"Pak, ini dokumen untuk minggu depan. Tolong ditandatangani." ucap Ryna pada atasannya. Sopan memang, siapa yang berani berbuat hal bejat didepan seorang Alden Rasyadiva Prasetyo?
Tapi yang disahut masih serius pada laptopnya, tangannya sibuk mengetik sambil sesekali menghela napas, seolah tak menyadari bahwa di depannya ada sesosok manusia yang sedang menatap dalam padanya.
Diam-diam, Ryna mengagumi ketampanan bosnya. Dilihat dari wajah, Alden memiliki hidung mancung dan mata yang tajam. Apalagi postur badannya yang terkesan ideal dan terlihat elegan dengan jas yang menutupi lingkup tubuhnya.
Tapi Ryna tidak bodoh untuk sekadar mengetahui apa arti cincin yang dipakai Alden di jari manis kanannya. Jadi, wanita itu memusnahkan pikiran-pikiran laknat tersebut.
Memaksa agar dirinya tidak menyukai sosok Alden.
"Pak?" tanya Ryna dengan pelan dan lembut. Tangan lentiknya masih memegang sederetan file dokumen yang baru saja di print. "Bapak?"
Alden berhenti. Dia batuk sesaat dan meminum air mineral yang terletak di sampingnya. Lalu setelahnya menatap tajam Ryna, "Ya, kenapa? Jangan panggil Bapak, cukup Pak saja. Saya bukan bapak kamu."
Loh, Pak kan Bapak?
Ingin Ryna tertawa melihat tingkah lucu si bos, tetapi dia tidak berani.
Pada akhirnya sang sekretaris muda itu menyerahkan dokumen tersebut pada Alden, lalu tersenyum sampai setelahnya pamit.
"Eh, tunggu sebentar." Alden berkata dengan nada tegas dan suara beratnya, membuat Ryna langsung terdiam.
"Ya Pak? Ada apa?"
"Kamu mau beli makan?" tanya Alden disambut anggukan pelan dari Ryna. "Saya juga lapar. Tolong belikan nasi goreng spesial disana. Sepuluh menit dari sekarang, kalau lebih dari sepuluh menit saya potong gaji kamu."
Ryna menghela napas, hanya bisa mengangguk menanggapi perkataan bosnya. Lalu setelahnya, kaki yang dilapisi oleh heels hitam itu bergerak cepat ke arah kantin kantor, membeli menu makan siang dengan cepat kilat demi gaji tidak dipotong.
Beberapa menit kemudian, tidak. Tepat sepuluh menit pintu ruangan Alden kembali terbuka menampilkan sosok wanita yang kini mulai berkeringat. Di tangannya membawa sebuah kantong keresek hitam.
"Kamu ada urusan apa sama saya sampai kesini lagi?" tanya Alden tetap tidak menghilangkan fokus matanya dari laptop.
Ryna mengerutkan alis bingung, dia menatap keresek hitam dan Alden bergantian. "Loh, bukannya tadi bapak suruh saya beli ini, ya?"
"Hm?" Alden membenarkan posisi kacamatnya, "OH iya, saya lupa. Ya sudah, mana?"
Dengan sigap Ryna membuka keresek dan memberi bungkus nasi gorengnya pada Alden, "Selamat dimakan, pa." Hormatnya.
Alden mengangguk, memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya, lalu menelannya dan menatap Ryna yang masih berdiri tegap dihadapannya.
"Kau balik kerja sana. Masih ada urusan sama saya?" tanya Alden memberhentikan kegiatannya.
Ryna tersenyum kaku, menunjuk nasi goreng dengan telunjuknya. "Enak pak?"
"Ya enaklah. Ini kan makan siang saya sehari-hari. kau lagi yang belikan, masa tidak hapal kesukaan bosnya." balas Alden sambil mengambil segelas minum.
Ha ha ha.
Sebenarnya Ryna ngode ingin minta, tapi kok bosnya nggak peka begini.
"Saya belum makan pak."
"Terus?"
"Bapak juga belum ganti uang saya yang saya pake buat beli makan siang bapak. Dari bulan lalu udah nunggak loh, pak."
YOU ARE READING
Genre SHORT STORY
Short StoryKompilasi 7 macam genre berbeda yang disatukan dalam 1 cerita. Juga tentang kegilaan tiga sekawan dalam menjalani hidup. Dipersembahkan untuk Our Tour Hashtag :) With Pure, 2017 by Kazhaxx re-upload tanpa revisi 2022 buat kenangan aja
