Depresi itu sangat menakutkan. Bahkan mungkin mematikan. Saat depresi, bukan hanya perasaan sedih yang kamu rasakan, tapi juga perasaan cemas, gelisah, dan kosong.
Perasaan kosong yang ku maksud adalah perasaan mati rasa. Sesuai namanya, perasaan mati rasa itu adalah saat di mana kamu tidak bisa merasakan apapun lagi. Kamu hanya bisa terduduk diam, tanpa bisa mengetahui apa yang kau rasakan saat itu.
Selama empat tahun, tanpa ku sadari aku mengalami depresi. Aku baru tahu aku mengalami depresi saat aku membaca ciri-cirinya di sebuah forum di internet. Dan depresiku itu semakin memburuk setiap tahunnya.
Terkadang aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri. Di saat sedang merasa sedih, aku akan berpikir kenapa aku bisa sesedih ini dan aku juga akan merasa seperti bukan diriku. Di saat sedang senang, aku juga akan berpikir kenapa aku bisa merasa senang, seperti ada sesuatu di dalam diriku yang menyuruhku untuk merasa sedih terus-menerus. Jauh di dalam diriku, aku seperti menikmati rasa sedih itu.
Aneh? Ya pasti. Aku penasaran apakah ada orang lain yang sama sepertiku.
Aku juga merasa bahwa aku takut untuk menjalani kehidupanku sendiri. Aku merasa tidak sanggup. Aku berpikir, mungkin kehidupan ini bukan untukku. Terkadang aku juga muak dengan diriku sendiri. Aku seperti berteriak kepada diriku sendiri, “Kapan kamu akan berhenti menjadi seorang pecundang?”
Sayatan demi sayatan silet ku goreskan ke kulitku. Aku mempunyai kebiasaan buruk. Saat sedang kesal, marah, atau gelisah aku bisanya menyakiti diriku sendiri untuk melampiaskan perasaan yang tidak bisa ku keluarkan dengan kata-kata. Atau bisa di bilang aku kecanduan self harm.
Selain menyayat kulit, aku biasanya menampar wajahku sendiri atau terkadang mencubiti diriku sendiri. Setelah melakukan itu semua aku pun merasa tenang dan lega.
Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah kau masih waras?”
Sejak kecil, aku terbiasa memendam perasaan apapun sendiri. aku tidak begitu terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Hanya pada beberapa orag terpecaya aku bisa bicara terbuka pada mereka. Itu pun aku tidak sepenuhnya terbuka pada mereka.
Untuk beberapa alasan, aku menolak menceritakan masalah pribadiku pada mereka. Salah satunya alasan adalah mereka tidak akan pernah mengerti apa yang ku rasakan. Dan juga mereka tidak bisa memberikan saran yang bermutu.
Aku paling benci jika saat mereka sudah memaksaku untuk menceritakan apa masalahku, dan jika sudah kuceritakan, mereka hanya mengatakan “Sudahlah, biar saja.”, “Lupakan saja.”, atau “Tidak usah dipikirkan.”dan ada juga kata-kata yang paling ku benci, yaitu, “Kamu terlalu berlebihan.”
Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu seperti apa depresi itu. Aku yakin mereka juga pasti tidak ingin merasakannya.
YOU ARE READING
Shattered
Non-FictionPercobaan bunuh diri yang gagal membuatnya semakin depresi. Ia pun memutuskan untuk tetap hidup dan menjalani kehidupannya yang memuakkan. Namun hari demi hari di hidupnya membuatnya berkeinginan untuk melakukan bunuh diri lagi. Tapi kali ini, apaka...
