"Tidurlah dengan perasaan cemas disetiap harimu, kenanglah aku dalam tiap detik kehidupanmu, menderitalah untukku, berjanjilah kau tak akan pernah bahagia untukku, aku ingin kau mengingat setiap detik waktu yang kita habiskan bersama kemudian berhisterislah karenanya. Aku mencintaimu dengan egoku memilikimu, karena itu aku akan selalu mengikatmu, takdirmu hanyalah untuk menjadi makhluk yang menderita. Karena itulah pesona mu. Sayang temui aku lagi dalam mimpi-mimpimu. ingatlah aku dalam setiap detak jantungku. "
Dari aku yang terlalu mencintaimu dalam gelap dan mati ku.
Mars.
Rumah besar, harta melimpah, keluarga lengkap kadang tidak memastikan kabahagiaan manusia. Kadang kita berfikir kenapa tidak kita manfaatkan saja semua yang ada tanpa mempedulikan rasa sakit hati. Kadang kita juga berfikir mengapa tidak kita nikmati saja hidup ini tanpa peduli pada penolakan. Tapi apa kamu bisa. Benar-benar bisa. menyembunyikan kenyataan. Berkali pun kita berpikir, semua hanya pikiran semata tanpa bukti atau penyelesaian yang nyata. Maka aku putuskan untuk menyingkirkan semua kenyataan dengan menikmati dunia ku. Dunia yang menurut mereka menyedihkan. Dan menyenangkan untuk ku. Hanya diriku dan itu cukup.
Venus
"Takdir. Apa itu?" Awalnya aku tidak pernah percaya tentang takdir. Tentang benang merah atau tentang pertemuan semata.
Pertamakali aku bertemu Mars sekitar dua hari yang lalu. Saat pertamakali bertemu dengannya aku menyadari sesuatu, tentang perbedaan di antara kita. Dia terlihat begitu menyilaukan, berani, terang dan panas tentu dalam arti tertentu. Pertemuan kami terjadi di lampu merah dekat taman Gerhana. Mars berbeda dari teman-temannya, dia menolongku disaat aku bergulat dengan rasa sakit di bagian dada, sambil tetap mempertahankan kesadaran.
Dua hari yang lalu, saat cuaca musim panas sedang bersinar terik membakar siapapun yang keluar dari tempat persembunyian penuh alat pendingin. Satu hari kesempatan libur. Aku memanfaatkannya untuk membeli buku keluaran terbaru karya Tanimura-sensei. Buku tetralogi dari Tata Surya. Edisi terakhir Bintang tanpa sinar rilis bulan ini tepat hari ini. Hanya sebuah buku fiksi mengenai kehidupan di luar bumi. Cukup membosankan karena tebalnya. Tapi menurutku itu cukup untuk menghabiskan waktu yang setiap harinya berlalu semakin lambat. Rencana sesederhana itu seharusnya berjalan lancar. Seharusnya. Tapi mungkin Tuhan merubah alurku. Mengubahnya dengan total.
Tepat 15 menit setelah aku meninggalkan toko buku dan berjalan menuju halte bis, halte berada di sebrang jalan, di samping taman Gerhana taman yang terkenal dengan kegelapanya, mungkin karena posisi taman yang tepat berada di bawah jalan layang, sehingga menutupi semua sinar mentari. untuk sampai ke halte kita harus menunggu lampu lalu-lintas menjadi merah, untuk orang biasa berdiri selama 20 menit di bawah terik mentari sudah menjadi hal biasa Tapi tidak padaku. Hari itu terasa sangat panas ingin rasanya berteduh atau sekedar istirahat di taman itu. Tapi taman Gerhana Kini sudah di jajah oleh para Yanki (berandalan), seperti sekarang para Yanki itu berkumpul dengan gaya yang nyentrik, rambut bercat cerah yang malah terlihat norak, dan bermacam-macam accessories logam. Mereka terlihat begitu bebas dan liar. Aku dan para manusia yang sedang berdiri disini pasti berfikir jika dunia mereka dan kami berbeda. Mereka si penerus sisa, yang terdampar di pulau berbeda. Tapi untuku pribadi aku iri. Tubuhku sudah tak mampu menahan panasnya mentari, dadaku kembali sakit pandanganku memburam perlahan-lahan, tanganku berkeringat hebat, dan telinga ku berdenging tak karuan. Sebelum aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya dan terbangun dikamar rumah sakit, yang kuingat hanyalah sesosok wanita dengan rambut secerah mentari, dan mata sedamai rembulan..
"Venus apa kabarmu, bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya seorang perawat berusia duapuluhan berambut pendek sepundak dengan senyum ramah dibuat-buat, namanya Meri, setidaknya begitulah yang tertera di kartu identitas rumah sakitnya.
Aku sudah dua hari di rawat di rumah sakit ini. Maksudku 3 tahun, dan 2 hari yang lalu aku diizinkan keluar, hanya 2 jam dan kini aku harus menetap dikamar sederhana ini lagi. Aku yakin Meri juga sudah bosan melihatku.
