(1)

44.8K 2.5K 43
                                        


Seorang wanita menengadahkan telapak tangannya demi menangkap tetesan air hujan. Wanita yang memakai kemeja putih dengan blazer hitam serta rok senada itu mendesah lelah. Pulang kantor harusnya sudah bersama sang buah hati, menghangatkan diri di apartemen tapi kini harus terhalang hujan deras yang sejak satu jam lalu mengguyur jalanan New York. Dulu sekali ia mencintai hujan tapi kini berkah yang diberikan Tuhan itu seolah jadi kesialan. Hujan menandai dua hal dalam kehidupannya, kebahagiaan dan juga kesedihan.

Wanita yang menenteng tas hitam keluarin Brand Chanel itu mendesah, ketika menatap langit yang semakin gelap dan sesekali di hiasi kilat. Kapan hujan ini akan reda. Tapi keberuntungan selalu di pihaknya. Seorang pria tiba-tiba datang membawa payung hitam, yang langsung menaungi dirinya.
"Pulang yuk, Ray."

Senyum di bibirnya yang tipis timbul. Ia dengan manik hitamnya menatap penuh rasa harap. "Aku kira kamu gak jadi jemput."

Kemal tersenyum geli, lalu merengkuh pinggang Raya agar tubuh mereka berdekatan. Di dalam dinginnya musim hujan, keduanya harus saling menghangatkan diri bukan? Sebuah mobil suv hitam sudah menunggu mereka di dekat jalan. Keduanya berjalan bersama selayaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Key sebagai seorang pria, membukakan pintu untuk permaisuri hatinya. "Aku juga udah jemput Raja di sekolah."

"Tapi kamu gak beliin mainan yang dia minta kemarin 'kan?"

"Im sorry.. aku gak bisa nolak kemauan dia."

Raya menyipitkan mata tak setuju, kedua tangannya ia lipat di depan dada sambil duduk di jok yang empuk. "Aku udah bilang, jangan manjain dia."

"Sekali ini aja, besok-besok nggak. Please honey..."

Raya malah semakin melotot. "Kamu udah bilang begini puluhan kali tapi kamu selalu langgar."

"Aku gak bisa nolak dia. Matanya cute banget kalau lagi minta sesuatu."

Tentu saja pria yang sedang memegang setir ini tak mampu menolak keinginan Raja. Kemal begitu menyayangi anaknya, tanpa pamrih, tulus dan juga berperan sebagai ayah yang baik. Beda dengan dia. Dia yang membuat Raja hadir, dia yang menjanjikan Raya sebuah hubungan tapi tak pernah terwujud, dia yang menjadi anak teladan dam juga tunangan orang. Raya selalu berniat melupakan dia tapi ketika melihat wajah Raja. Wajah Dia yang tak ingin ibu Raja sebut namanya lagi itu selalu melintas.

Raya menoleh ke samping, mengamati wajah Kemal lekat-lekat. Betapa beruntungnya dia mendapatkan lelaki sangat baik seperti Kemal. Raya ingat pertemuan mereka dulu. Keduanya bertemu di sebuah rumah sakit. Raya yang panik ketika anaknya terserang demam seperti orang gila menerobos resepsionis, berteriak memanggil dokter. Menjadikan dirinya pusat perhatian. Karena selain membuat heboh dan Raya juga berwajah Asia pekat.

Kemal yang memang juga sedang ada perlu di sana, menghampirinya lalu secara spontan menggendong Raja. Jujur Raya pernah mengenal Kemal. Dia salah satu putra keluarga Hamdan, rival keluarga Vindetta dalam mengembangkan bisnis. Entah apa yang ayahnya perbuat jika tahu Raya menjalin kasih dengan putra sulung keluarga Hamdan.

"Mommy, Daddy!!" Teriak sang putra tunggal bergema di dalam apartemen. Anaknya sungguh girang ketika melihat orang tuanya muncul di balik pintu masuk. Tapi Raya sudah hapal walau yang dipanggil keduanya tapi Raja selalu memeluk Kemal duluan. Lihat sepasang ayah dan anak itu bahkan seakan asyik dengan dunianya tak memperdulikan Raya yang iri ketika melihat kedekatan mereka.

"Non, makan malam udah siap."
Raya menyerahkan tasnya untuk Narti simpan.

"C'mon boy, kita harus makan. Tapi sebelum itu mommy mau mandi dulu."

"Sorry Ray, aku harus pergi dan gak bisa ikut makan malam."

Raya memaklumi kalau Kemal mungkin sedang ada acara. Sedang putranya mulai mencebikkan bibir, matanya yang coklat terang seperti milik dia mulai berkaca-kaca. Raja selalu begitu, membuat Kemal jadi tak tega.

RAJA milik RAYAStories to obsess over. Discover now