Prolog

42 4 0
                                        

Aila merasa ini seperti mimipi, ditengah lautan manusia yang saling baku hantam itu, sesosok wanita paruh baya tiba-tiba melindunginya dari timah panas yang akan meluncur ke arahnya. Dan membuat wanita itu langsung jatuh bersimbah darah di hadapan Aila, matanya memanas tatkala melihat darah yang menggenang di antara wanita yang terkapar lemah itu. Sesaat Aila diam.

"Gak mungkin! ini cuma mimpi!" batinnya tak percaya. Matanya kian memanas, menyesak semakin kuat, membuat dia sadar bahwa ini bukanlah mimipi.

"IBU!!!" teriaknya histeris, kemudian segera memeluk sang Ibu yang terbaring tak berdaya itu.

"Ibu bangun, Aila mohon bu," isaknya menepuk-nepuk pipi sang ibu. Namun nihil, sekeras apapun ia berusaha menyadarkan sang ibu, tidak ada tanda-tanda bahwa ibunya akan sadar.

"TOLONG,TOLONG PAK, TOLOOONG!!" teriaknya histeris.

Tangisan Aila semakin menjadi karna tak ada satupun tanggapan dari para manusia yang saling hakim-menghakimi itu, Ailapun tak tau apa sebabnya. Aila menoleh ke kanan dan kirinya juga melihat banyak orang yang yang terbaring lemah di atas aspal panas itu.

Serine dari beberapa mobil Polisi dan Ambulans akhirnya terdengar dan semakin dekat, membuat para manusia biadab itu kocar kacir melarikan diri. Namun Polisi-polisi itu segera beraksi menangkap para provokator yang menjadi dalang dari tauran berdarah itu.

Isak tangis Aila sedikit reda saat dua petugas rumah sakit turun dari ambulans bersama tandunya dan menghampiri Aila dengan baju seragam SMP-nya yang sudah penuh dengan bercak darah.

"Pak tolong ibu saya pak," isaknya ke Dokter yang sudah ada di dalam ambulans itu. Lalu Dokter segera mengambil tindakan dengan memasangkan selang-selang ke beberapa bagian tubuh Ibu Aila. "Ma, bertahan ma! Aila mohon," bisiknya lalu menggenggam erat tangan sang Ibu.

*** 
Tiiiiiiiiiiiitt

Di tengah perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba alat detektor jantung menunjukka garis lurus dan suara yang nyaring tanda berhentinya detak jantung pasien. Melihat hal itu Dokter muda itupun segera mengambil alat pengejut jantung yang berada di sebelahnya.

"1 2 3 shoot, 1 2 3 shoot..."

Dokter sesering mungkin menekan dada Ibu Aila dengan alat itu, namun tak ada perubahan apapun dari detektor. Tanpa putus asa dokter pun melakukannya secara manual, dia menekan nekan dada si Ibu dengan kedua telapak tangannya,

"Ayo bu, sadar lah!!" teriak sang dokter dengan tekanan tangan yang tak berhenti.

Namun malang tak dapat di tolak untung tak dapat di raih, sang Dokter muda itu menyerah dan meminta maaf kepada Aila, bahwa Ibunya tidak bisa di selamatkan.

"Innaillahi wainnailaihi roji'un, IBU, IBU GAK BOLEH NINGGALIN AILA BUU!!" teriak Aila dengan tangis histerisnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 05, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AloneWhere stories live. Discover now