Dream

18 3 0
                                        

Angin berhembus pelan meniup helaian anak rambut. Detak jarum jam sangat terdengar kontras di dalam ruangan yang sunyi ini.

Seluruh siswa, baik kelas X, XI, maupun XII SMA Taruna Angkasa tampak tenang dan fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh pengawas ruangan beberapa waktu lalu. Beberapa dari mereka sepertinya telah menyelesaikan tugasnya.

Seperti salah satu gadis yang duduk di deretan kedua dari depan. Gadis itu terlihat telah bersantai sambil menunggu izin dari pengawas untuk dapat keluar dari ruangan.

"Yak! Bagi yang sudah selesai dipersilahkan keluar duluan" ujar guru pengawas akhirnya terdengar beberapa menit kemudian.

"Fiuh.. akhirnya" gumam Gladis dalam hati.

Merapihkan alat tulis yang berserakan di atas meja, ia keluar dari ruangan setelah memberikan kertas soal dan jawaban ulangan kenaikan kelasnya ke meja guru.

Sekeluarnya dari pintu ia langsung disambut oleh rekan sebangkunya di kelas, Karla namanya.

"Kantin yuk! Laper gue. Belom sarapan nih dari pagi tapi udah disuruh mikir keras." Kata Gladis pada Karla sambil melangkahkan kakinya menuju kantin.

"Yuk lah! Gue juga nggak bawa minum. Siapa tau di kantin ketemu kakak ganteng, ya nggak?" Sahut Karla sambil menaik turunkan alisnya.

"Hahaha! Bisa aja lo modusnya. Udah yuk, keburu rame bisa-bisa kegencet gue."

Mereka berjalan menuju kantin sambil berdiskusi tentang soal ulangan yang mereka kerjakan beberapa waktu lalu.

"Dis, gue beli minum dulu ya! Lo mau ke warungnya Bu Reni kan? Entar gue langsung susul kesitu."

"Oke deh! Tapi jangan tinggalin gw entar." Ucap Gladis.

"Iya, iya.. tenang aja sama gue mah. Haha..."

Gladis melangkahkan kakinya menuju warung Bu Reni. Warung nasi langganannya saat ia tidak membawa bekal.

Dia melihat menu hari ini. Ada mie goreng sawi, sayur sop, telur balado, ayam goreng serundeng, capcay, sambal goreng kentang, dan tempe goreng.

"Bu, aku mau ayam serundeng sama sambel gorengnya dong. Biasa ya, 8000 aja."

"Siap neng" sahut Bu Reni sambil mengambilkan pesanan Gladis.

"Pake tehnya sekalian nggak neng?" Lanjutnya.

"Nggak usah, bu. Aku mau air putih aja." Balas Gladis sambil menyodorkan botol air mineral yang ia ambil dari kulkas di warung tersebut.

"Oke neng. Jadi nasinya Rp 8000 sama air nya Rp 2000. Jadinya Rp 10.000 neng."

"Eh.. iya bu. Ini uangnya, udah pas ya"

Setelah memberikan uang sepuluh ribu rupiah, Gladis mengambil piring berisikan makanan itu dan sebelah tangannya menenteng botol air mineral.

Baru saja ingin membalikan badan, suara seseorang mengejutkan Gladis.

"Iya. Gitu aja terus. Makan nggak pake sayur. Yang dimakan kering mulu, nggak ada sayurnya. Gimana mau peka, otaknya aja belum tentu bisa mikir kalo dikasih makan gitu mulu. Nggak ada gizinya."

Mark Lee. Ya, suara itu milik Mark Lee. Seorang siswa kelas IPA seangkatan dengan Gladis yang memiliki darah half-blood Korea dan Indonesia.

Dia menjadi salah satu cowok most wanted disini bahkan sejak saat masa orientasi. Tentu saja karena faktor wajahnya yang tampan dan kepribadiannya yang easy going.

"Suka-suka gue lah mau makan apa. Gue nggak doyan sayur. Jadi daripada mubazir mending gue nggak pesen sekalian. Lagian nggak ada urusannya juga sama lo." Ujar Gladis lalu melangkahkan kakinya ke salah satu meja kosong di kantin itu.

"Ya urusan gue lah, Dis. Kan gue yang ngekode terus sama lu setahun ini."