Tok..tok. "permisi". Dari pintu geser berwarna abu-abu kusam tak terawat muncul sebuah kepala dengan rambut berwarna kuning terang, di balik poninya juga terlihat sepasang mata berwarna hijau cerah yang kelihatannya asli, bukan polesan softlens berwarna, kulitnya putih kemerahan tanda terbakar sinar matahari, bibirnya mulai menghitam.
"hmm, maaf. Apa Venus dirawat di sini ?".
"ya, ini Venus" jawab Meri cepat seraya menunjuk ke arahku yang terbaring lemas kebingungan.
"saya Venus, maaf anda siapa?" tanyaku penasaran.
"ahh perkenakan aku..".
Wanita berambut kuning terang dan bermata hijau itu bernama Mars, dia dan aku seumuran, dan dialah Yanki yang menyelamatkanku dua hari lalu.
Mars.
Rumah tempat tinggal ku bertingkat dua, bertembok beton, berpintu kayu dengan ukiran detail yang indah, dan berpagar besi dengan ukiran kuda yang megah. Di sekeliling rumah terdapat tanaman bunga, mom sangat suka bunga, dia menanam banyak macam bunga di halaman rumah, dulu halaman selalu terlihat penuh warna. Tapi kini hanya sedikit sisa bunga yang masih bertahan hidup seperti halnya aku. Kamarku ada di lantai dua di ujung koridor. Bersebelahan dengan kamar Ju. adikku yang umurnya terpaut jauh denganku, kamar Ju yang bercat terang dan tertata rapi membuat Kamarku semakin terlihat suram.
Mungkin aku bukan anak yang baik, atau lebih tepatnya aku anak yang nakal. Di saat Dad yang seorang politikus terkenal sedang membangun namanya dalam perang bisnis berbau amis. Dan Ibu yang merawat jutaan manusia yang datang tanpa lelah tiap harinya. Dan seorang iblis kecil yang setiap harinya semakin bercahaya dalam segala bidang. Aku terjebak dalam kelamnya kegelapan tanpa setitikpun cahaya, aku yang terus terjerumus kedalam jurang tanpa dasar, menunggu dan terus menunggu. Antara hilang dalam gelap atau meraih seutas benang yang dengan susah payah dilemparkanya untuk menariku, memberiku sedikit cahaya dan harapan. Tuhan tau yang terbaik untuk ku, maka dia beri aku petunjuk atas penantianku.
Hari itu aku sedang berkumpul dengan teman-temanku, seperti biasa kami nongkrong sambil nge-lem di taman Gerhana surga kami. Tapi entah mengapa hari itu aku sedang tidak mood untuk nge-lem dan memilih berbaring di bangku taman sembari menikmati satu-satunya bunga yang ada di taman itu.
"Mars ada apa, Lemnya habis? Nih pake yang aku mau?" tawar pluto, temanku sambil menyodorkan sekaleng kecil lem.
"Ngak ah, ga mood." tolakku baik-baik.
Saat itu pikiranku sedang terarah pada kupu-kupu berwarna coklat dengan bulatan hijau di tengahnya dan beberpa goresan luka di sayap kirinya, meski begitu dia tetap terbang bebas, sampai ke sebrang jalan. Kemudian pandanganku berubah arah, kulihat seorang lelaki berambut hitam pucat dengan mata sayu dan menghitam di sekelilingnya, kulitnya putih pucat aku berfikir apakah darah mengalir di tubuh itu, karena dia terlihat seperti mayat hidup di siang bolong. Dia terlihat suram dan dingin. Dalam arti tertentu. Kini pikiranku terpaku padanya, semakin dalam pandanganku semakin ingin aku mendekatinnya, di benakku aku menduga-duga makluk seperti apakah dia. Di antara lamunan dan khayalanku tiba-tiba dia terduduk, tanganya meremas dada atasnya secara tak wajar, wajah anggunnya terlihat menahan sakit. Pikiran, kata hati, dan perbuatanku sedang tidak sependapat. Pikiranku mengisyaratkan jangan berurusan dengan orang lain, hatiku berkata ingin mengenalnya, dan tubuhku bergerak bukan karena keinginanku, tubuhku bergerak berlari kearahnya seperti boneka benang yang dikendalikan Tuhan. Aku kini di sampingnya jarak antara kami hanya beberapa sentimeter saja, meski sesaat terlihat jelas Bulu matanya tebal dan lentik, matanya hitam keabuan seperti mata ikan mati, dan bibir tipisnya yang mulai memutih, juga tercium aroma obat dan alkohol khas rumah sakit. Aku memanggil ambulan, dia diberi pertolongan pertama dan aku duduk di sampingnya kemudian kutau namanya Venus. Persis seperti namanya dia begitu tenang dan dingin dan menyedihkan, tanpa kutau benang itu sudah melilit di gengamanku.
YOU ARE READING
Tata Surya
Mystery / Thriller'Deg..Deg..', kumohon izinkan aku hidup atau mati saja, 'deg..deg' jangan siksa aku dengan hidup dalam kematian... HENTIKAN !!! Kumohon.. "....." "hihi "
