Di balik balkon setinggi pinggang orang dewasa itu, Irene menyandarkan perutnya yang rata. Siswi kelas 3 itu berada di lantai dua SMA Pahlawan. Dia berkulit putih pucat, berambut panjang dan selalu dikucir kuda. Dia sendirian, memandang laki-laki tinggi berkulit kecoklatan yang sedang bermain basket di lapangan. Kedua tangan Irene terlipat di atas balkon, membuang napas.
Sudah hampir tiga tahun, Irene seringkali memandang laki-laki itu. Namanya Aliandra, namun Irene senang memanggilnya dengan nama Ali. Irene membuang napas lagi. Sebenarnya baru sekali Ali mengajaknya bicara. Itu pun dua tahun lalu saat mereka berdua masih sekelas, saat Ali meminta selembar kertas padanya.
Irene masih sangat mengingat kejadian itu. Ali yang duduk di bangku hadapannya, berbalik dan berkata, “Boleh bagi kertas, nggak?”
Kemudian dengan sedikit gugup, Irene menyobek kertas dari bukunya dengan rapi, kemudian memberikannya pada Ali. Lalu Ali berkata, “Makasih.”
Itu saja.
Beranjak ke kelas 2, ternyata mereka tidak sekelas, walaupun sama-sama masuk jurusan IPA. Sejak saat itu, mereka tidak pernah berbicara lagi.
Meskipun begitu, Irene masih menyukainya hingga sekarang.
Selain percakapan itu, Irene juga masih sangat ingat satu kejadian lain bersama Ali.
Satu bulan sejak mereka menjadi siswa baru SMA Pahlawan, seperti biasa, Ali mulai sering bermain basket dengan teman-teman sekelasnya yang baru.
Saat itu sedang jeda pelajaran olahraga, dan Irene sedang duduk beristirahat bersama salah satu temannya, Hilde, di pinggir lapangan.
Mereka berdua sedang asyik mengobrol. Sampai-sampai, Irene tidak sadar sebuah bola basket sedang melayang ke arahnya, hingga banyak orang yang berteriak padanya untuk segera pergi. Akan tetapi, tepat sebelum bola itu mengenai wajah Irene, seorang laki-laki melompat dari sisi kanannya hingga jatuh jauh ke sisi kirinya.
“Ndra, lo nggak pa-pa?”
Sontak hampir seluruh siswa mengerubungi Aliandra yang ternyata terluka hingga mengeluarkan darah, akibat gesekan tanah saat dia jatuh tadi.
Pak Haryanto selaku guru olahraga langsung memerintahkan seluruh siswa untuk masuk kelas, sementara Ali dia bopong menuju Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Sejak kejadian itu, Irene ingin sekali berbicara dengan Ali, berterima kasih padanya. Namun Irene memiliki sifat pemalu. Dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung, namun Ali selalu dikerubungi teman-temannya. Selain jago bermain basket, Ali juga dikenal baik oleh semua orang. Itulah sebabnya banyak yang ingin menjadi temannya.
Irene pun semakin merasa minder.
Irene tidak pernah melupakan dua kejadian itu. Dia juga tidak mau banyak berharap. Mungkin Ali bahkan tidak tahu namanya. Melihat teman-temannya, Irene semakin merasa kalau Ali semakin jauh untuk diraih.
Beberapa lama kemudian, tidak terasa bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Irene dan seluruh siswa yang ada di luar kelas segera masuk ke kelas masing-masing, termasuk Ali dan teman-temannya.
***
Siang itu, Irene melakukan kebiasaannya lagi. Bersandar di balkon sambil memandang permainan basket di lapangan. Akan tetapi, dia heran, kali ini, yang bermain basket bukan siswa kelas 3, melainkan siswa kelas 1. Ali pun tidak ada dalam grup yang sedang bermain basket itu.
Irene sempat celingak-celinguk, berdinjit, mencari-cari sosok pemain basket favoritnya itu di lorong-lorong lantai bawah. Mungkin dia sedang di kantin. Atau bahkan sedang absen masuk sekolah hari ini.
Berbagai macam kemungkinan tersebut terngiang-ngiang di kepala Irene, sampai sebuah suara yang begitu dikenalnya menyapanya dari belakang. Tanpa menerka-nerka, Irene langsung berbalik, kemudian terkejut bukan kepalang.
“Irene, kan?”
Ali sedang berdiri di sampingnya, memandangnya dengan kedua alis yang dinaikkan. Irene benar-benar tidak percaya, orang yang dia cari ternyata ada di sebelahnya sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senior High School
Short StoryKumpulan cerita jika duka di bangku SMA. Dikutip dari berbagai sumber
