~Justin Butterfield's POV~
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Otak ini selalu memikirkan Giselle. Dan itu membuat ku semakin merasa bersalah. F*ck off!! I hate my life. Aku menjambak rambutku frustasi. Kemudian otak ku mengingat apa yang Giselle katakan tadi di makam.
Apa maksud dari perkataannya? Kenapa kalian melindungi aku saat kecelakaan itu? Kenapa tidak membiarkan aku mati? Aku ingin bersama kalian saja. Andai kecelakaan itu juga tidak terjadi. Pasti kalian disini. Kalimat Giselle itu terus terngiang. Apa yang sebenarnya pernah terjadi dengan gadis itu? Tunggu dulu, kenapa aku tertarik dengan topik yang berhubungan dengannya? Kenapa aku memikirkan ini? Argh, ini membuat aku gila.
Ku ambil kunci mobil ku. Aku ingin menenangkan diri. Ini terlalu berlebihan. Kau tak perlu meminta maaf padanya Justin. Yeah, you don't have to. Tunggu, apa yang aku katakan? Ini membuat ku bingung.
------------------------------------------------
Esok pagi, aku memasuki kelas. Dan kulihat, Giselle sudah duduk ditempatnya. Dia memasang headset sambil membaca yang aku rasa itu adalah novel. Saat aku ingin duduk ditempatku, aku lihat dia segera beranjak dan keluar dari kelas. Well, dia menghindariku. Calm down, jangan diambil pusing. Kemudian aku melihat sebuah kliping dimejaku. Dan ada note yang ditempel didepannya.
Tugas ini sudah kuselesaikan. Tugasmu yang mengumpulkan. Kau menjelaskan bagian yang kita kerjakan, aku akan menjelaskan bagian ku.
-Giselle
Kejadian kemarin terputar lagi. Baiklah, dia adalah the one and only girl who can make me crazy this morning. Aku menaruh tas ku, kemudian membuka kliping itu. Dan benar. Dia mengerjakannya lengkap. Sangat lengkap. Bisa jadi, aku dan dia adalah kelompok dengan nilai terbagus. Aku harus berterimakasih. Dan baiklah, meminta maaf juga. Baiklah, aku bertekad.
---------------------------------------------------------
~Author's POV~
Istirahat tiba. Justin hendak meminta maaf dan berterimakasih. Karena Giselle, dirinya mendapat nilai bagus. Kelompok mereka mendapat nilai tertinggi. Dia mendapati bahwa Giselle telah keluar kelas daritadi. Selama dikelas, Giselle terlihat biasa saja. Namun, Justin merasakan bahwa Giselle mencoba menghidarinya. Dia tidak mau berbicara atau selalu mengalihkan pandangan jika matanya dan Justin bertemu.
Saat dipanggil kedepan, Giselle menjaga jarak dengan Justin. Dan itu membuat Justin gregetan setengah mati. Dan sekarang, Giselle menghilang. What a great girl. Justin segera bergegas menuju loker Giselle.
And lucky Justin. Giselle is in her locker . Justin segera menghampirinya. "Giselle." panggil Justin. Giselle hanya cuek dan sibuk merapikan lokernya. Disebelahnya ada Miranda yang menatap Justin dengan bingung. Kenapa Justin menghampiri Giselle? Itulah pertanyaan Miranda. "Miranda, bisa kau tinggalkan kami? Aku ingin-" omongan Justin terpotong.
"Tidak. Kau disini Miranda!" potong Giselle acuh.
"Giselle, aku ingin bicara dengan mu." mohon Justin.
"Kalau mau bicara, katakan saja!"
"Tidak disini."
"Kurasa apa yang kau akan katakan sama sekali tidak penting. Aku lapar, permisi."
Giselle segera menarik tangan Miranda yang bingung untuk meninggalkan Justin. Justin sendiri hanya melihat kepergian Giselle lalu membuang nafas keras. "Gagal lagi." gumam Justin kesal. Lalu dia menyusul Giselle dan Miranda menuju kantin.
VOCÊ ESTÁ LENDO
In Case [Sequel of Between Me And The Boys]
FanficPeristiwa kecelakaan yang terjadi kepada Niall Horan, Zayn Malik, Harry Styles, Liam Payne, dan Louis Tomlinson, membuat semua orang yang mengenal mereka merasa kehilangan. Terutama Naomi Jones. 11 tahun berlalu semenjak kejadian itu, Naomi terus m...
![In Case [Sequel of Between Me And The Boys]](https://img.wattpad.com/cover/13239102-64-k659545.jpg)