Chapter 1 ~ Dokter?
.
.
.
Clack clack
Tetes hujan perlahan turun membasahi jalanan kota Seoul. Matahari sudah surut dan kini mempersilahkan malam menggantikan singgasananya. Tapi seisi kota seolah olah tak pernah tidur meski langit sudah berganti menjadi hitam pekat dan bersahabat dengan kelamnya malam.
Seorang gadis bersurai panjang dengan mengenakan dress berwarna pastel coral yang mengekspos bagian bahunya dan high heels dengan warna senada tengah berlari kecil menghindar dari serbuan hujan yang perlahan turun semakin deras.
Ia pun menepi di sebuah lobi rumah sakit bernama Son Chaeri Hospital sambil sesekali mengibas ngibaskan dressnya dari bulir bulir air hujan yang singgah pada permukaan kain merah muda itu.
"Aigoo, padahal ini kan dress kesukaanku kenapa harus terkena hujan seperti ini." Keluhnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Terdengar langkah kesibukkan di setiap sudut ruangan rumah sakit besar tersebut, namun gadis itu nampaknya tak terlalu perduli. Langkahnya sedikit terburu buru menaiki lift hingga ia sampai pada sebuah ruangan yang jauh lebih sunyi dibandingkan saat ia berada di luar ruangan.
Tangan nya dengan gesit melepaskan high heels dan menyimpannya pada rak sepatu putih dengan guratan khas Eropa itu di pinggir pintu masuk. Kini kakinya beralih mengenakan sandal rumah sakit berwarna biru muda. "Aish di luar sangat dingin." Gadis itu mulai menggigil sambil memeluk tubuhnya sendiri dan sesekali mengusapkan kedua tangannya menyalurkan kehangatan di sana.
Ia berinisiatif menyeduh secangkir kopi panas dan sekarang, ia meminum kopi itu sambil menghadap ke luar jendela transparan yang menampilkan pemandangan malam kota Seoul yang tengah di guyur hujan. Ia bisa melihat seluruh bangunan kota dari kaca transparan di lantai 4 tersebut. Dan gadis itu bahkan sengaja membuka kaca jendelanya sehingga angin perlahan masuk ke dalam ruangan sunyi itu. Sambil sesekali menyesap kopi nya, ia sekarang tak merasa kedinginan karena bahunya yang terekspos tadi sudah dilindungi selimut darurat yang banyak tersedia di lemari pakaiannya.
손 . 의사 (Dokter Son) begitulah sebuah papan nama yang diletakkan di atas meja kerja gadis bernama Son Seungwan itu. Ia mungkin tengah menikmati hidupnya saat ini, menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di Korea pada usia yang masih muda. Ah tidak, bahkan Rumah Sakit itu adalah milik ayahnya, Dr. Prof. Son Ji Hwan.
Berlatar belakang keluarga berpendidikan, memiliki paras yang cantik, fasih berbahasa inggris dan bukannya aku membanggakan Son Seungwan tapi nyatanya ia memiliki pribadi yang tulus juga. Jadi siapa sangka? Gadis ini menjadi idaman banyak pria di sana.
Tapi sayang, ia memiliki trauma yang cukup melukai hatinya hingga sekarang. Membuat gadis itu enggan memberikan ruang di hatinya untuk seorang pria manapun saat ini.
"Aku suka angin." Gumamnya saat segelintir angin menerpa wajahnya. Ia berpikir angin selalu membuat hatinya damai. Tapi tidak sekarang, nyatanya angin datang dengan hujan deras sehingga Seungwan buru buru menyimpan kopinya dan menutup jendela itu. "Aku suka datangnya angin, tapi tidak saat datangnya bersama hujan, itu membuatku kedinginan." Seungwan bermonolog sambil bergidik kedinginan.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu tapi Seungwan tidak mau repot repot menyapa atau bahkan sekedar membalikkan badan untuk melihat siapa yang telah mengganggu kedamaiannya saat ini. "Masuk!" Titah gadis itu masih dengan tubuhnya yang membelakangi.
"Maaf mengganggu Wendy~ssi, tapi nyonya--" kata kata seorang pria berjas putih itu tercekat, wajahnya seperti ketakutan namun akhirnya bergantian kini Wendy, nama yang familiar untuk panggilan Seungwan itu pun menjatuhkan selimutnya ke sembarang arah dan secepat kilat ia meraih jas putihnya yang digantung pada handle kursi besarnya. Ia bergegas mengenakan jas putih khas para dokter dan berjalan tergesa gesa layaknya ada pasien yang keadaannya sangat darurat. Sementara pria yang notabenenya adalah Dokter Oh Sehun tadi mengekor Wendy dari belakang.
