Dua gadis yang mengenakan seragam putih abu lengkap dengan atribut sekolahnya, dengan badge bertuliskan kelas XII-IPA 4, tengah duduk di balkon tepatnya di depan kelas mereka. Tak jarang mereka waktu kosong untuk berbincang-bincang disana. Dulu ketika mereka kelas XI tempat favorit yang dijadikan tempat yang pas untuk berbincang-bincang ialah balkon dekat ruangan Laboratorium Biologi. Namun, karena sekarang jarak kelas yang cukup jauh, menjadikan balkon depan kelas mereka tempat favorit kedua.
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa sekolah itu berhamburan keluar kelas menuju kantin. Tak jarang pula ada yang hanya berdiam dikelas sembari mendengarkan musik, membaca novel, dan bermain mobile legend game yang sedang booming baru-baru ini.
" Kantin yuk Dit!" Ajaknya sembari menarik lengan Dita.
" Emangnya lo bawa duit?"
Yang ditanya pun langsung merogoh saku bajunya kemudian menepuk jidat pelan. " Duh gua lupa ada di kantong, yaudah anter gua ke kelas dulu." Pintanya
Dita memutar bola mata malas.
Irma pun mengambil uang jajannya yang sering ia selipkan di samping kantong sekolahnya. Emang pada dasarnya ia jorok nyimpen duit aja sembarangan. Padahal Dita udah bawel banget ngasih tau biar nyimpen didompet atau didalam tas, tapi tetap saja omongan Dita tak pernah digubris.
" Udah nih, ayo Dit!" yang diajak pun hanya menganguk pasrah. Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin yang letaknya lumayan jauh dari kelas mereka.
Sesampainya dikantin mereka berdua lalu berhambur ke warung kecil untuk membeli makanan ringan.
" Semuanya jadi lima ribu, ini bu uangnya." Ujar dita sembari menyerahkan uang kertas dengan nominal sepuluh ribu.
" Ini Neng kembaliannya,"
" Makasih Bu," ujar Dita dibarengi senyum tipis. Lalu mereka beranjak kembali ke kelas.
" Eh eh Dit kok kita lewat sini sih!" dicekalnya tangan Dita,
" Ssst sst udah jangan berisik nanti juga lo tau Ma," bisiknya, " Yaudah ayo kita jalan!" titah Dita.
Setelah beberapa langkah berjalan. Tepat disamping mereka kelas XI-IPA 6, dilihatnya Dita sedang celingak-celinguk melihat ke dalam kelas tersebut. Irma mengerutkan dahinya. Ia baru sadar bahwa alasan Dita mengajaknya lewat sini untuk melihat adik kelas yang menjadi kecengannya.
" Oh ohh Dita lewat sini biar ketemu kecen-" Ujarnya dengan suara agak--sengaja- keras, belum sempat Irma menyelesaikan ucapannya sudah keburu dibekap oleh tangan Dita.
" Lo celembeng banget sih jadi orang, nanti kalo ketahuan gimana!" gerutunya lalu melepaskan bekapannya,
" Eungap nyaho Dit!" omel nya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
" Bongan saha!" timpal Dita.
" Yaudah deh maaf-maaf ngga bakalan lagi deh suer," dua jari Irma terangkat membentuk huruf 'V'.
" Nanti pulangnya gua traktir capcin deh atau apa terserah." bujuk Irma
" Emm boleh boleh, gua pengen lumpia basah yang ada dideket Universitas Telkom." ucapnya dengan semangat.
" Aelah kalo urusan makanan aja semangat lo!"
Dita pun hanya terkekeh pelan.
***
Disinilah mereka berada. Tempat yang hanya ada tempat duduk yang cukup untuk dua orang dan didepannya terdapat hamparan lapang sekolah yang cukup luas. Serta terlihat orang yang sedang berlalu lalang kesana kemari.
YOU ARE READING
You're Gone
Short StoryKisah ini diambil dari kisah nyata. Saya ingin dia tahu bahwa saya sangat membutuhkan dia Saya ingin dia tahu bahwa ternyata dia bagaikan udara dihidup saya Saya ingin dia tahu bahwa sangat sulit untuk berpura-pura tidak peduli terhadap dia Saya in...
