Baca hingga bawah untuk mengetahui pengumuman penting yang terlampir.
[A]lexandra Clare mencoret buku sketsanya dengan frustasi. Ia merobek halaman buku sketsanya lagi. Sore ini, suasanya hatinya terasa agak buruk, entah mengapa. Imajinasinya tidak mengalir lancar seperti biasanya.
Padahal sehabis bangun tidur siang tadi, Alexandra seolah mendapat pencerahan. Ia memimpikan padang berumput tersembunyi di atas bukit yang dikelilingi oleh pohon pinus tinggi yang di tumbuhi oleh beragam macam bunga liar yang terkesan menyenangkan.
Alexandra mulai menggerakkan pensil gambarnya lagi. Dengan putus asa, Alexandra mencengkram kertas gambar itu lagi dengan kesal dan agak frustasi, membuat tangannya mendadak seolah terbakar dan mengubah buku gambar itu menjadi kobaran api kecil di atas meja belajarnya.
Alexandra tersentak dengan agak panik. Ia meraih gelas kaca yang terletak di pinggiran meja, dan menyiram buku gambar tersebut dengan tergesa-gesa hingga apinya sedikit padam. Butuh usaha lebih untuk memadamkan api tersebut, sehingga Alexandra terpaksa mengambil segayung air di kamar mandi dan menumpahkannya ke atas buku sketsanya hingga api tersebut benar-benar padam.
Alexandra mendesah pelan. Terjadi lagi.
Kenapa semua ini selalu terjadi kepadanya?!
Alexandra mengerang kesal dan mengembalikkan gayung tersebut ke kamar mandi. Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk melupakan kekacauan kecil yang diperbuatnya tadi.
Tapi dia tidak bisa.
Alexandra bangkit dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Kejadian ini selalu terjadi berulang-ulang, membuatnya selalu merasa jengkel setengah mati. Jika Alexandra tidak mampu mengontrol emosinya dengan baik, maka api akan berkobar dari tubuhnya dan menghanguskan segala macam benda yang tengah disentuhnya.
Dan Alexandra selalu memganggap dirinya sial karena memiliki kekuatan elemen semacam itu.
"Alexandra?" Suara bibinya—Jocelyn Clare—terdengar dari luar kamar, "aku sudah menyiapkan makan siang."
Alexandra mengerang pelan. "Sebentar lagi, Bibi. Aku akan menyelesaikan sketsaku terlebih dahulu," dustanya, "aku akan segera turun nanti."
"Lima menit!" Jocelyn berseru dari luar kamar.
Setelah tidak terdengar suara lagi, Alexandra menghela nafas lega. "Baiklah, pertama-tama aku akan membereskan kekacauan ini terlebih dahulu," gumamnya kepada diri sendiri.
Alexandra bergegas membersihkan sisa air yang meluber di atas meja belajarnya dengan tisu hingga bersih tak berbekas, kemudian membuang tisunya dan bergegas memasuki kamar mandi untuk menggosok gigi.[]
Oke, sebelum ini, gue bakal minta maaf.
Cerita awal The Elementals bakalan diulang dengan alur yang bebeda. Karena jika memaksakan menggunakan ide alur yang pertama jalan ceritanya akan terasa aneh dan terkesan memaksakan.
Karena itu, gue memutuskan untuk membuat seri The Elementals diubah. Alurnya akan berubah dan melenceng dari alur awal, sifat antar tokoh, juga cara penyampaiannya yang diharapkan lebih baik lagi.
Terimakasih yang sudah membaca.
Depok, 20 Oktober 2017.
YOU ARE READING
The Elementals
FantasyThe Book One Of Triology The Elementals. Alexandra Clare adalah seorang gadis spesial yang tinggal di Florida, Amerika Serikat. Kehidupannya berjalan dengan cukup sempurna. Di usianya yang kelima belas, Bibinya-Jocelyn-memutuskan untuk mengirim Alex...
