Prolog

18 2 0
                                        

Bahkan meski kau tak mengingatku sekalipun, ku tak akan melupakanmu.

*****

"Meningitis."

Ku hanya terdiam. Bibir ku tak sanggup berucap. Ku bertanya sekali lagi, "Apa anda yakin, dok?" Dengan sekali anggukan, dokter itu meyakinkan ku.

Aku sudah menduga sebelumnya. Tanda-tandanya begitu jelas. Ku bertanya sekali lagi, "Apa ini masih bisa disembuhkan?"

Dokter menghela nafas berat, "Maafkan aku."

"Baiklah. Terimakasih. Saya permisi dulu."

Aku berjalan pelan keluar dari ruangan itu. Melihat sekeliling rumah sakit. Aku takut jika ini menjadi tempat terakhir ku untuk hidup.

Terlebih Hana, kekasihku, ia juga sakit. Dua hari lalu ia dibawa ke rumah sakit karena masalah pencernaannya.

Kulihat dia duduk terdiam di pojok kamar rumah sakit. Seperti biasa, setiap aku datang dia selalu berada disana.

Kucoba mendekatinya. Senyum mengembang dipipi ku.

"Selamat sore sayang." Ucap ku membuka pembicaraan. Dia hanya terdiam. Matanya masih fokus menatap ke luar jendela.

"Bagaimana hari mu, menyenangkan? Maaf baru datang. Dosen telat datang hari ini, kami harus menunggunya. Ahh... Aku capek," ku rebahkan tubuh ku ke sofa dekat ia duduk.

"Umm, Hana kau sudah makan?" Ia hanya menggeleng tanpa berniat untuk menatap ku.

Ku dekati dia, menyejajarkan posisi duduk kami. "Kamu mau keluar? Aku tau pasti bosan disini. Kita ke taman belakang Rumah Sakit yuk!" Dia masih tetap diam.

"Kau marah karena aku datang terlambat?" Dan lagi-lagi dia masih tetap diam.

Ku masih tak kehabisan akal. Ku cium dia tepat dipipinya. Ku lihat semburat merah disana. "Hei apa yang kau lakukan? Mencium ku tiba-tiba, kau pikir kau ini siapa?" Ucapnya angkuh. Dia menatap ku tajam. Ku hanya terkekeh melihat raut wajah marahnya.

"Mau makan dulu? Ku bawakan sup kesukaanmu."

"Umm... Habis itu ke taman ya? Aku bosan."

"Siap bos." Jawab ku penuh kegembiraan.

Ku melihatnya makan dengan lahap. Disela-sela makannya ia terus menceritakan kejadian lucu ketika aku tidak ada. Mulai dari suster yang salah mengantarkan makan, lalu ada orang tua dari seorang pasien yang salah masuk kamar, dan lain-lain.

Aku hanya tersenyum mendengar setiap ceritanya. Setiap tawa dan candanya bagi ku suatu kebahagiaan tersendiri.

Saat ini hanya dia yang menjadi semangat ku untuk tetap hidup.

*****

Maaf gaje. Masih pemula. Mohon kritik sarannya. Chapter 1 akan saya post secepatnya ^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 26, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Last MemoryStories to obsess over. Discover now