🌈 Prolog 🌈

10 1 0
                                        


Koridor sekolah sudah sangat sepi dari setengah jam yang lalu, tinggal beberapa siswa yang berada di sana. Ada yang lagi berkumpul dengan teman-temannya, ada juga yang sedang menyapu karena piketnya.

Dengan seorang gadis yang duduk di kursi yang memang di sediakan di koridor sekolah, ia menatap sebuah kertas yang seperti kejutan untuknya.

Ia memandang shock isi dalam kertas itu. Ia bertanya apa ini mimpi? Melihat isi yang nyata di kertas itu membuat entah ia harus senang atau sedih.

Senang karena akhirnya ia bisa mendapat beasiswa bersekolah di Senior High School Galaxi yang berada di negara london.

Sekolah itu adalah sekolah yang ia dambakan dari dulu. Di sana semua fasilitas sangat lengkap dan modern. Sekolah itu juga menggunakan asrama jadi ia tidak perlu khawatir untuk mencari tempat tinggal.

Namun ia tidak bisa, karena orang tuanya pasti tidak mengijinkannya. Walaupun ayahnya bisa membiayai dia bersekolah di sana. Karena ayahnya adalah pengusaha terkenal di Indonesia. Padahal kakak perempuannya sekarang melanjutkan SMA nya di korea selatan.

Yah memang bisa di akui gadis ini mempunyai otak yang pintar. Sehingga ia bisa mendapat penawaran yang sangat bagus ini.

Senyum mengembang ketika Moniq menerawang jika sekarang dia berada di sana. Pasti sangat menyenangkan.

Namun senyum manisnya kembali memudar mengingat rasa sedih yang menyerangnya tiba-tiba.

Jika ia tetap memilih bersekolah di sana. Ia akan meninggalkan ibu dan ayahnya. Walaupun kadang ia sering jengkel karena sering di bandingkan dengan kakaknya.

Lagi pula buat apa ia bersedih untuk meninggalkan mereka? Toh mereka juga tidak peduli dengan dirinya.

Dua-duanya gila kerja. Bahkan mereka sampai tidak pulang di rumah karena pekerjaan tersebut.

Padahal kalau di pikir ayah dan ibunya adalah seorang bos dan sekretaris.

Kecuali kalau kakaknya pulang karena sedang libur. Orang tuanya bakal di rumah berhari-hari hingga Fadilah kembali sekolah. Lalu mereka kembali sibuk seolah tidak peduli dengam keadaannya.

Moniq ingat waktu ia meminta izin pada ayahnya kalau ia sudah lulus SMP ia ingin bersekolah di Senior High School Galaxi. Namun, ayahnya menolak mentah-mentah dengan sedikit bentakan begitu pula dengan ibunya.

Hal itu membuat Moniq sedikit kecewa. Jujur saja, selama ujian ini Moniq tidak focus dengan soalnya. Ia hanya menjawab asal. Entah benar atau salah ia tidak peduli.

Toh, sekarang buktinya ia lulus bahkan ia kembali juara 1 umum sampai-sampai mendapat beasiswa dari sekolah Senior High School Galaxi ini.

Tapi, tetap saja. Orang tuanya tidak peduli dengan nilainya. Saat Moniq memberi tahu tentang nilainya kepada mereka, hanya di respon.

Belajar lebih giat lagi. Ini belum seberapa.

Bahkan mereka saat merespon itu, tidak ada binar kebanggaan di wajah mereka. Hanya ada ekspresi datar tidak peduli. Membuat hatinya mencelos sakit saat itu juga.

Wajahnya kembali bersinar teringat sahabat kecilnya yang saat ini tinggal di london sejak sepuluh tahun yang lalu.

Rasa rindu menyerang dirinya. Membuat ia bertanya-tanya sekarang bagaimana bentuk fisik sahabat laki-lakinya itu. Pasti sangat tampan. Kecil saja ia sudah tampan apalagi sudah jadi remaja bengini.

Moniq juga adalah perempuan manis. Rambut panjang cokelatnya dan juga warna iris matanya yang cokelat. Wajahnya memang tidak tirus dan juga tidak tembem.

MONIELWhere stories live. Discover now