1

47 1 0
                                        

       Di mana ini? Banyak bunga warna warni, air terjun besar nan bersih, luas mata memandang. Siapa itu? Tampan sekali seperti artis korea, ah bukan seperti malaikat, tubuh nya terlihat sixpack dengan kaos putih tipis dan celana jeans hitam, ia datang menghampiri ku. Mendekati ku.
      "TIA! Ayo bangun!" terdengar suara teriakan bunda dari lantai bawah. Ah, sayang cuman mimpi.
      "Iya, Bunda. Bentar!". Aku turun dengan berpakaian rapi untuk pergi kesekolah.
      "Ayo sarapan! Nanti kamu telat, loh!" kata bunda sambil menyiukkan sesendok nasi kepiringku.
     "Si Ade kalo udah tidur kagak bisa di bangunin, Bun. Kaya kebo, haha..." ejek kakak Tio.
     "Bunda, kakak tuh." aku merengek meminta pertolongan Bunda.
     "Udah dong! Kalian ini pagi-pagi udah ribut." kata Bunda menenangkan suasana.
     "Aku berangkat dulu, ya." aku pergi mencium tangan Bunda dan kakak.
     "Belajar yang bener, biar bisa kaya kakak mu ini" ujar kakak menyombongkan diri.
     "Iya, kakak ku. Bye, love you all" aku melambaikantangan pada mereka. Aku berangkat jalan kaki. Jarak rumahku kesekolah dekat, kurang  lebih dari 300 meter. Hanya butuh waktu 10 menitan. Dari jarak 5 meter, Pak Satpam sudah memanggil ku agar berjalan cepat karena pagar akan ditutup. Kupercepat langkah dengan setengah berlari, akhirnya aku sampai sebelum gerbang ditutup.
 

    Aku lupa bahwa hari ini hari senin, dimana setiap sekolah di seluruh Indonesia mengadakan upacara Bendera. Hari ini aku bertugas sebagai pemimpin upacara. Dengan terik matahari pagi ku paksakan untuk bertugas.
     Dikelas, Lusi datang menghampiri dengan muka betenya. "Ayya, kita disuruh bawa buku Biologi paket di perpus, nih! " ujar Lusi sambil melirikkan mata nya ke atas.
     Dengan terpaksa kami harus membawanya walau berat rasanya. Kami semua murid kelas XI IPA, paling malas membawa buku paket Biologi, karena tebal bukunya gak ketolongan. Di tambah jarak perpus ke kawasan kelas XI IPA lumayan jauh minta ampun.
     "Ini kamu bawa enam, aku bawa enam. Jadi kita sama." Lusi membagikan buku. "Aku duluan, ya?" Lusi berjalan meninggalkan ku sendiri.
     "Yah, ditinggal deh.".
     Ketika melewati lapangan basket, salah satu tali sepatuku terlepas. Belum saja aku jongkok. Buggkk!!! Kepalaku terkena bola basket. Spontan ku jatuhkan buku paket hingga berserakan dilantai.
     "Awwh, sakit." rintih ku kesakitan memegang kepala.
     Aku mendengar salah satu dari mereka yang memainkan bola untuk bertanggung jawab. Seorang cwopun datang  menghampiri ku. "Kamu gak apa-apa?" tanya seorang cwo.
     "Cuman sakit bagian kepala aja, kok." jawab ku dengan memegang kepala yang sakit. Ketika ku melihat keatas, aku teringat sesuatu. Beberapa detik ku melamun. Ya ampun mata nya bulat coklat, hidung nya mancung, kulit nya bersih nan putih dan terdapat lesung pipi yang menambah manis senyumnya. Segera ku alihkan pandanganku pada buku yang tadi ku jatuhkan. Dia pun ikut membantu.
      "Maaf, aku gak sengaja melemparkan bola pada mu. Jadi sekali lagi aku minta maaf, boleh?" pinta nya. 
      Aku mengangguk.Ku rebut buku yang ada di tangan nya. Ku berdiri lalu pergi.
      "Bisa aku bantu?" tanya nya dari kejauhan.
      "Oh, tak apa aku bisa, terimakasih atas tawarannya." jawab ku dengan menundukan kepala mengarah padanya. Andai Lusi tak neninggalkanku, pasti ini tidak akan terjadi.
      "Permisi." ku masuk kelas.
      "Ayya, lama banget, sih! Dari tadi aku tungguin  kamu." ujar Lusi kesal.
      "Kenapa kamu ninggalin aku? Hampir aja aku geger otak." aku menggerutu.
      "Kamu kenapa? Kena lempar bola? Sama si Bayu?" tanya nya panjang.
      "Kok kamu tahu aku kena lempar bola? Siapa Bayu?" ku tanya balik.
     "Kamu gak tahu dia siapa?" Lusi balik nanya.
     "Enggak." aku menggeleng.
     "Ya ampun, Ayya." Lusi memegang pundak ku dengan mata membulatkan matanya. Memangnya penting aku tahu?.








Haiii readers ...
Jangan lupa vote dan comment oks

Jadi Milik Ku SelamanyaStories to obsess over. Discover now