waktu itu bulan januari.
aku membawa setangkai mawar segar yang kubeli di perjalananku ke rumahmu tadi. bajuku rapi seperti pelamar kerja, sedang tanganku tak henti-hentinya berkeringat. aku mengetuk pintu rumahmu.
"loh, si mas. nyari adek, ya?"
rupanya, kau sedang tidak di rumah. mbokmu bilang kau sedang pergi keluar, bersama seorang teman lelaki katanya.
mawarku hampir jatuh tapi kupikir, ah, sayang. harganya hampir sama dengan uang jajanku tiga hari. jadi lah kuberikan mawar itu kepada ibu penjual es krim di perjalananku pulang, perasaan tidak tergambar menyesaki dadaku.
pada bulan januari, kesempatanku hangus.
waktu itu bulan februari.
pacarmu yang brengsek itu ketahuan berselingkuh, hanya sebulan setelah hari jadi kalian. aku rasa mungkin tidak ada larangan bagiku untuk merasa senang, namun entah mengapa, aku tidak bisa. melihatmu sedih sama saja seperti merasakannya.
malam itu, aku datang ke rumahmu dengan tiga bungkus keripik kentang dan dua botol soda. oh, dan dua tangkai mawar segar yang kupetik dari pekarangan tetanggaku. tadinya aku berpikir untuk memberinya padamu, tapi aku mengurungkannya. kurasa tak pantas.
aku memberi kedua mawar itu kepada ibu penjual es krim yang sama. ia tak bertanya apa-apa, hanya membekaliku senyum hangat keibuan dan ucapan terima kasih.
pada bulan februari, aku memutuskan untuk menunggu.
waktu itu bulan maret.
pacar brengsekmu itu sudah sebulan tak henti-hentinya menelponmu, meskipun jelas kau tak akan mengangkat telponnya itu. atau mungkin itu hanya menurutku saja, karena kau datang ke rumahku suatu sore membawa dua batang es krim dan sekantung keluh kesah tentang dirinya.
"menurutmu aku harus membiarkannya bicara?"
tidak, dia brengsek. untuk apa mendengar seseorang yang brengsek berbicara? tidak, dia mencintai wanita lain. untuk apa kau memberinya kesempatan untuk melukaimu lagi?
namun aku tahu kau mencintainya (aku baik-baik saja, kau jangan khawatir), jadi kukatakan padamu bahwa, ya. mungkin kau memang harus membiarkannya berbicara. sungguh, aku hanya ingin melihatmu tersenyum lagi.
pada bulan maret, aku yang bodoh ini membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain (orang yang sama, untuk kedua kalinya).
waktu itu bulan april.
kau bahagia sekali, menelponku dengan senyum amat lebar di wajahmu. kau katakan padaku pacar brengsekmu itu berubah, kau katakan padaku mungkin kejadian waktu itu memang hanya sebuah kecelakaan.
"kalau malam itu kau tak mendorongku, mungkin aku akan sangat menyesal sekarang,"
yah, bukannya aku mau. aku tidak bisa membahagiakanmu, jadi setidaknya aku harus membiarkan orang lain melakukannya untukku kan? aku mungkin melukai diriku sendiri, tapi tak apa. yang terpenting itu selalu dirimu.
"kau sahabat terbaikku, sungguh. jangan pernah tinggalkan aku ya?"
pada bulan april, aku mendapatkan seorang sahabat sejati (dan hati yang luka, tapi kau tak perlu tahu).
waktu itu bulan mei.
aku sedang berada di luar negeri, dan kau tak henti-hentinya menelponku. sepi tanpaku, katamu.
"bawakan aku sakura ya! yang banyak,"
mau kau letakkan di vas di samping tempat tidurmu, katamu waktu itu. aku mengiyakan saja, lagipula itu bukan hal yang sulit (saat kupikir lagi, kukira tak pernah ada hal yang sulit jika itu untukmu).
YOU ARE READING
kau dan aku--
Romancekumpulan cerita pendek tentang kau dan aku. (siapapun kau di sana, kuharap kau tak keberatan)
