Namaku Wildan Firzio, tapi teman-temanku sering memanggilku Wifi. Kata mereka aku cowok paling imut dan termanis disekolah (gula kali manis).
Tapi bener loh, banyak orang mengira aku ini cewek dan parahnya lagi aku dikira anak SMP padahal saat ini aku sudah kelas 2 SMA. Apa mereka tidak melihat tubuhku yang tinggi 180 cm ini, dan juga pasti kelihatankan dari seragam yang aku gunakan.
Selain itu, aku suka hal-hal yang imut dan juga manis apalagi kalau berhubungan dengan namanya kue, itulah alasan kenapa aku suka memasak. Atau.... Itu alasan kenapa aku imut dan manis yaa.... Hahaha enggaklah.
Aku mempunyai seorang kakak, namanya Fino Firzio. Aku dan dia berbeda 100%. Pokoknya jauhlah. Aku yang memiliki wajah imut dan manis kalau dibandingkan dengan wajah dia yang tampan dan apalah lagi kelebihannya, intinya aku dan dia sangatlah jauh berbeda. Makanya tidak ada yang percaya kalau kami bersaudara. Dan ada juga yang bilang kalau aku bukanlah adik kandungnya. Apalah kata orang, dia tetaplah kakakku dan selamanya begitu.
Hari itu adalah awal pertama masuk sekolah.
"Hai Wifi, lo beneran pengen nembak dia?" Tanya Ryan saat kami melewati beberapa kelas.
"Benerlah, gue udah lama suka sama dia. Dan sekarang adalah waktu yang tepat." Jawabku yang penuh percaya diri.
Saat ini aku sedang jatuh cinta, pada si dia. Namanya Vioni. Dulu kami satu kelas dan sekarang kami beda kelas. Dia dikelas 2-B dan aku 2-A. Meskipun beda tapi ruangan kelasnya dekat dengan kelasku. Yes.
Bagiku dia itu cantik, kulitnya putih langsat dan sikapnya juga ramah. Itulah yang aku suka.
"Bukannya gue gak dukung elo sih, tapi kalau elo gak bergerak cepat mungkin...." Kalimatnya terpotong saat kami melintasi kelasnya.
Dan aku paham sekarang, kalau aku gak bergerak cepat mungkin sudah didahului abangku. Tapi, namanya penyesalan pasti datangnya belakangan. Aku melihat dia sudah ditembak oleh abangku. Kau tahu, hatiku sakit sekarang. Apalagi dia, abangku.
Entah sejak kapan dia tahu kalau aku menyukai Vioni. Akhir-akhir ini dia selalu merebut semua cewek yang aku suka. Dia sudah ganteng, populer lagi. Siapa sih yang bakal nolak dia? Secara itu yang paling para cewek suka.
"Yan, pergi yuk. Pemandangan di depan tidak layak untuk dilihat." Aku mulai kesal.
Ryan yang sudah paham kondisiku saat ini juga ikut cabut.
----
Dirumah, aku langsung melabrak abangku yang baru datang.
"Kak, maksudmu apa sih yang tadi. Kakak sengaja yaa?"
Aku tau dia sengaja, tapi alasannya apa? Untuk apa dia melakukan itu.
"Kalau iya emangnya kenapa? Marah. Mau nonjok. Nih tonjok kalau mau. Tapi dengan muka kayak gitu emang tahu caranya nonjok. Kamu itu cocoknya main boneka atau mungkin main...." Tanpa tunggu aba-aba aku langsung menyerangnya. Tapi sepertinya dia menyadari pukulanku, dia menahannya dan mulai menyerang balik. Dia mengunci pergerakanku saat ini.
"Kamu itu gak pantes dapat cewek secantik dia. Kamu itu cocoknya sama cowok. Dengan wajahmu ini mungkin banyak yang tertarik, tapi sayang bukan cewek." Lanjutnya.
Aku merasa dia tersenyum puas melihatku kalah.
"Apa maunya kakak sih? Apa salahku?" Aku mencoba melepaskan diri tapi sayang dia terlalu erat mengunci tanganku.
"Aku benci....." Bisiknya.
YOU ARE READING
The Bakery
Teen Fiction"....Ada yang bilang hidup itu seperti roti. Berawal dari berbagai bahan kecil seperti tepung, gula, ragi, dan lain-lainnya. Sedangkan hidup, berawal dari berbagai ilmu/pelajaran dan juga pengalaman yang bisa kita ambil untuk mengubah diri kita menj...
