ini akhir dari hidupnya? Apakah ia akan mati di tempat kotor ini?

Namun, sebuah bayangan muncul di benaknya yang kalut. Wajah cantik kakaknya, Wonyoung. Senyum hangat kakaknya adalah satu-satunya alasan mengapa Juhoon masih sanggup bertahan dan ingin terus hidup. Tidak, dia tidak boleh menyerah sekarang. Dia masih ingin pulang ke apartemen mereka, melihat "pahlawannya" kembali setelah lelah bekerja.

"Apa... apa salahku, Kak? Akh!" tanya Juhoon dengan sisa tenaga yang ia miliki, mencoba mencari alasan di balik kebencian tanpa dasar ini.
Buk!

Alih-alih menjawab, Sunghoon justru melayangkan satu pukulan keras lagi ke wajah Juhoon. Sunghoon menghentikan gerakannya sejenak, napasnya tetap teratur seolah memukuli orang bukanlah hal yang melelahkan.

Matanya yang sedingin es melirik ke arah sebuah jerigen berisi bensin yang sudah ia siapkan di atas kepala Juhoon. Bau menyengat bahan bakar itu kini menusuk indra penciuman Juhoon, menciptakan teror mental yang jauh lebih mengerikan dari rasa sakit fisiknya.

Juhoon hanya bisa menunduk pasrah, membiarkan darah menetes dari dagunya ke lantai. Dia sudah benar-benar hancur, bersiap mendengarkan vonis gila apa pun yang akan diucapkan oleh pria di depannya.

"Salahmu?" Sunghoon menjeda kalimatnya, menikmati keputusasaan yang terpancar dari tubuh Juhoon yang bergetar hebat.

"Pertama, karena kau menyebalkan. Kedua, karena kau berani bertanya. Siram dia."

"Ampun, Kak! Aku mohon! Aku akan melakukan apa pun! Apa pun asalkan jangan sakiti aku lagi!" teriak Juhoon pecah.

Dia segera merangkak dengan payah dan bersujud tepat di kaki Sunghoon, mencium ujung sepatu Oxford buatan tangan yang mengkilap itu dengan air mata dan darah yang bercampur.

[ Sunghoon x Wonyoung ] The Bully Hierarchy 21+Stories to obsess over. Discover now