Seorang wanita paruh baya terlihat sedang duduk di suatu rumah makan sembari menikmati segelas lemon tea yang tersaji di depan mejanya. Perpaduan manisnya madu hutan dengan segarnya aroma citrus dari potongan buah lemon sedikit menenangkan hati dan pikirannya. Malam itu adalah malam minggu, dan ia berada diantara hiruk-pikuk pelanggan yang didominasi oleh kawula muda yang datang berpasang-pasangan. Sesekali ia mengarahkan pandangannya pada pintu masuk rumah makan tersebut. Beberapa saat kemudian, terlihat seorang lelaki dewasa muda dengan menggenggam sebuah kotak putih berisi sebuah birthday cake dengan lilin-lilin kecil yang mengitarinya pada kedua tangannya. Pria itu melemparkan senyum padanya, dan ia balas pula senyumannya itu.
Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday, happy birthday..
Happy birthday to you..
Terucap lantunan merdu dari bibir lelaki itu. Kemudian,bibir indahnya mendarat di kedua belah pipi wanita berjilbab marun itu.
"Selamat ulang tahun, Mama."
Lelaki itu meletakkan kue tersebut di atas meja. Kini, duduk berhadapan dengan wanita itu, yakni ibudanya sendiri.
"Terima kasih, sayang." Wanita itu kembali menyunggingkan senyumnya.
Lelaki itu merogoh sesuatu dalam tas selempangnya. Sebuah kotak bersampul ungu dengan berhias pita emas didapatnya.
"Coba tebak, Rendra bawa apa buat mama?" Ucapnya sebelum ia mengeluarkan kotak tersebut.
"Hmm..." Wanita itu berusaha terlihat seperti sedang memikirkan jawabannya.
"Apa kau membawakan mama menantu?"
Sontak saja Rendra terdiam mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum kecut dan menyerahkan kotak itu pada ibudanya.
"Mana mungkin muat di dalam tas aku ma, emang mama mau punya mantu liliput?"
Wanita itu terkekeh dan membuka kotak tersebut. Dikeluarkannya sebuah liontin berbentuk hati dari dalam kotak tersebut. Di dalam liontin tersebut terselip fotonya terbaring di ranjang rumah sakit bersama seorang pria dan Rendra kecil yang baru saja lahir. Tanpa disadari, ia mulai menitikkan air matanya.
"Aku dapat foto itu dari tante Ika loh!" Ujar Rendra. Tante Ika adalah adik ibunya.
Ia memandang lekat-lekat foto tersebut dan sesekali mengusap-usapnya. Pria disampingnya itu adalah suaminya, dan tentunya ayah Rendra. Suaminya telah meninggalkan ia dan Rendra akibat dari kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya. Saat itu Rendra masih berusia tiga bulan. Hanya dari foto itulah ia mengenal rupa dari ayah kandungnya itu.
Rendra kemudian mengambil liontin itu dari bundanya dan memakaikannya pada lehernya. Seutas lesung pipi tertaut pada wajahnya, dan ia kembali duduk di kursinya.
"Ayo ma, tiup dulu lilinnya."
Wanita itu pun meniup lilin-lilin disertai rangkaian doa yang teriring dalam sanubarinya. Rendra pun meminta pisau, sendok dan cawan kecil kepada pelayan. Setelah memotong kue, ia meletakkan dua potong kue di atas dua cawan kecil tersebut dan menikmatinya.
"Tapi, benar deh Ren, kamu enggak mau cari pasangan?" Lontar wanita itu sembari menyendok kuenya. Rendra adalah anak semata wayangnya yang baru saja memasuki kepala tiga. Selama ini tidak sekalipun ia mengenalkan seorang perempuan kepadanya. Padahal, dari segi usia dan materi ia sudah siap untuk segera menikah. Rendra sendiri adalah pemilik dari rumah makan yang kini mereka singgahi ini dan telah memiliki beberapa cabang hingga di luar kota.
"Jodoh aku masih belum terlihat, Ma." Jawab Rendra asal.
"Memangnya kamu mau menikah di usia berapa, Rendra?" Ucapnya halus.
"Jodoh emang tak kemana, tapi kalau tak dicari ya gak akan ketemu, kan? Menikah itu ibadah loh, nak. Bukankah lebih cepat lebih baik?" Lanjutnya.
Rendra hanya bisa menghela napas.
"Lihat, mama sudah berusia 60 tahun. Itu artinya besok mama sudah pensiun. Mama udah tua, nak. Mama juga ingin gendong cucu mama."
Ibunya adalah seorang guru di sekolah dasar dan akan segera pensiun. Itu artinya, ibunya tidak lagi bisa bertemu dengan anak-anak di sekolahnya yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri. Rendra merasa bersalah pada ibunya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia jarang menemani ibunya. Namun lebih dari itu, ia merutuk dirinya yang tidak memberikan keturunan pada ibunya. Ia merasa gagal sebagai anak dalam membahagiakan orang tuanya.
Sebenarnya, Rendra memiliki seorang kekasih yang telah menjalin kasih selama tiga tahun ini. Namun, ia tidak pernah mengenalkannya pada ibunya. Tentu saja ia tidak bisa melakukannya, karena kekasihnya pun juga sama sepertinya, seorang pejantan.
Bagaimana Rendra bisa menikah dan mempunyai anak kalau Rendra sendiri tidak pernah menaruh hati kepada seorang wanita, Ma? Ia hanya terdiam.
* * *
Haloooo
Kembali lagi berjumpa dengan saya, dengan cerita baru (lagi)
Untuk karya-karya yang sebelumnya mungkin tidak saya lanjutkan karena saya sudah amnesia mengenai storylinenya karena begitu ada ide langsung saja saya ketik tanpa saya buat kerangka ceritanya T_T
Tapi untuk kali ini saya akan berusaha untuk melanjutkan sampai tuntas. Dan mulai menyusun kerangka cerita ini (hehe)
Untuk kali ini, tema yang saya ambil nampaknya agak kontroversional dan sedikit dewasa. Maka dari itu untuk dedek-dedek yang masih belum cukup umur tolong jangan dilanjutkan membaca karyaku yang tidak berfaedah ini ya :')
Secara garis besar, karya saya kali ini menceritakan seorang pria, ehm ya, gay dalam menghadapi problematika klasik seorang homoseksual. Selain itu juga mengenai pencarian jati diri sang tokoh utama. Apakah benar ia ditakdirkan untuk menjadi seorang gay? Well, let's see.
Sebelumnya, saya tekankan saya bukanlah orang yang pro terhadap LBGTQ, tetapi saya juga tidak mempersalahkan mereka. We have our each bussiness.
YOU ARE READING
Mama Minta Mantu
General FictionRendra, seorang lelaki berusia 30 tahun dihadapkan masalah besar dalam hidupnya: mamanya menginginkan dirinya agar segera menikah. Sebenarnya Rendra sendiri sudah memiliki pasangan. Namun yang menjadi masalah, pasangannya sendiri juga seorang lelaki...
