(1) Oh, Lord!

1.6K 98 13
                                        

16 Juli 2020

Tempora mutantur, nos et mutamur in illis. Ars menyukai istilah Latin itu saat pertama kali membacanya di sebuah buku. Dia sepenuhnya sepakat dengan istilah yang kurang lebih berarti bahwa waktu berubah dan kita berubah di dalamnya. Cepat atau lambat manusia akan mengalami perubahan karena kehidupan terus bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan mereka. Dan perubahan itu sendiri dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Mulai dari urusan yang sepele sampai yang bertele-tele.

Saat itu pukul sembilan pagi. Ars duduk-duduk di beranda rumahnya setelah dua jam sebelumnya berhasil menemukan pengirim kukis misterius untuknya. Tidak ada nama pengirim di kartu yang diikat dengan tali rami lalu dililitkan di kepala kaleng kukis. Kartu itu hanya bertuliskan For Ars dan gambar gerhana matahari.

Ars menggeleng-geleng seperti boneka kucing maneki neko yang terus menerus menggoyang-goyangkan tangannya, memikirkan Janied, pemilik kafe Horosho yang terletak di dekat alun-alun kota Malang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata teman SMA salah satu rekannya di DPM, Detektif Jonash, adalah si pengirim kukis itu. Gambar gerhana matahari di kartu kukis adalah simbol untuk nama depan Janied: Eclipse Janied Mainaki.

Kini bibir Ars seperti tidak lelah menguntai senyum seraya memandangi kukis-kukis yang dijajarnya di atas piring. Dia benar-benar tidak habis pikir kalau kukis-kukis itu sanggup merubah hidupnya. Setidaknya, hatinya! Kukis-kukis dalam kaleng yang berisi pesan-pesan singkat itu sanggup melumerkan hatinya dalam sekejap. Seolah-olah mereka adalah pendekar silat dengan kesaktian tingkat tinggi yang sanggup melumpuhkan lawannya hanya dengan satu hembusan napas.

Kali itu pesan singkat yang sedang dibacanya berbunyi: Fancy of dating with me tonight? Ars masih memikirkan jawaban yang akan diberikannya untuk Janied saat ponselnya berbunyi. Dilihatnya nama yang tertera di layar lalu ditekannya tombol answer seraya tersenyum.

"Hallo, Hunter," Ars menyapa Denial Sebastian, partnernya, dengan nickname yang sangat disukai partnernya itu gara-gara Denial tergila-gila dengan serial televisi Hunter yang populer di tahun 1984-1990.

"Ars, ada kasus. Cutimu batal, kan? Kapten Montreal memintaku menghubungimu untuk menyidik kasus ini."

"Hmm, mau tidak mau harus batal, Den. Tapi pengajuan cutiku kedepan untuk mengganti cutiku yang kali ini harus ditambahi keterangan sedang cuti, tidak boleh diganggu gugat," Ars manyun.

Diseberang, Denial terkekeh. Seharusnya hari itu Ars memang masih dalam masa cuti. Tapi kasus pembunuhan yang terjadi di bandara Hamid Rusdi tiga hari sebelumnya membuyarkan rencana cutinya. 

"Siapa korbannya, Den?"

"Masih simpang siur. Tadi operator hanya mengatakan korbannya ada di Gedung Cakra Buana."

"Bukannya Cakra Buana biasanya disewakan untuk acara pernikahan, Den? Kenapa bisa berubah jadi TKP pembunuhan?"

"Aku juga nggak tahu. Aku hanya dapat informasi itu. Kita ketemu di sana ya?"

"Ok. Setengah jam lagi aku di sana."

________________________________

Benak Ars penuh tanda tanya saat menyetir ke Gedung Cakra Buana yang terletak di dekat Balaikota Malang. Pembunuhan di acara pernikahan? Sebuah pemilihan tempat yang sangat tidak biasa, kemungkinan dilakukan oleh orang yang terlatih dan telah merencanakan semuanya dengan matang karena disana ada banyak orang yang bisa saja menangkap basah aksinya, pikir Ars.

Jarak rumah Ars di Perumahan Rampal dengan Gedung Cakra Buana hanya memakan waktu lima belas menit. Saat tiba di pelataran parkir, Ars tidak langsung turun. Masih dengan mengenakan kaca mata hitamnya, Ars berdiri sejenak di ambang pintu Si Hiu, mengamati keadaan gedung dari kejauhan. Dilihatnya di teras gedung dipasang pintu melengkung yang dihiasi dengan bunga-bunga segar warna putih dan ungu. Foto kedua mempelai yang dikunci dalam pigura berbingkai emas dipasang di samping pintu tersebut. Semuanya tampak normal, batinnya, seraya melepas kaca matanya lalu keluar dari mobil. Tapi hilir mudik polisi berseragam di luar gedung menandakan bahwa yang terjadi di dalam gedung berkapasitas tujuh ratus orang itu bukan hanya acara pernikahan saja, pikirnya.

Langkah Ars kian mendekati gedung. Dilihatnya wajah empat gadis yang bertugas menjaga buku tamu di sisi kanan dan kiri pintu terlihat takut, tegang dan pucat. Tidak satupun diantara empat gadis itu yang menyunggingkan senyum seperti tugas mereka seharusnya. Terlebih saat Ars menunjukkan lencananya menanyakan apa yang terjadi. Alih-alih mendapat jawaban, dia malah melihat salah seorang gadis menangis. Hanya telunjuk gadis itu yang mengantarkan matanya melihat ke arah panggung tempat pelaminan berada. Saat dia melangkah masuk, beberapa orang tamu menabraknya karena mereka terburu-buru lari keluar. Ars melihat suasana di dalam gedung memang ramai seperti pernikahan yang seharusnya. Orang-orang hilir mudik kesana-kemari. Tapi ramainya suasana yang dilihatnya saat itu lebih kepada kekacauan. Beberapa wajah yang dilihatnya juga terlihat tegang. Bukan wajah-wajah santai yang mengobrol sambil menikmati hidangan.

Benarkah sudah terjadi pembunuhan di acara pernikahan?, batinnya. Tapi aku tidak melihat orang yang tergeletak berlumuran darah di sini?, batin Ars.

Karena tidak melihat Denial diantara kerumunan, Ars menelepon partnernya itu.

"Den, dimana?"

"Sudah di gedung. Aku di area pelaminan."

"Hah? Ngapain? Memangnya korban ada disana?"

"Ars, cepatlah kemari," tukas Denial.

Kabut keheranan masih menyelimuti benak Ars saat melangkah menuju ke area pelaminan. Kekacauan jauh lebih terasa di sana daripada di area yang penuh dengan aneka hidangan. Dua orang dilihatnya menangis histeris sampai bentuk sanggulnya tidak karuan. Kursi-kursi yang biasanya digunakan oleh kedua orang tua mempelai juga kosong. Lalu Ars mengalihkan pandangannya ke kursi mempelai. Hatinya seketika mencelos melihat pemandangan di depannya. Mempelai pria yang mengenakan setelan kemeja warna putih tulang terlentang di kursi pelaminan dengan dada bersimbah darah. Oh, Lord!, seru Ars dalam hati.

Ars : RESEPSI KEMATIAN (Seri ke-2)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora