Sejak hari itu, aku telah jatuh cinta kepadanya.
Senyumnya yang lembut sering kukagumi diam-diam. Sepasang bola mata cokelat itu, dan segala hal tentang dirinya selalu menjurumuskan aku ke dalam fantasi yang luar biasa.
Pria itu bernama Texas. Di SMA, teman-teman menjulukinya si Arab Nyasar. Aku tak tahu pasti kenapa, tapi mungkin karena wajahnya memang sedikit keArab-Araban. Kedua alisnya tebal, rambutnya hitam legam seperti arang. Belakangan aku baru tahu bahwa semua ciri khas itu berasal dari ayahnya yang keturunan Pakistan, sementara ibunya asli Indonesia. Mereka tinggal di Sydney dan mengunjungi Texas beberapa kali dalam setahun, meski tak terlalu rutin.
Harus kuakui, apa yang kurasakan terhadap dirinya mungkin bukan sesuatu yang wajar. Aku menyadari bahwa semua itu tak benar. Tak sepantasnya pria menyukai pria. Pria diciptakan untuk mencintai wanita, begitu pula sebaliknya. Lagi pula, siapa yang ingin terus-terusan hidup seperti ini? Hidup sebagai minoritas; terkucilkan, dicaci, dan dipandang sebelah mata seolah kami bukan siapa-siapa.
Namun, tak peduli seberapa sering aku berpaling dan mengabaikan dirinya, rasanya sia-sia saja. Berada di dekatnya seperti menghidupkan separuh nyawa yang hilang. Menghabiskan hari-hari bersamanya seolah aku tak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Like gravity, he pulls me toward him.
Aku tak akan pernah lupa satu peristiwa di tahun pertama kami kuliah kala itu. Satu periode di mana hubungan kami bukan lagi sebatas teman biasa. Saat itu, menghabiskan akhir pekan bersama Texas adalah satu hadiah yang tak mungkin kutolak.
"Lusa ada acara, Dam?" Di ujung tanya, senyumnya selalu ada. Seakan-akan dia menanyakannya begitu tulus.
"Aku selalu di rumah buat ngedesain, kamu tahu itu."
"Berarti, kamu nggak bisa diganggu?"
"Tergantung," jawabku tak pasti. "Tapi kalau ini berkaitan dengan malam mingguan, aku sangat bisa diganggu."
Dia tergelak sebelum membalas, "Reading Room seperti biasa, oke? I have a lot of paperwork that needs to be done, and I really need your help."
Tatapan mata itu sudah cukup membuatku terbius dan diam seribu bahasa. Aku bahkan tak peduli jika harus begadang dan direpotkan selama aku bisa bersama dengannya sepanjang hari.
"Okay, just give me a call, then."
"Nggak ada telepon-telepon," Texas memutar bola matanya. "Hari Sabtu nanti aku bakal muncul tiba-tiba di sini."
"You don't mess with me!" balasku, sadar bahwa semua itu akan menjadi kekacauan bila Papa sampai tahu.
Dia menahan senyumnya seakan-akan berhasil mengusik ketenangan pikiranku.
"Go get some zeds, Kiddo. Aku harus pulang." Usai kalimat dengan aksen Australia itu, Texas segera menyalakan mesin motornya, tersenyum kecil sebelum bayangnya menghilang ditelan persimpangan kompleks perumahan.
Saat itu, aku tak pernah tahu akan seperti apa hubungan kami di masa depan, dan risiko apa yang akan kuterima jika semua itu berjalan terlalu jauh. Satu hal yang pasti, aku memiliki kesempatan untuk jatuh hati. Dan kepada Texas-lah, cintaku berpulang.
ESTÁS LEYENDO
Unseen Strings
RomanceCinta... Ketika cinta ditujukan kepada orang yang salah... Dan saat hakikat cinta tak lagi kuketahui, haruskah aku mencari cinta yang lain? Bukankah cinta tak memiliki batasan? Walau cinta ini tak pantas, kenapa ia harus dipermasalahkan? Perjuangan...
