"Hei, kau kenal dia?"
"Siapa?"
"Pemuda itu" Namja tampan bersurai blonde itu menunjuk ke arah kirinya dengan dagunya. Ia tak mau seseorang yang ia pandangi sedari tadi sadar bahwa seseorang itu menarik perhatiannya.
Yang ditanya mengernyit setelah menoleh kearah yang ditunjuk. arah kiri mereka terlalu ramai orang. Wajar saja, saat ini mereka tengah berada di halte berniat menunggu bis tentu saja. Langit yang saat ini tengah galau karena terus saja menangis dari pagi tadi membuat halte yang biasanya sepi itu menjadi ramai.
"Yang memakai sweater biru dan berambut perak itu"
Taehyung mendengus, temannya ini memang agak sedikit mengalami masalah dengan penglihatannya.
"Itu bukan perak bodoh, tapi biru yang mulai luntur. Pakai kacamatamu!"
"Hehehe maaf, aku lupa membawanya"
Taehyung mendengus lagi. Bagaimana bisa namja bersweater biru itu menarik perhatian temannya, Park Jimin? Padahal untuk warna rambutnya saja tidak terlalu jelas dimatanya.
Tunggu, bagaimana Taehyung tahu bahwa Jimin sedang tertarik pada namja itu? Ayolahh..hanya orang bodoh yang tidak sadar cengiran-cengiran kecil dan tatapan mendamba yang sedari tadi Jimin tunjukkan itu. Ya, Taehyung tahu namja itu tengah jatuh cinta. Jatuh cinta? Bagaimana bisa? Taehyung mengernyit lagi.
"Tidak, aku tidak mengenalnya"
"Huft, kukira ia salah satu staff dari kantor kita" ucap Jimin lemah.
"Entahlah. Setahuku dikantor kita tidak ada staff semanis itu" Jawab Taehyung pelan tidak ingin orang-orang yang sedari tadi masih berdiri disekitar mereka sambil menatap hujan mendengar perkataannya. Gila saja, ia mengomentari manis untuk seorang namja? Yaa walaupun kenyataannya memang manis, Taehyung tidak akan terang-terangan mengatakannya didepan khalayak ramai seperti itu.
Taehyung masih punya malu
Tidak seperti temannya yang satu ini
"DIA MANIS? SUDAH KUDUGA!"
Refleks semua orang ditempat itu menoleh pada mereka. Bahkan suara hujan yang deras bisa kalah dengan suara lengkingan nan cempreng dari sahabatnya itu.
"Jimin!" Taehyung panik tentu saja. Bagaimana tidak, akibat pekikan itu namja yang sedari tadi menjadi bahan obrolan mereka menoleh, memandang mereka dengan pandangan yang seolah mengatakan 'kalian mengganggu!' itu.
Jimin terkekeh, sedangkan Taehyung hanya memukul lengannya keras.
"Kau berhasil mencuri perhatiannya Jim. Selamat"
"Brengsek kau" umpat Jimin lalu melangkah kedalam bis yang baru saja datang menjemput mereka. Matanya masih tak lepas pada namja yang masih berdiri disana dengan memegang sebuah payung berwarna merah muda yang baru saja dibukanya dan meninggalkan halte tersebut.
Jimin menaikkan alisnya bingung. Jadi, namja itu tidak sedang menunggu bis? Padahal Jimin sudah berharap banyak dengan menyisakan bangku kosong disebelahnya sampai harus mengusir Taehyung untuk duduk dikursi paling belakang. Untung saja Taehyung mengerti bahwa sahabatnya itu tengah gila. Kalau tidak, ia sudah mencekik Jimin saat dengan mudahnya Jimin mengatakan
"Hari ini kau duduk dibelakang ya. Hehe"
❇ FALL ❇
Terjadi lagi
Ditempat yang sama
Dihalte
Bedanya kali ini cuaca sedang cerah dan Jimin sedang sendirian. Dimana Taehyung? Sepulang bekerja ia langsung pergi menyusul kekasihnya yang menunggunya dilobi. Bermaksud ingin berkencan tentu saja.
