Jika tiada lagi kepercayaan Apakah aku bisa bertahan?
Serangkaian hidup memang tidak pernah berjalan semestinya. Ini kisah hidupku dimana nalar mereka tidak percaya dengan apa yang telah aku alami. Mereka hanya berfikir bualan belakang. Aku tak pernah memaksa mereka agar mereka mempercayai apa yang telah terjadi. Semua ku serahkan kepada nurani mereka karena apalah sebuah paksaan jika hanya percaya di mulut saja tidak di dalam nurani
Aku dan rumah sakit mungkin tak akan pernah berjauhan. Bagi pelajar lainnya rumah ke dua adalah sekolah. Tapi, tidak berlaku bagiku. Rumah kedua ku adalah rumah sakit. Ingin rasannya ku terpelanting dari rumah sakit. Menjauhinya dan mencari tempat yang lebih menyenangkan. Tapi itu tidak mungkin terjadi. obat adalah sahabat terbaik. Walaupun aku tak pernah baik dengan obat. Rumah sakit, obat, dokter alah lelah lah melihat tampang mereka selalu.
Aku dani, terlahir dengan segala penyakit. Aku bersyukur bisa bernafas hingga umur sekarang. Tapi aku tidak pernah bersyukur memiliki lingkungan yang mengganggap aku bohong dengan segala penyakitku. Aku dianggap mengada ada semua ini. Seolah olah aku bisa menentukan jadwal sakitku. Padahal mereka tidak tau apa yang ada dibenakku. Aku juga tidak pernah menginginkan sakit. Tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Aku sangat ingin seperti mereka yang sehat selalu. Aku iri dengan semua orang yang belum pernah ber urusan dengan rumah sakit.
Aku jauh dengan orang tuaku. Aku hidup di perantauan. Hidup di kota orang. Aku tinggal bersama abang, abang sepupu. Kami tinggal ber tiga dirumah. Mereka lah yang mungkin percaya dengan kondisiku karena melihat dengan bola mata mereka jika aku memang bener menginap penyakit yang nalar lingkungan sekolah ku mengganggap bohong.
Aku selalu ingin pergi kesekolah. Tertawa bersama mereka. Tapi, kondisi selalu tidak mengizinkan tawa itu ada.
Mereka tidak pernah paham bagaimana menahan perih penyakit ini dan perih fitnah yang tertuang dari mulut mereka.
Mencoba bertahan pada kondisi yang dianggap pembohongan.
Ada secuil puisi yang aku buat dikala aku sedang merasakannya.
Air mata
Mereka selalu menyeretku agar
Bermelodi dengan tangisan
Menikmati dinginnya air yang
Tercurah dari bola mata
Air mata selalu menjadi buktiku
Jikala mulut tak dipercaya oleh nalar mereka
Hanya mampu menetes
Tak menyerang
Lemah memang
Sebagai diriku.
Puisi yang mewakili naluri, nurani, dan sukma ku. Aku tak perdah berdaya tentang apa yang mereka lakukan padaku. Kejam memang mereka tak pernah mengerti perasaanku. Aku hanya tertusuk oleh duri yang tercurah dari mulut singa mereka. Terpukul dengan semua tuduhan mereka. Lemah, sangat lemah.
Ini kisah yang ku alami setahun yang lalu dan hingga sekarang. Tapi, aku ingin mengakhiri semuanya. Lelah aku menyerah mencoba mempercayakan mereka kepadaku. Tak ada sedikit respon positif tentang itu. Aku menyerah dengan semua keadaan sekarang. Aku serahkan pada siapa yang ingin membantuku melepaskanku dari jeratan para mulut singa.
Setidaknya, aku punya pengalaman hidup bagaimana bertahan di dalam ketidak percayaan orang sekitar kepada kita. Sedangkan kita sudah semaksimal mungkin jujur kepada mereka. Yah. Perjuangan mungkin sampai disini soal ini. Soal dimana aku tidak dipercaya sakit.
Iya, aku memang berdoa jahat kepada mereka. Berdoa agar mereka lebih merasakaan apa yang aku rasakan sekarang. Tapi, mungkin percuma. Ngapain coba kejahatan dibalas dengan kejahatan. Maka dari itu aku mencoba berdoa yang terbaik bagi mereka yang bermulut singa. 🙂
Aku berharap sangan berharap keputusan bulat ku kali ini tidak salah dengan hidupku, aku akan mencoba lebih baik di mata orang baru nanti. Aku hanya bisa mengucap terima kasih pada mereka yang telah mempercayai atau tidak sama sekali. 🙂❤️
