Distorsi

23 0 0
                                        

Rifka mendengar suara berisik dari toilet cowok di sebelah. Dia mematikan keran air di wastafel dan mengeringkan tangan sambil menajamkan telinga.

Ada suara tawa beberapa cowok dan suara air. Mereka berbicara tapi tidak terdengar jelas dari toilet cewek tempat Rifka sedang mematung. Kemudian ada suara sesuatu dibanting dan suara yang bercakap-cakap itu keluar dari toilet cowok dan menjauh.

Rifka memastikan jari tangannya sudah bersih dari noda tinta spidol, lalu memasukkan saputangan ke saku roknya. Dia berjalan ke luar toilet, tapi langkahnya terhenti saat berada di depan pintu toilet cowok. Dia bimbang sejenak. Setelah melihat tidak ada orang lain di koridor, Rifka masuk ke toilet cowok.

Lantai toilet becek oleh air yang tergenang dan berwarna cokelat karena tanah. Lantai toilet cewek juga agak kotor, hal yang biasa apabila ada pelajaran olahraga di lapangan. Tapi tidak sejorok toilet cowok. Mereka seharusnya menggunakan toilet di lantai satu seusai pelajaran olahraga.

Rifka masuk semakin dalam ke toilet cowok yang memanjang ke kanan. Di dinding terjauh, ada seseorang yang duduk di lantai yang basah dengan dua kaki terjulur ke depan. Sebenarnya orang itu juga basah, dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Seragamnya selain basah juga bernoda tanah. Sebuah ember terguling dekat kakinya. Kepalanya tertunduk, rambutnya yang basah menutupi sebagian wajah. Tapi Rifka bisa mengenalinya. Anak laki-laki yang tampak menyedihkan itu adalah anak baru yang masuk di kelas XI, sebulan yang lalu.

"Kamu mau sampai kapan duduk di situ?" tanya Rifka. Dia bersandar pada dinding bilik toilet sambil menyilangkan tangan.

Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya. Mata cokelat tampak dari balik rambut yang meneteskan air.

"Jangan tunjukkan wajah seperti itu. Aku bukan mereka yang bisa tertipu oleh wajah ayo-bully-aku yang kamu tunjukkan." Rifka menatapnya sambil mengernyit.

Si pemilik mata cokelat menekuk kaki kanannya dan mengangkat tangan kanannya sambil menyangganya di lutut untuk menyibakkan rambutnya yang basah ke belakang.

"Wajahku memang seperti ini, mau gimana lagi?" ujarnya.

Rifka berdecak. "Yang benar saja, Claudio."

"Dio, panggil Dio saja."

Dio mengangkat kacamatanya yang sejak tadi dipegangnya dengan tangan kiri. Dia hendak mengelapnya dengan bagian depan seragamnya tapi urung, karena seragamnya basah kuyup. Akhirnya dia mengenakan kacamatanya yang masih basah. Setelah itu dia perlahan-lahan berdiri. Air menetes-netes dari rambut, bagian bawah kemejanya, dan ujung celana panjangnya.

"Seharusnya kamu hajar anak-anak tadi," kata Rifka.

"Nggak boleh berkelahi di sekolah," balas Dio kalem. "Lagipula, ini hanya semacam sambutan untuk anak baru."

"Ini sudah keterlaluan. Sudah masuk kategori bullying di sekolah," kata Rifka lagi. "Kita bisa ke kantor kepala sekolah dan melaporkan mereka sekarang."

"Nggak perlu. Aku baik-baik saja," tolak Dio, memeras air di ujung kemejanya.

"Yeah, tentu. Dan mereka akan menindasmu lagi besok."

"Sudahlah, jangan terlalu khawatir," ujar Dio.

Rifka tertawa. "Aku nggak mengkhawatirkanmu. Aku nggak suka penindas."

"Oh? Gimana kalau kamu saja yang membalas mereka?" usul Dio, berdiri di hadapan Rifka.

Rifka agak mendongak untuk menatap mata cokelat Dio di balik kacamatanya yang berair.

"No, thanks. Aku nggak membalaskan dendam untuk orang lain," kata Rifka, mundur selangkah, menghindari panas yang menguar dari tubuh Dio. Tubuh Dio beruap, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

DistorsiWhere stories live. Discover now