Puisiku terbuat dari embun pagi di lereng bukit. Dingin dan sedikit basah, menempel pada kulit-kulit petani kopi nun terseduh dengan daki-daki yang ada di telapak kaki.
Mari kita mengheningkan waktu sejenak. Menjelajahi masa lalu. Menyelam bersama petikan-petikan gitar yang sendu, sembari menerka apa yang ada dibalik sang petikan.
Mayor dan Minor memiliki watak dan sifat yang bertolak belakang. Sedikit kecupan lembut dari jemari, mendamaikan nada-nada yang bermusuhan. Kayu itu bernyanyi atas perintah sang jemari. Riuh debu-debu berjatuhan dari atas lemari yang ada disudut kamar. Kian menggelitik bulu hidungku.
"Hatchiiim!!!!!"
Ah, sial. Lagi-lagi aku kalah dengan masa lalu. Pukul berapa sekarang ? Aku harus memanen kopi sebelum hadir daki di telapak kaki.
- @bersajak__
