"Rindu ini tak berujung temu, semula baik-baik saja dan lalu mati rasa,"
Aku turun dari motor hitam yang di kendalikan oleh pria ini. Aku merapikan rambutku yang berantakan akibat angin pagi. Lalu pria ini menatap ku, seperti biasanya. Itu adalah kebiasaan pria ini, dia selalu saja menatap ku sehabis mengantarkan ku ke sekolah. Lalu,
"Kamu belajarnya yang bener, jangan ngecewain orang tua kamu," ujarnya setelah mengelus-ngelus kepala ku. Aku merasa nyaman saat dia melakukan itu dengan ku.
Dua tahun yang lalu, aku pernah berharap, bahwa tidak ada temen sekolah ku yang tahu pria ini.
Dan....
Aku salah besar. Ternyata sebagian temanku tahu, bahkan kakak kelasku juga tahu tentang pria ini.
Satu hal yang selalu ku takuti adalah di bully oleh kakak kelas ku, setelah mereka tahu tentang pria ini.
2 tahun lalu.....
Aku tidak tahu, pria yang baik ini adalah pria tampan yang selalu jadi dambaan para kaum hawa di sekolahnya.
Letak sekolahnya hanya beda beberapa km dari sekolah ku.
Aku tidak tahu bahwa pria ini adalah pria yang sangat populer di sekolahnya bahkan nama dia sampai tercium di sekolah ku. Semua kakak kelas ku tahu tentang pria ini.
Itu adalah sebab mengapa para kakel-kakel ku pada membully ku di sekolah termasuk Keira.
Keira adalah anak kelas sepuluh yang bergaul dengan anak kelas dua belas.
Pada saat itu, aku hanya bisa diam, aku tidak berani mengatakan ini pada pria ini. Pada saat itu aku masih kelas sepuluh, jelas aku sangat takut dengan kakak kelas yang wajahnya menyerupai monster.
Aku selalu berusaha menahan rasa sakit yang di beri oleh kakak kelas ku. Aku di teror dan selalu di teror. Setiap saat bahkan.
Aku hampir frustasi dengan tindakan-tindakan yang mereka lakukan padaku.
Hingga tanggal 30 April 2015, aku memutuskan untuk membuat jarak dengan pria ini. Aku tidak akan pernah mengatakan apapun tentang tindakan yang di beri kakak kelasku kepadaku. Aku akan siam, dan terus menjalaninya dengan tegar.
Bukannya aku tidak ingin mempertahankan hubungan kami. Hanya saja aku tidak ingin kedua orang tua ku sedih ketika melihatku hanya mengurung diri di kamar.
Belum sampai seminggu aku menjauhi pria ini, aku malah sudah mendapatkan musibah lagi. Suatu hari di depan kelas X IPA 1, pada pukul 14.35 seluruh siswa siswi seisi sekolahku berkumpul di depan kelas ku. Pada saat itu, aku lagi jadwal piket, jadi, awalnya aku tidak perduli dengan keributan yang terjadi. Namun, perlahan keributan itu semakin mengganggu ku, dan hampir membuat seisi sekolah ku masuk ke dalam kelasku.
Aku tidak tahu apapun. Namun, tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku, dan menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku di tarik hingga ke sekumpulan siswa siwi. Aku melepaskan tangan ku dengan paksa dari genggaman pria ini.
Ku lihat pria ini mulai mengambil sebuah mic untuk berbicara dengan kuat.
"SIANG,"
YOU ARE READING
Nicky
Teen Fiction"Satu, dua." Lilly memetik jarinya. Nicky sedikit menjauh dari jari Lilly. "hm?" sambil menaikkan alis kanannya. "Jangan natap cewek lebih dari dua detik, kalau memang lo gak mau suatu saat cewek itu suka sama lo." jelas Lilly. Nicky sedikit terk...
