Mela

4 0 0
                                        

Terimakasih, kau telah memberikan warna warni dalam kehidupan hitam putih saya.

Setelah beberapa tahun saya tidak dekat dengan cewe yang dulu sempat menjadi teman dekat saya, saya dekat dengannya kembali karna rencana tuhan.

"Kamu dulu nyebelin banget tau ga?! Masa iyah, aku ga boleh ikut nebeng pulang." saya hanya tersenyum menanggapinya. Bingung. "Maaf yah mel, memang saya nyebelin yah dari dulu. Tapi sumpah itu saya gatau apaapa." saya menjawab sejujurnya. "Kamutuh lakilaki paling nyebelin yang pernah aku kenal." sambil memasang muka cemberut dia mengatakannya, dan membuatku merasa bersalah. "Yaudah maaf yah, itukan dulu. Sekarang aku baik banget kan? Ya ga? Ya dong." sengaja saya memancing agar tidak mengarah ke lainlain yang membuat saya tidak bisa menjawab.

Setelah obrolan itu, saya menjadi sering bertemu dengannya. Dan malah semakin dekat dengannya.

Hari hari terasa sangat lama, apalagi saya rasa hidup saya hanya berjalan seperti air. Rencananya, hari minggu ini ada kumpul teman pengajian dulu. Hanya sekedar silaturahmi. Saya akan menjemput mela. Itu yang ada dipikiran saya. Entah pikiran dari mana saya bisa berpikir sampai situ.

Hari h pun tiba, saya sudah bilang ke mela bahwa  aku akan menjemputnya.Dijalan saya ngobrol banyak, hanya sekedar nanya biodata dan sedikit ulasan tentang masa kecil.
Setelah acara reuni, harihari berikutnya makin dekat saja. Hingga ada perasaan dalam diri saya yang mulai muncul. Sebelumnya saya sudah bercerita kepada teman saya. Dan entah apa yang dilakukan temanku. Tetapi temanku mengajak ku ketemu hari ini.
Hari ini. Hari yang menurut saya paling bahagia. Hari ini saya resmi. Resmi menjadi pacarnya. Lengkaplah sudah masa SMA saya. Dengan kedatangan dirinya. Mungkin bisa membuat harihari ku semakin sempurna.

"Apa yang buat kamu tertarik padaku ren?" tanyanya padaku. "Entah apa yang menarik dalam dirimu mel, rasanya ketika saya pertama bertemu denganmu saja sudah beda." jelasku. Dia terlihat bahagia. Ah syukurlah gaada yang harus saya khawatirkan selain cowo cowo di luaran sana yang mencoba mendekatinya.
"Nanti kalo kamu ada apa apa usahakan cerita padaku, jangan tanggung semuanya sendirian. Okey?" terdengar seperti pertanyaan, namun lebih tepatnya perintah. Ah sudah tak apa. Ini bukti rasa sayang saya padanya. "Iyaahh rendyy terimakasih." hangat rasanya hatiku.

Seperti orang orang pacaran sewajarnya. Selama ini saya pacaran seperti biasa. Mendapat masalah, dan menyelesaikan bersama. Menghabiskan waktu dengan chat, atau hanya jalan keluar malam minggu, atau nonton bioskop kisah fiktif. Hanya itu. Dan cukuo membuat saya senang. Mungkin dia juga.