Ucapan lelaki itu membuat Gladis membeku. Langkahnya terhenti saat otaknya berusaha mencerna apa yang di ucapkan Mark padanya barusan.

"Nggak. Gue pasti halusinasi. Nggak mungkin seorang Mark suka sama gue" gumamnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.

***

Jam pulang sekolah pun tiba. Seluruh siswa dipersilahkan pulang kerumahnya masing-masing. Termasuk Gladis.

Melangkahkan kakinya keluar kelas seraya memasukkan papan ujiannya kedalam tas. Sedikit kerepotan karena salah satu tangannya harus memegang tas dan sebuah tempat pensil sedangkan tangan lainnya berusaha memasukkan papan ujiannya kedalam tas.

Bruk!!

Tempat pensil yang dipegang Gladis lantas terjatuh dari tangan kirinya yang penuh. Ia menunduk hendak mengambil benda itu, tapi belum sampai ujung jarinya menyentuh tangan orang lain telah mengambil tempat pensil itu terlebih dahulu dan langsung menyodorkannya kepada Gladis.

"Kamu tuh emang ceroboh banget ya. Kalo masukin barang tuh satu-satu. Pas masih di dalem kelas kan bisa. Aku nggak selalu ada disamping kamu, Dis. Kalo aku nggak ada terus kamunya kenapa-napa gimana?"

Lagi-lagi. Mark Lee.

"Lo tuh ngomong apa-"

"Aku tuh suka sama kamu, Dis."

Deg!!

Mata indah gadis itu langsung membulat. Kaget? Tentu saja. Dia baru saja mendengar pernyataan cinta dari cowok most wanted di sekolahnya. Ingat, MOST WANTED!

"Mark..." Lirihnya.

Mereka saling bertatap dalam diam. Tidak dipedulikan orang-orang yang terlihat hilir mudik disekitar mereka. Sampai saat Gladis akan bicara-

"Dis.. Dis.. bangun oyy. Elah lo kenapa pake acara tidur segala sih? Bangun eyy.. jangan ngerasa di rumah lo. Bentar lagi bel, lo nggak mau diamuk sama Miss Lia kan?"

Terdengar suara Karla, samar.

Perlahan Gladis merasakan bahunya di goncangkan seseorang. Samar ia bisa melihat cahaya putih saat kelopak matanya mulai terbuka.

"Alhamdulillah bangun juga ini anak. Lo kalo tidur serem, Dis. Kayak orang mati." Ocehan Karla kali ini terdengar lebih jelas dengan visual cantiknya yang berada di depan wajah Gladis.

"Gue ketiduran?" Tanya nya masih dengan wajah mengantuk.
"Iya.. lo ketiduran. Tadi gue suruh lo nunggu pas gue nyari buku di rak sana. Eh gue balik lo malah udah molor." Penjelasan Karla membuat Gladis sadar kalau apa yang baru saja ia alami hanya sebuah mimpi.

"Syukurlah cuman mimpi. Ya kali Mark beneran suka sama gue. Impossible banget." Gumamnya dalam hati.

"Udah yuk! Ke kelas, entar Miss Lia ngamuk lagi gara-gara kita nggak ada di kelas."

Karla langsung menarik tangan Gladis dan menuntunnya menuju pintu keluar perpustakaan.

Tanpa mereka sadari, seorang lelaki yang berdiri di antara rak-rak buku perpustakaan sedang memperhatikan kedua gadis itu. Dengan senyum yang terlihat misterius dan sorot matanya yang terlihat bahagia.

"Kamu nggak pernah tau kalo aku bahkan selalu mantau kamu dari jauh. Aku tau kamu mimpiin aku tadi saat kamu bergumam menyebut namaku. Hatiku langsung berbunga saat itu juga. Karena setidaknya perasaanku padamu telah tersampaikan, walaupun hanya lewat mimpi.
Biarkan aku terus seperti ini sampai suatu hari nanti aku yakin untuk mengatakan semuanya padamu. Bahwa aku, lebih dari sekedar menyukaimu Gladis. Aku mencintaimu, gadisku."

Mark Lee. Lelaki itu tersenyum sembari melangkahkan kakinya menuju kelas saat bel masuk telah berbunyi dengan keras.

***

Eaaa.. ini apaan?
Baper sendiri gw masa😂

DreamStories to obsess over. Discover now