"panglima segeralah berbegas ke dewan istana, baginda berencana melakukan serangan menuju kota Sin" ucap salah satu pasukan yang berlali menuju sang panglima.
Tanpa basa basi lagi, panglima Ghadi menuju istana dengan kudanya yang ia pacu cukup kencang. sesampainya di gerbang istana, beberapa pasukan berniat menghadang langkah kuda sang panglima. panglima Ghadi yang telah menduga penghadangan itu dari awal, telah siap dengan persenjataan lengkap. Dengan keahlian bertempurnya, tak ada satupun pasukan yang berhasil mengahadang sang panglima menuju dewan istana.
"paduka" sapa panglima Ghadi memberikan hormat pada baginda raja.
Mata panglima itu tertuju ke sekeliling istana yang di penuhi para pejabat serakah yang sama sekali tak mengetahui betapa mengerikannya dampak dari sebuah peperangan itu.
"mohon paduka pikirkan kembali rencana penyerangan kota Sin itu" ucap panglima tergesa-gesa.
Sayangnya perkataan panglima itu mendapat respon negatif dari para pejabat se isi istana dewan, dan di dukung pula olah sang raja yang telah termakan hasutan para pejabat itu.
"keputusanku telah bulat, apakah kau takut hai panglima ku?"
perkataan sang raja itu membuat jantung sang panglima berdetak kencang, penuh kemarahan, namun ia tak berdaya di bawah kekuasaan sang raja dan kesetiaannya pada kota Sinigaram.
"tapi paduka"
"cukup, pimpinlah pasukan untuk menyerang kota Sin, andai kau menolah, aku sendiri yang akan memimpin pasukanku" tegas sang raja.
"mohon maafkan atas kelancanganku paduka, hamba siap memimpin pasukan menuju kota Sin, dan hamba janjikan kemenangan besar akan kita dapatkan" perkataan terakhir panglima Ghadi sebelum meninggalkan istana dewan.
satu langkah sebelum kakinya menginjak pintu keluar, satu teknik sihir kecil di titipkannya di ruangan itu, dan seketika setelah sang panglima meninggalkan ruangan istana, seluru pejabat seisi ruangan terjatuh dan mengalami luka dalam hingga memuntahkan darah dari mulut mereka. ruangan dewan menjadi kacau hanya baginda raja saja yang tetap berdiri di rungan itu penuh rasa bingang.
***
SATU HARI KEMUDIAN, hampir dari seluruh pasukan Sinigaram di bawah pimpinan panglima Ghadi mulai bergerak manuju kota Sin. Jumlah pasukan yang sangat besar.
Sementara itu di kota Sin telah lebih dahulu terjadi peperangan, kerajaan Efy di bawah pimpinan jenderal Arzu berhasil menguasai kota Sin. Merebutnya dari kerajaan Naqra Khuzak.
Jenderal Arzu yang mendengan kabar tentang pergerakan pasukan Sinigaram kembali mempersiapkan bala tentaranya dalam kondisi siap tempur. Dan mengirim beberapa pasukan pengintai menuju ibu kota untuk meminta bala bantuan.
Jenderal Arzu adalah tangan kanan langsung dari Kapten Khusus Lanci Garcia, salah satu orang terkuat di kerajaan Efy.
Garcia adalah pimpinan pasukan khusus yang langsung berada di bawah naungan raja, walaupun panglima tertinggi kerajaan Efy ada di tangan Grayxcul, namun pasukan Garcia memiliki otoriter sendiri, pasukan yang di beri kebebasan khusus tanpa harus menunggu perintah dari panglima ataupun raja.
***
Di kem pasukan Sinigaram.
"mengapa pasukan Efy memasuki wilayah jalur selatan? bukankah panglima mereka memutuskan menyerang wilayah Ahdi?" tanya panglima di ruang penyusunan strategi perang.
"mohon ampun tuang panglima, pasukan yang menyerang kota Sin, bukan berasal dari pasukan panglima mereka, melainkan pasukan khusus langsung dari kerajaan Efy" jawab Khirhan pimpinan pasukan pengintai.
"bagaimana mungkin ada 2 pasukan yang begitu besar dari satu kerajaan seperti ini?" panglima Ghadi menggempal tangannya geram.
"berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk meruntuhkan benteng Sin?" kembali tanya panglima.
"benteng Sin tak memiliki pertahanan yang kuat, cukup pasukan khusus kita yang maju, hanya butuh kurang lebuh 6 jam untuk menjebol pertahanan benteng. namun yang menjadi masalah, kita belum mengetehui seberapa besar ketangguhan pasukan Efy" jawab Wanyodi alhi strategi pasukan Sinigaram.
"benar Tuan, pasukan mereka berada di bawah komando Lenci Garcia pimpinan pasukan khusus Efy, hanya itu data yang kita miliki saat ini" jawab Khirhan menyambungkan penjelasan Wanyodi.
"Lenci Garcia,,, saya mengenal orang ini" ucap panglima dengan tangan memegang janggutnya seperti memikirkan sesuatu.
Sesaat kemudian, Sang panglima membubarkan pertemua tanpa menghasilkan satupun strategi perang, sementara penyerangan akan di laksanakan dalam 3 hari kedepan. para pemimpin pasukan keluar dari ruangan dengan membawa rasa bingung.
***
YOU ARE READING
EFY The Legendary Kingdom 2 (Sinigaram)
FantasyPerang saudara yang tak berhenti, memberikan kehancuran yang hebat. 27 hari pertempuran tiada henti di kota Sinigaram, merubah warna kota menjadi merah kental berbau busuk dari bangkai para pasukan yang gugur berjatuhan di tanah perperangan. Wajah...
