Bag. Satu

9 1 0
                                        

Author

"HEH BOCAH. KALO JALAN TUH PAKE MATA! LIAT TUH BUKU GUE JADI BASAH. EMANGNYA LO MAU GANTI?" Bentak Kate lumayan keras kepada seorang anak SMP di depannya. Anak SMP itu hanya menunduk ketakutan dan mulai mengeluarkan air mata.

"Ma-maaf kak, aku gak sengaja. Tadi aku buru-buru jalannya karena ibuku lagi sakit, tapi gak sengaja nabrak kakak" jelas anak SMP itu sambil sesenggukan.

"Bodo amat. Gue gak butuh penjelasan lu. Lagian lu udah smp tapi kok cengeng sih? Gue gak ngapa-ngapain juga! Apus tuh air mata! Bikin orang-orang ngira kalau gue itu udah jahatin lu tau gak!" Perintah Kate dengan suara yang sedikit pelan, agar tidak terdengar oleh orang-orang yang memerhatikan mereka sedari tadi.

"Yaudah. Lu gak usah ganti bukunya. Balik sana!" Omel Kate. Omelan yang terakhir untuk anak SMP itu, mungkin.

Anak itu mengangguk dan segera pergi meninggalkan Kate yang menatap sedih ke arah bukunya yang terkena genangan air. Yah, padahal gue baru beli, eh udah rusak. Mana itu mahal lagi. Kate mengambil buku itu dengan dua jari, karena tidak ingin tangannya terkena air yang kotor itu. Masa dibuang sih? Gak tega banget. Kate menghela nafas, lalu menuju tempat sampah terdekat dan membuang buku itu. Dadah buku, nanti kapan-kapan aku beli lagi deh.

Saat ini ia sedang berada di depan sebuah book store. Rencananya, ia ingin membeli sebuah novel favoritnya, namun belum sempat dibaca buku itu sudah rusak duluan karena terjatuh saat ia ditabrak oleh anak SMP tadi. Mungkin belum rezeki.

Akhirnya ia pulang dengan wajah sedikit sedih tapi bisa ditutup dengan wajah dinginnya. Ia kembali berjalan menuju rumahnya yang lumayan dekat dengan book store tadi. Banyak pasang mata yang melihatnya, Kate tahu itu. Ada segerombolan perempuan yang menatapnya dengan rasa iri, ada seorang lelaki seumuran Kate yang berjalan berlawanan dengan Kate memandangnya tanpa berkedip, sehingga tidak sadar ia akan tertabrak tiang. Kate kadang senang ia mempunyai paras yang cantik dan tubuh yang indah, karena ia merasa mudah untuk mencari korban pelampiasannya. Namun kadang juga ia tidak suka dengan penampilannya karena Deka merasa rendah diri, dan Kate tak suka itu. Kate tidak suka membeda-bedakan antara dia dengan Deka. Hanya Deka. Garis bawahi itu.

Ponsel Kate berdering, tanda panggilan masuk. Kate segera mengambilnya dari saku celananya dan langsung mengangkatnya, karena tahu orang yang menelepon dia hanya Deka.

"Apa?" Kate memulai pembicaraan dengan kata itu, bukan dengan kata 'Halo'. Karena menurutnya, itu membuang waktu karena tidak penting. Namanya juga cewek dingin.

"Kate, where are you?" Tanya Deka di seberang telpon.

"Gausah sok-sokan pake bahasa inggris, gue lagi di toko buku biasa." Jawab Kate, dengan ketus tentunya.

"Kan mau belajar ngomong bahasa inggris, hehe. Oh iya, temenin gue ke cafe yuk. Ada someone yang mau ketemu gue." Ajak Deka sumringah.

"Siapa?" Tanya Kate sembari mengangkat satu alisnya.

"Ada deh. Yaudah makanya temenin gue" jawab Deka yang sudah Kate tebak sedang senyum-senyum sendiri.

"Yang nanya" balas Kate.

"Isss kebiasaan. Cepetan ke cafe yang deket rumah lu. 10 menit nyampe. Gue tunggu!" Perintah Deka lalu tak lama sambungan diputus sepihak.

Kate menatap handphone nya, ni orang nyuruh nih ceritanya? Kate mengangguk pasrah, dan segera menuju ke tempat dimana Deka berada.

***

"Gue jadi obat nyamuk nih?" Kate mendengus kesal dan menatap Deka yang menyengir dan beralih kepada seorang lelaki di depannya. Ternyata lelaki itu adalah Alex, ttm-an Deka. Dan menurut Kate, alasan Alex mengajak Deka bertemu mungkin akan mengutarakan isi hatinya kepada Deka dan menembak Deka.

"Hehe. Maaf, Kate." Sahut Deka, masih menyengir, mungkin merasa bersalah. "Yaudah, gue pindah ke meja yang lain aja. Gue tungguin lo sampe selesai." Usul Kate. Ia menatap Deka yang terdiam sebentar. Lalu mengangguk. "Gue traktir hot chocolate deh." Ucap Deka tersenyum dan Kate mengangguk, lalu menuju ke sebuah meja kosong tak jauh dari tempat Deka dan Alex berada.

Setelah duduk, ia memilih mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Line lalu membaca semua pesan dari pengagum rahasianya yang Kate kira lebih dari 20 orang itu. Hanya membaca, tidak berniat membalas, karena itu akan membuat pengagumnya semakin sering meng-chat dia.

Tak lama pesanan Deka datang. Segelas hot chocolate yang tidak terlalu panas langsung diminumnya dan tak berniat mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang masih berada di depannya.

"Kau boleh pergi." Hanya itu satu kalimat yang diucapkan Kate, tanpa menatap lawan bicaranya. Pelayan itu pun mengangguk hormat dan pergi meninggalkan Kate yang masih menikmati minumannya.

Tinggal sisa sedikit lagi minuman itu habis. Kate memandangi sekelilingnya. Rata-rata pengunjung di cafe itu mempunyai pasangan dan mungkin hanya dia dan beberapa orang yang sendiri.

Kate mendengus.

Nasib jomblo gini nih! Harus sabar kalo liat ginian.

Akhirnya, sambil menunggu acara Deka selesai, Kate pun mengisi waktu kosongnya dengan bermain handphone. Mengabaikan keadaan sekelilingnya yang dipenuhi oleh para pasangan.

***

A/n : Ga dapet feel? Sorry (:

Gimana pertama kali baca cerita ini? Garing? Biasa? Umum? Lumayan?

I need ur comment, vote kalo mau:v

Yaudah, nantikan next partnya ya! 😘

Salam dari orang yang belum mandi:v

15-11-17

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 28, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

INNERMOSTWhere stories live. Discover now