Dia Vernon.
Anak lelaki di sekolah yang paling nakal, berandal, tidak sopan, dan miris disaat bersamaan.
Intinya hal - hal yang buruk dan jahat ada di anak lelaki bernama Vernon ini, tak ada hari dimana si Vernon ini tak pernah mengganggu kami.
Dia paling ditakuti disekolah.
Tapi harus kuakui, dari tingkah menjengkelkan dan menyebalkannya itu menyembunyikan wajah tampannya.
Dia duduk di pojok ruangan kelas, tempat langganan para berandal sekolah berada, nilainya selalu buruk, dia selalu tertidur di kelas, kalau tidak tidur Vernon ini akan memainkan telfon genggam canggih miliknya.
Dan sialnya, itu keluaran terbaru.
Aku tak perduli dengan itu.
Sepertinya dia juga bukan keturunan asli dari Korea, wajahnya lebih berbeda dari kami yang berwajah oriental.
Jika kalian bertanya pernahkah aku menjadi targetnya? Tentu, aku pernah mengalami itu.
Namun tak seperti teman - temanku yang lain, aku tak pernah merasa takut padanya, sekalipun tidak!
Sebaliknya, aku selalu tertantang bila berada di dekatnya.
Seolah, itu adalah cara terbaikku untuk merubahnya dari sifat jelek miliknya.
Aku tahu itu cara yang lucu untuk mengkhawatirkan seseorang.
Beda dengan Vernon, aku adalah anak yang pintar dan rajin, walaupun tak selalu jujur, baik dan ramah, setidaknya aku berada di sepuluh besar ranking tertinggi di sekolah.
Hari itu hujan turun.
Dan itu pertengkaran terakhir kami, aku dan Vernon.
Dia datang terlambat ke sekolah, dengan bajunya yang basah, air hujan itu menetes pada lantai dan membuat genangan licin.
Dia duduk di kursi tempatnya melakukan ritual harian disekolah, dengan tenangnya tanpa memperdulikan bajunya yang basah atau hawa dingin ia tertidur dengan lelap, seolah rasa dingin dari baju dan angin tak membuatnya menggigil sama seperti kami, mungkin ia sudah terlalu dingin untuk merasakan dinginnya hari itu.
Kang Ihna, si ketua kelas terpeleset akibat genangan air yang dibawa oleh si Vernon itu, dan ia tetap tidak perduli seperti biasanya dan kami pun akhirnya bertengkar.
"Kau, selalu berhasil membuatku jengkel, Boo Seungkwan"
Dan itu kata - kata terakhirnya sebelum ia bangun dari duduknya dan pergi dari ruang kelas.
Jujur, saat itu hatiku mencelos luar biasa.
Tiga hari berikutnya ia tak masuk ke sekolah, para guru tak menanyakan keberadaannya, mungkin mereka malah merasa bersyukur dengan hilangnya si Vernon, anak lelaki bermasa depan suram itu.
Teman - teman sekelasku juga mengatakan hal itu.
"Bukankah bagus bila si Vernon tidak pernah ada disini lagi?"
Dan rasanya aku ingin menamparnya, sungguh, ini terasa menyedihkan pasti untuk Vernon.
Entahlah aku tidak sepenuhnya yakin.
Hari - hari berikutnya tak ada lagi yang membicarakan dirinya, dan aku tenang - tenang saja, toh, siapa yang mau membicarakan tentang anak nakal tak jelas?
Dan akhirnya dia terlupakan.
Hari kelulusan tiba, dan dia tak pernah kembali, mungkin anak itu sudah menjadi gembel atau pencuri handal, seperti mengambil telfon genggam canggih keluaran terbaru itu.
Setelahnya aku masuk ke perguruan tinggi terkenal di Seoul, masuk dalam jurusan yang kudambakan sejak dulu, serta semuanya yang berjalan lancar padaku.
Mempunyai teman banyak dan juga seorang kekasih yang sangat perhatian.
Tahun - tahun berlalu, aku bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah kantor yang tidak kecil dan juga tidak besar, hanya sebuah kantor pemasaran.
Tak ada yang bermasalah dari hidupku dan semua baik - baik saja.
Dan suatu hari, sekolah mengadakan reuni untuk angkatan ku, dan akupun datang kesana walaupun tanpa kekasihku.
Disana kami bercengkrama dan berbicara tentang masa - masa sekolah yang menyenangkan, topik - topik tentang dulu yang sering kita bicarakan dan tentu, topik tentang anak nakal muncul begitu saja.
Semua disebutkan, kecuali satu itu, Vernon.
Tidak ada yang mengenal anak itu, aku sebutkan dan jelaskan kriteria jelas dari Vernon tapi tidak ada yang mengenalnya juga.
Kemudian aku pulang dan dan mencari akun sosial miliknya di telfon genggamku.
Lucu, aku masih mengingat jelas tentang dirinya yang dilupakan.
Aku mencari laman Facebook dan Myspace miliknya dan hasilnya nihil.
Aku bertanya pada teman ku yang lain, dan dengan Kang Ihna, di Email dan tak satupun dari mereka yang mengenal Vernon.
Dan semua balasan itu selalu sama
"Siapa Vernon? Tak ada yang bernama Vernon dulu"
Tidak ada yang mengenal barang setitik pun dari anak lelaki itu.
Tak ada jejak sedikit pun bahwa anak ini pernah ada dan nyata.
Seolah dia terhapus dari sejarah ingatan semua orang.
Kecuali aku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Terinspirasi dari creepypasta berjudul "the boy"
YOU ARE READING
Vernon Chwe
FanfictionDia menghilang bagai ditelan bumi, sejarah melupakannya, memori dan kenangan pun tak pernah mengingatnya ada. Namun, dia ada hanya kerena satu alasan. Dan dia kembali dengan nama Choi Hansol, untuk Boo Seungkwan. Verkwan 04/12/17