Saya dan mela memang tidak satu sekolah, tetapi rumah kami sangat berdekatan. Seperti biasa, hari ini saya menjemput mela di salah satu sekolah negri di kota bandung. "Saya nunggu di warung depan sekolah seperti biasa ya mel." saya mengetikkan pesan singkat yang akan saya kirim lewat salah satu aplikasi. Sambil menunggu jawaban saya memesan kopi dan rokok, biar aga ga bosan saja. "Bi kopi biasa rokok nya 1 batang." sudah tidak asing lagi rasanya mengatakan itu. Bi iim hanya tersenyum. Ramah sekali. "Eta atuh jang gorengan na haneut keneh. Sok bari nungguan si neng mela." bibi mengatakan dalam bahasa sunda jika diartikan mungkin "itu gorengannya masih anget. Sambil nunggu mela." akhirnya saya cicipi, karna memang lapar juga.
Setelah saya menunggu sekitar 30 menit, mela tidak datang juga. Saya sudah mengirimkan beberapa pesan, namun jawaban tak kunjung datang. "Bi mela na ge teu datang wae, balik hela ah bi." dalam bahasa indonesia artinya "bi mela nya juga ga dateng aja, pulang dulu ah bi." setelah pamit aku memutuskan untuk pergi ke tongkrongan biasa saya dan teman teman saya suka kumpul.
Disana ada ferdy, dia lumayan dekat dengan mela. Saya sering cerita tentang mela juga ke ferdy. Waktu saya tanya mela dimana, dia malah ngalihin topik gitu. Setelah rasa bosan datang, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Entah mengapa hari ini mungkin hari sabar.
Sesampainya saya dikamar, saya langsung tidur. Lelah rasanya untuk menghadapi hari ini.
Untungnya hari ini hari sabtu, jadi saya bisa tidur seharian tanoa diganggu.
"Nakk itu diluar ada ferdy, katanya ngajak kerja kelompok." teriak ibu saya. Aduh apasih ferdy hari libur masih aja bersangkutan dengan sekolah. Dengan malas saya turun ke bawah. "Eh fer, masuk masuk. Baru juga bangun ah ganggu." kataku sambil membiarkan ferdy masuk. "Ah sia sare wae, eta ajak si mela ka puntang. Si eta dek ulin jeng kabogoh urang. Ari urang diimah cicing we nonton tv. Mun embungen urang putusken we." katanya panjang lebar. Itu kalo diartikan "ah kamu tidur aja, itu ajak si mela ke puntang. Dia mau main sama pacar saya. Sedangkan saya diem dirumah nonton tv. Kalo gamau kita putusin aja." "sok sok bebas." jawab saya, saya hanya merasa tidak enak. Karna memang dia yang dulu membantu saya hingga sekarang hubungan saya berjalan 8 bulan. Dan mungkin saya harus berbalas budi. "Sok telepon."
Saya memutuskan untuk menelpon mela. "Hallo." saya yang menyapa duluan. Memang saya sebelumnya chat seperti biasa. "Iyaah hallo." jawabnya lewat sambungan telepon. "Mel sekarang ke puntang yuk, mumpung saya kosong gaada kegiatan. Besok belum tentu bisa." jelas saya langsung ke intinya. "Aduh gabisa ren kayanya, soalnya aku mau nganter yuli beli sepatu sama tas." sudah kuduga. "Kamu memilih teman daripada saya?!" suara saya naik beberapa oktaf. "Yaudah kalo gitu putus." lanjut saya. Terdengar seperti isakan di sebrang sana. Dia mengangis. Ya dia menangis. Langsung ku tutup saja sambungan telepon tersebut.

Saya terdiam. Semua ini salahku. Kenapa saya lebih mendengarkan teman? Bukankah ini masalah sepele? Apa yang harus saya perbuat? Ada yang menelponku, pasti itu mela. Lebih tepatnya mantan kekasih. Saya mengankat sambungan telepon tersebut. Dia menangis, tadi yang ngobrol dengan saya  itu temannya, kekasih ferdy dan dia sama putus. Entah apalagi yang harus saya perbuat. Setelah selesai saya langsung memtikan sambungan telepon tersebut.

Mungkin, hari ini hari yang paling berdosa bagi saya. Saya telah menyakiti perasaan orang yang saya sayang.

Malam ini, seharusnya saya merayakan ulang tahunnya. Namun tuhan bekata lain. Saya bertemu dengannya, tapi seperti tidak saling mengenal.

Mela, terimakasih pernah mewarnai kehidupan hitam putihku.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Nov 01, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

WaktuDonde viven las historias. Descúbrelo ahora