PROLOG

91 1 1
                                        

Risky memainkan kedua tangannya, sesekali dia akan mengepalnya kuat lalu merenggangkannya. Hal itu membuatnya rileks saat berhadapan dengan Isha.

Tidak ada yang menduga pertemuan itu akan terjadi, mengingat mereka sudah lama tidak menjalin komunikasi. Ini pertemuan mereka yang pertama setelah 3 tahun.

Risky menatap Isha, mengabsen setiap detail wajah wanita yang selalu dirindukannya itu.

"Tidak ada yang berubah, dia masih terlihat cantik dan menawan" gumamnya dalam hati sambil tersenyum penuh arti.

Rasa bahagia menyelimutinya saat ini, karena bisa bertemu dengan Isha. Namun, ada juga perasaan kesal dan marah yang mendatanginya.

Risky menatap mata Isha, yang dipandang membalas dengan tajam menyiratkan permusuhan.

Setengah jam berlalu tanpa kata, mereka masih membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kamu apa kabar?"

"Baik" jawab Isha singkat dan ketus

Pembicaraan terhenti, lalu Risky melanjutkan kembali. Dia berusaha mencari topik yang mampu mencairkan suasana.

"Aku turut bahagia mendengar kabar pernikahanmu akhir bulan ini" lanjut Risky.

"Hmmm" hanya suara deheman yang terdengar.

Isha memalingkan wajahnya dari Risky, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Hal itu membuat emosinya meningkat dan jantungnya berdetak lebih kencang. Suhu badannya meningkat dan tak bisa dipungkiri wajahnya memerah menahan marah.

"Aku akan menghadirinya. Terima kasih telah mengundangku" sambung Risky.

Mata Isha mulai berkaca-kaca, perasaannya campur aduk. Dia berdiri lalu memukul meja sekuat tenaga, dia sudah tidak bisa berpikiran jernih. Dia hanya ingin mengeluakan emosinya.

"Parrkkk" suara meja mengagetkan seisi cafe sehingga semua mata tertuju kepada mereka.

Risky kaget, spontan dia melihat ke arah Isha. Mata mereka bertemu, dia dapat melihat mata Isha yang berkaca-kaca dan air mata mulai berjatuhan.

Tidak ada suara, tetapi mata mereka seolah-olah telah berbicara. Isha memutus pandangan mereka, dia mengalihkannya dengan melihat ke arah lain. Lalu menekan dadanya sambil menarik napas beberapa kali, berusaha menormalkan detak jantungnya dan meredakan emosinya.

"Dasar pengecut" bentak Isha

Dari sekian banyak kata-kata yang ingin diutarakannya, hanya kalimat itu yang mampu dia katakan untuk menggambarkan perasaannya terhadap Risky.

Tanpa bisa dikontrol air matanya semakin deras. Secepat mungkin dia menghapus air matanya dengan tangan kanannya.

Risky menundukkan pandanganya, dia tidak sanggup menatap mata Isha terlalu lama. Sesekali dia melirik ke arah Isha dan mendapati jejak air mata itu semakin deras.

Ll Dia ingin berdiri lalu memeluk wanita di depannya, tetapi itu hanya angan-angannya. Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh itu.

Isha tidak tahu harus bagaimana, dia ingin sekali menghajar pria di depannya. Pria yang sudah menghancurkan hidup nyamannya dan menggantikannya dengan banyak teka-teki yang membuatnya harus menguras banyak energi. Dia sudah lelah mengahadapi semua yang berhubungan dengan Risky.

Isha duduk lalu menyembunyikan wajahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di atas meja.

"Aku lelah"

"Aku menyerah"

"Aku mencintaimu"

                     
***

Aku pandai berbohong, tetapi aku tidak pandai membohongi mu
Karena menatap matamu saja sudah membungkam semua kebohonganku

-Isha-

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Only HopeStories to obsess over. Discover now