Aku selalu bermimpi tentang kita
Kau dan aku merajut cinta, tertulis dalam sebuah sejarah
Kita berdua terus bersama, abadi sepanjang cerita
Aku menyukaimu lebih dari yang kautahu
Lebih luas daripada bentangan langit biru
Tiada batasan bagi kita untuk bersatu.
Lagu ini tentang dirimu
Aku harap kau suka, meski tulisanku sederhana
Dan, kepada seseorang – siapa pun – yang menemukan dan membaca surat ini, sampaikan padanya bahwa aku;
masih rindu
masih ingin bersamanya
masih ingin memeluknya tanpa kata lelah
Aku merindukanmu, Fabian
Selalu merindu...
"Agnes!"
Kepalaku tertoleh ke belakang. Melihat Stephan datang mendekat.
Memperhatikan sosoknya yang teramat memesona. Tubuh tegap sempurna dengan kulit gelap tertimpa siluet senja, riak rambut hitam legam layaknya langit malam, dan sepasang bola mata yang kerap merontokkan segala beban dan penat yang bertumpu pada punggungku.
Stephan. Lelaki yang kupilih menjadi teman hidupku.
Dia menatapku dan bertanya, "Sebentar lagi malam akan naik. Apakah kau sudah mau pulang?" Hangat tatapannya masih terasa sama seperti kali pertama kami berjumpa. Selalu saja mampu membuatku terdiam dan membatu.
Perlahan, aku mendesis, "Beri aku waktu sesaat..."
Stephan mendesah, tahu bahwa aku sama sekali tak berkeinginan memenuhi permintaannya. Aku sendiri masih betah menghabiskan waktuku di sini. Melamun sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pantai, menyaksikan gulungan ombak hitam yang asyik beratraksi meski langit telah menyublim menjadi hitam.
"Pulanglah, aku akan segera menemuimu di mobil," ujarku sekali lagi, begitu berharap agar dia bersedia membiarkanku seorang diri walau hanya sesaat.
Stephan menancapkan ujung mata papan seluncurnya ke undakan pasir pantai. "Kau yakin tidak ingin memintaku untuk menunggu?"
Tidak. Bukan itu yang aku mau. Betapa pun kau memohon kepadaku untuk menanti, aku tetap tidak akan mengizinkanmu, Stephan... Aku hanya sedang ingin sendiri.
Aku menggelengkan kepala mantap. Hanya itu saja yang bisa kuberikan.
Namun, Stephan tersenyum. Dia tidak memaksa permintaannya untuk kesekian kali. Karena dia benar-benar tahu, aku memang tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Dia membalikkan tubuhnya, berancang-ancang mengambil langkah dan meninggalkan tempat ini. Punggung indah yang dihinggapi bercak-bercak air laut itu mulai menjauh. Tapi, tidak terlalu jauh hingga rasanya jarak kami masih begitu dekat untuk dapat kucapai.
Sesaat setelah dia berlalu, aku pun membuka penutup botol Vitamin Water-ku. Mengibaskannya berkali-kali hanya untuk memastikan tidak ada lagi air yang tersisa sebelum aku menyisipkan gulungan kertas ke dalam perut botol.
Mataku menghangat. Rasanya aku ingin menangis ketika pikiranku ikut terlempar lagi ke dalam momen-momen berharga itu. Terkenang pada segenap episode yang pernah kuhabiskan bersama Fabian di Prancis, berderai tawa kala kami saling bercerita hal jenaka di bawah pohon Oak yang rindang sambil menikmati dendang gitar yang dia mainkan, terharu saat dia memintaku mendengarkan lagu di pemutar musiknya di pinggir pantai Côte Sauvage, menangis ketika kusaksikan dirinya terluka akan kekejamanku di hari itu – hari di mana dia mengorbankan segalanya demi kebahagiaanku.
Dan saat aku tua nanti pun, aku tak ingin kenangan itu melapuk, Fabian... Rasanya terlalu berharga untuk kuabaikan dari ingatanku. Jadi kupikir, mungkin aku akan terus menjaga cerita-cerita itu sebaik mungkin, selagi aku bisa.
Aku menghela napas dalam-dalam, memungut serpihan tenaga sebelum kuayunkan botol plastik ini dalam hitungan ketiga. Masih belum sanggup mengikhlaskannya terseret dibawa ombak hingga ke ujung lautan.
Tapi, apa boleh buat? Aku memang harus menghanyutkannya. Aku harus membiarkan ia pergi, membawa doa-doa yang terkubur di dalam botol itu. Tak peduli ke mana ia akan bermuara dan siapa yang akan menemukannya, yang kutahu hanyalah; ini akan menjadi botol terakhir yang kuhadiahkan kepada lautan. Karena setelah ini, aku meyakini di dalam hati bahwa waktu pasti akan membawa dia kembali.
Kelak. Suatu hari nanti.
Kini, aku berbalik, melesatkan pandanganku ke sekitar. Berusaha menemukan sosok Stephan di antara kerumunan orang dan para turis yang masih berada di pesisir pantai. Dan teramat bahagia ketika mataku berhasil menangkap wujudnya yang berjarak 50 meter dari tempatku berdiri. Dia sedang berjalan seorang diri, hendak meninggalkan kawasan pantai Broadstairs ini.
Maka, aku pun lekas berlari dan mengejarnya sambil berteriak, "Tunggu aku, Babe!!!"
Stephan menoleh. Melemparkan senyum dan bersiaga menyambut pelukanku pada detik berikutnya.
Broadstairs Beach, Kent, June 2013
YOU ARE READING
Secrète - Saat Cinta Tak Lagi Setia
RomanceSejauh ini aku hanya tahu Segalanya akan menjadi lebih indah jika kau dan aku bersatu Tanpa ada dia maupun orang lain Biarkan saja kita berdua sama-sama jatuh cinta Tapi kemudian, jalan kita tak lagi bersisian Kita berseberangan Kau lebih memilih be...
