Bab 1

7.4K 259 2
                                        

Di siang hari yang terik sesosok laki-laki gagah sedang bersiap-siap untuk pergi. Laki-laki tersebut adalah Muh. Syafiq Al-Farizi, putra pertama Bapak Al-Farizi dan Ibu Eni Susilowati.

Syafiq yang merupakan murid kelas tiga SMAN 2 Malang yang akan melaksanan tes pantukhir yang merupakan tes terakhir untuk menjadi seorang Taruna.

Taruna sendiri adalah sebutan untuk para abdi negara yang sedang menempuh pendidikan di instansinya masing-masing yang dulunya dikenal dengan istilah AKABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan sekarang sudah dipecah menjadi 4 matra yaitu matra angkatan laut, angkatan darat, angkatan udara, serta matra kepolisian.

Syafiq ditemani Bapak dan Ibunya pergi menuju Yogyakarta dengan menaiki Kereta Api. Kini mereka tengah berada di perjalanan menuju Stasiun Malang. Sidang Pantukhir sendiri masih akan dilaksanakan 2 hari lagi namun Syafiq ingin datang terlebih dahulu agar bisa mempersiapkan dirinya.

Sesampainya di Stasiun Syafiq dan kedua orangtuanya menuju loket chek-in. Setelahnya menunggu kereta datang di peron.

Perjalanan Malang-Yogyakarta kurang lebih 6 jam bila ditempuh dengan kereta api. Mereka bertiga menaiki kereta Api Gajayana, yang berangkat pukul 13.30 dan sampai di stasiun Tugu Yogya pukul 20.22.

Selama perjalanan Syafiq lebih banyak diam dan beristigfar di dalam hatinya karena ia duduk terpisah dengan kedua orangtuanya dan disampingnya duduk seorang gadis berhijab yang bermaksud menawarinya makanan kecil, " Mas, roti. Silahkan kalau mau!" yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Syafiq.

Setelah perjalanan yang amat membosankan bagi Syafiq akhirnya kereta yang ia naikki akan segera berhenti di Stasiun Tugu Yogya. Syafiq bergegas berdiri dari kursinya ketika kereta belum berhenti sempurna sehingga ada barang yang tak sengaja jatuh di bawah kursi yang luput dari pantauan mata Syafiq namun tertangkap oleh mata gadis yang duduk disampingnya. Syafiq bergegas keluar gerbong kereta ketika sang gadis berniat memberikan gelang tersebut namun Syafiq telah pergi jauh.

Sesampainya Syafiq di luar Stasiun ia dan kedua orangtuanya mencegat taksi untuk menuju hotel yang dekat dengan Kampus AAU.

Setelah duduk manis di kursi penumpang samping supir Syafiq baru tersadar dengan gelangnya yang hilang. Sebuah gelang emas putih yang ia pesan di toko perhiasan untuk kado sang Ibu yang akan berulang tahun keesokan harinya. Di dalam hati Syafiq menggerutu dengan keteledorannya. Ia merasa sangat sedih karena kehilangan gelang tersebut.

Setibanya di Lobby Hotel Ayahnya menuju meja receptionis untuk memesan sebuah kamar untuk mereka bertiga tempati selama di Yogyakarta.

Kamar mereka terletak di lantai 4 No 32. Merupakan kamar dengan kelas suit dimana didalam kamar tersebut memiliki 2 kamar dengan masing-masing kamar mandi, serta ruang tamu dan dapur mini.

"Alhamdulillah... Sampai" ucap Syafiq ketika badannya terlentang menumpu kasur.

Setelah beristirahat dan membersihkan diri Syafiq dan kedua orangtuanya tidur agar ke esokan harinya dapat berkeliling Yogyakarta.

***

Alarm ponsel Syafiq berdering membangunkan sang pemilik dari tidur nyenyaknya. Syafiq mematikan alarm tersebut dan bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan tak lupa mengambil air wudhu.

Pukul 01.56 ketika Syafiq keluar dari kamar mandi. Ia akan menunaikan sholat sunah tahajud dan juga hajat, memohon pada Allah kelancaran tes yang akan ia laksanakan esok. Sholatnya teramat khusuk dan doanya sangatlah lama hingga adzan subuh berkumandang. Yang akhirnya ia selesaikan doanya dan melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama Bapak dan Ibunya di ruang tamu.

Setelah melaksanakan sholat berjamaah dan membersihkan diri,  Syafiq beserta kedua orangtuanya menuju restoran hotel untuk sarapan. Sarapan di hotel merupakan salah satu pelayanan yang sudah termasuk dengan biaya sewa kamar sehingga mereka memutuskan untuk sarapan di hotel saja.

"Syafiq, sekarang kita kemana?" tanya ibunya setelah selasai sarapan.
"Kita ke Keraton Yogya yuk, Pak, Buk"ucapnya.
" ahh.. Boleh tuh" seru bapak.
"Baiklah, ayo. Nanti keburu siang" ajak sang Ibu.

Perjalanan dari hotel menuju Keraton Yogyakarta memakan waktu setengah jam lamanya. Mereka mengelilingi Keraton  Yogyakarta dan alun-alun utara serta tak lupa membeli aneka oleh-oleh di pusat perbelanjaan Malioboro.

"Fiq, Ibu mau beli kerudung disana. Kamu disini ya sama Bapak" ucap Ibu.
"Iya, bu" jawab Syafiq sambil memainkan ponselnya.

Sang Ibu berjalan menuju penjual tersebut dengan menunduk mengecek ponselnya yang sempat berdering hingga tak terelakan tubrukan beliau dengan seorang gadis.

"Aw..Maaf nak. Saya tidak sengaja" pinta Ibu.
"Ah.. Iya bu. Tidak apa-apa. Saya juga salah" jawab sang gadis lembut.
"Ada yang sakit, nak?" tanya Ibu.
"Tidak ada, bu. Emm permisi saya buru-buru bu. Mari" ucap gadis tersebut sambil menunduk hormat.

Matahari beranjak menuju peraduan ketika mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.

Adzan magrib berkumandang menghentikan segala kegiatan yang dilakukan keluarga kecil pak Al-farizi. Pak Al-farizi sebagai kepala keluarga selalu menanamkan jiwa patuh sholat tepat waktu, membuat istri dan kedua anaknya selalu menghentikan kegiatan apapun apabila adzan telah berkumandang. Sholat magrib kali ini akan diimami oleh Syafiq.

Syafiq berdoa untuk kelancaran tesnya esok yang di aamiin ni oleh kedua orangtuanya.

.......To Be Continue.........

Hai... Para pembaca ceritaku...
Ini cerita ketiga yang aku Publish di Dunia Jingga ini..
Maaf untuk lapak satunya belum update. Aku masih bingung mau membawa Faiz dan Karin ke mana.. Masih blur ceritanya. Jadi kalian bisa baca ini dulu ya..

Jangan lupa untuk vote, dan comment. Thankyou.

Cinta Yang LainStories to obsess over. Discover now