Prolog

3 0 0
                                        

Langit malam terlihat Indah dengan latar belakang awan hitam kelam dan di hiasi dengan kerlap kerlip Bintang yang menambah keagungan malam ini. Arisha berdiri di balkon kamarnya menatap ke atas melihat sang bintang yang berpendar Indah.

Pikirannya melayang pada kejadian di mana ia mendapatkan cicin Indah bermata biru yang kini ada di genggamannya.

"Astaga kenapa ada sih gadis jelek sepertinya? Dan kenapa juga si Roy itu selalu membelanya."gerutu salah satu gadis dari gerombolan itu.

"Iya kenapa juga si Roy itu melain terus si Arisha."setuju gadis lainnnya dari gerombolan itu.

Sekarang Arisha sedang berada di ruang penyimpanan barang untuk mengambil barangnya. Dan tak sengaja ia mendengar percakapan yang menjelekkan dirinya. Ia sudah kebal dengan hal itu jadi dia merasa biasa walaupun masih ada perasaan sakit di hatinya mendengar cemooh an orang tentang rupanya yang tak cantik.

Arisha masih berdiam diri dalam gudang penyimpanan barang sampai gerombolan para penggosip itu pergi dari sana.

Arisha sedang ada di bumi perkemahan dekat dengan gunung Merapi yang ada di Yogyakarta karena kantornya yang ia tempati bekerja sedang mengadakan kemah. Anehkan biasanya kantor lain akan mengadakan acara liburan bukan perkemahan. Yah mau bagaimana lagi ia cuma karyawan biasa hanya bisa mengikuti kemauan bos besar.

Arisha berjalan keluar dari gudang penyimpanan dengan langkah lesunya kembali ke tenda yang ia tempati.

"Hei Arisha."panggil sebuah suara yang menghentikan Arisha untuk masuk ke dalam tenda.

Arisa melihat ke arah orang yang memanggilnya dengan dahi yang berkerut. Orang itu mendekat ke arah Arisha dan berdiri congak di hadapannya.

"Lo cari kayu bakar di hutan buat api unggun, nanti malam."perintahnya dengan nada sinis dan tatapan enggan nya.

Arisha hanya menggangukkan kepalanya mematuhi. Arisha berjalan sendirian ke arah hutan yang tak jauh dari bumi perkemahan nya berada. Karena bumi perkemahan itu terletak di pinggir Alas(hutan).

Sudah satu jam lebih Arisha mengumpulkan ranting-ranting pohon yang ia jumpai di pinggir hutan.

"Kayaknya udah cukup nih."gumamnya ia sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang. Menyeka keringat yang jatuh di wajahnya. Walaupun udara di sini dingin namun karena terlau banyak bergerak ia jadi berkeringat.

Saat ia memejamkan matanya dan bersandar di pohon itu sebuah suara sayup-sayup terdengar.

Tolong …Tolong

Arisha membuka matanya mempertajam pendengarannya. Dan suara orang meminta tolong terdengar lagi. Tak menunggu waktu lama Arisha segera bangkit dan mencari Sumber suara itu.

Tak lama ia menemukan perempuan tua yang tengah terjatuh dan di atasnya terdapat tumpukan kayu.

Arisha tak menungu lama ia segera menyingkirkan kayu dari tubuh wanita tua itu dan membantunya duduk.

"Apa anda baik-baik saja nek?"tanya Arisha.

"Aku baik-baik saja nak, terimakasih telah menolongku."ucap sang nenek tulus.

Arisha hanya mengganggukan kepalanya dan tersenyum manis kepada sang nenek.

"Rumah nenek di mana? Akan ku antar nenek sampai ke sana."tawar Arisha tulus sambil membantu sang nenek bangun berdiri. Ia juga membantu membawakan kayu bakar milik nenek itu.

Mereka berjalan beriringan perlahan membelah lebatnya hutan di kaki gunung Merapi menuju sebuah gubuk reot milik nenek yang Arisha bantu.

"Terimakasih telah menolongku nak."ucap sang nenek lagi setelah mereka sampi di gubuk reot milik sang nenek.

Arisha tersenyum ramah."Ini sudah kewajiban ku nek untuk menolong orang yang sedang kesusahna."

Sang nenek menatap ke arah manik mata Arisha yang perpendar ketulusan dan kebaikan di dalamnya. 

Nenek itu mengeluarkan sesuatu dari gembolan yang di bawanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

"Gunakan cicin ini, gunakan sebaik mungkin. Aku percaya karena kau memiliki hati yang baik. Dan ingat jangan sampai cicin ini jatuh ke tangan yang salah."ucapnya sambil menyerahkan cicin bermata biru ke pada Arisha.

Arisha menerima cicin itu dan melihatnya. Cicin yang indah berwarna emas dan memiliki mata biru tua yang sangat indah.Saat ia ingin mengucapkan terimakasih kepada orang yang tadi memberikannya sebuah cicin yang Indah ini.

"Terim…" ucapnya terhenti saat ia menyadari kalau tak ada orang di dekatnya. Dan gubuk yang ada di belakangnya menghilang entah ke mana bersama sang nenek yang tadi ia tolong.

Gadis itu menengok ke kanan, kiri dan ke belakang namun nihil tak ada seorang pun di sana. Hingga sebuah suara mengitrupsinya.

"Jaga baik-baik cincin itu, cincin itu akan sangat bermanfaat bagimu."ujar sebuah suara yang menglegar di hutan itu.

Arisha menatap cicin itu dan menyimpannya di dalam saku celananya. Ia melangkah pergi kembali mencari jalan keluar dari hutan itu.

Dengan itu sebuah keajaiban akan di mulai yang akan mengubah hidup Arisha.

•••••••••

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Magic RingWhere stories live. Discover now