Brakk
Wendy membuka pintu kamar pasien dengan tidak sabaran. Ruangan itu sangat besar yang diperkirakan adalah kamar VIP. Dan terlihat para dokter bersama asisten nya sedang kewalahan menangani wanita paruh baya yang tubuhnya mengalami gejala aritmia atau irama jantung yang tidak teratur. Seorang dokter pria sudah bersiap menggunakan alat Defibrilator untuk menormalkan irama jantung wanita tadi. Tapi Wendy dengan cepat mencegah pria itu. "Tolong ambil suntikan neutrophil!" dengan sigap seorang suster mengambilkan apa yang Wendy minta.
Tick tick
Wendy menyentil ujung jarum suntikan sebanyak 2 kali dengan cepat bahkan wajahnya sudah sangat khawatir, pelipisnya sesekali mengeluarkan keringat degup jantungnya pun perlahan berdetak tak karuan.
Takut kehilangan, perasaan itulah yang sering kali muncul dalam benaknya ketika kejadian seperti ini terulang kembali. Tapi ia sudah terlatih untuk tetap santai dalam menghadapi situasi ini. Dan kemudian ia menyuntikan benda tajam itu pada lengan wanita tadi.
"Kumohon bekerjalah,." Wendy memohon sambil melihat dengan cemas pada layar monitor yang mendeteksi gejala gejala yang dialami sang pasien. Dan perasaannya kembali lega setelah melihat tanda tanda yang baik perlahan muncul pada tubuh pasien.
"Huh.. huh, syukurlah" ucapnya sedikit gemetar sambil sesekali membuang nafasnya kasar. Seolah olah ia baru saja berlari marathon.
Sementara dokter Oh Sehun, memperhatikan sang pasien dan dokter penyelamatnya yaitu Son Wendy dengan kagum. Begitupun suster di sana dan dokter pendamping yang sempat mengambil alih control pasien tadi pun kini menepuk pundak Wendy.
"Kau berhasil menyelamatkannya lagi dokter Son." Ucapnya lembut dengan senyum yang mengembang. "Nde.. kamsahamnida dokter Park, sudah mengontrol beliau selama aku tidak ada." Ucap Wendy sangat berterimakasih pada pria jangkung di sampingnya.
"Berterimakasihlah pada Sehun, kalau saja ia terlambat memberitahu mu. Maka beliau akan--" Dokter Park Chanyeol tak melanjutkan perkataannya.
"Kamsahamnida Dokter Oh." Sambung Wendy cepat sambil membungkuk 90° pada dokter Oh Sehun.
"Kalau begitu aku permisi keluar nona." Kata Chanyeol sambil berlalu dari ruangan itu diikuti para susternya dan tentu Oh Sehun di belakang menyisakan Wendy sendirian bersama sang pasien di kamar besar itu.
Kini Wendy beralih mengambil kursi dan duduk tepat di samping ranjang. Emosinya seakan meluap dan berkumpul menjadi satu ketika wanita di hadapannya terkulai lemah seperti ini.
"Eomma,. Kenapa dari dulu kau selalu jahat padaku? Hiks.. kau menyiksaku eomma." Keluhnya sambil tertunduk dan meremas jas putihnya.
Tes tes
Air matanya sudah keluar dan menetes perlahan pada kedua punggung tangannya yang terkepal kuat. Seakan tak sanggup mengeluarkan setiap kata yang ia pendam selama bertahun tahun ini. Ia memilih diam dalam tangisnya.
Whoos!!
Angin kencang yang berhembus membuat hati Wendy seakan tenang dan perlahan terbawa akan suasana damai yang dibawa oleh angin itu.
Tapi siapa sangka dibalik pintu ternyata berdiri seorang pria berjas putih yang sama seperti Wendy dan pria itu sedang mengayunkan jemarinya perlahan di udara dan bersamaan dengan gerakan itu ia membawa angin dan kedamaian merasuk ke dalam kamar pasien tersebut.
Kau selalu bilang, angin membawa kedamaian untukmu. Tapi kau harus tau, hanya angin yang kubawa untukmu yang bisa membuatmu damai. Hati kecil pria itu bermonolog sambil masih memainkan jemarinya di udara.
Sementara Wendy masih menikmati deruan angin ringan yang menerpa pori pori kulitnya.
Siapapun yang sudah mendatangkan angin ini, aku sangat berterima kasih dan aku yakin, kau orang yang sama yang selalu mendatangkan angin beserta kedamaian di dalamnya. Kumaopta. Batin Wendy
~To Be Continued~
YOU ARE READING
Puissance [Wensoo]
FantasyPuissance diambil dari bahasa Prancis yang berarti kekuatan. Dua belas pria tampan ini memiliki jati diri masing-masing. Entah kekuatannya akan digunakan untuk melindungi atau malah merusak? Siapkah kau bertemu kekuatan Hydrokinesis dan yang lainnya...
![Puissance [Wensoo]](https://img.wattpad.com/cover/129339861-64-k479819.jpg)