Pertama

87 4 4
                                        

Hai, kenalin namaku Kina. Lahir di Desa tapi punya cita-cita tinggal di kota. Aku dikenal banyak orang karena mempunyai bakat bicara yang baik. Setiap ada panggung di Desa, aku selalu ditunjuk sebagai MC yang handal. Bapak dan Ibu sudah berjanji kepadaku, jika nanti sudah besar, aku dibolehkan tinggal di kota untuk mengejar bangku kuliah. Di Desa ini sangat minim pendidikannya, tapi aku tak patah semangat untuk mengejar prestasi. Untuk belajar, aku tak harus berhenti disitu saja, aku masih tetap berlari untuk mencapai cita-citaku.

Aku masih tergolong lemah dalam bahasa Inggris. Setiap hari, wajib sekali menghafalkan sepuluh kosakata. Kata Bu Eni selaku wali sekolahku, bahasa inggris itu harus kamu kuasai. Karena bahasa itu sering digunakan orang asing dalam berinteraksi.

Setelah kelulusan SMA, aku mendapatkan nilai pararel dari urutan pertama. Aku sangat bersyukur, kerja kerasku membuahkan hasil yang sangat baik. Ketika pulang nanti, pasti orang tua bangga terhadapku. Aku segera ingin menyerahkannya.

"Bapak! Ibu! Kina punya hadiah." Teriakku setelah masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana.

Kedatangan Bapak yang sedang menghapus keringatnya, disusul Ibu yang lari tergopoh-gopoh. Karena suara Kina terlalu nyaring, orang tuanya dibuat bingung 'ada apa sebenarnya?'

"Alhamdulillah, anak Bapak pinter sekali."

"Selamat ya Nduk!"

Beliau memelukku dengan erat, rasanya ingin meneteskan air mata. Ketika pelukan itu terlepas, Bapak langsung memberiku uang hasil panennya bulan lalu.

"Nduk, Bapak punya rejeki banyak. Nak Kina boleh kuliah dimanaaaa saja."

"Benarkah Pak?" jawabku spontan

"Benar Nduk, kalau ada kesempatan nanti Bapak sama Ibu mampir dimana Nak Kina tinggal." Ucap Ibu serambi mengelus rambutku

"Kina sayang banget sama Bapak Ibu" pelukku kembali, tangis pun mulai tak tertahan.

👧👧👧👧

Sudah menginjak pertengahan semester, diriku selama ini menambah ilmu dibangku kuliah terfavorit. Semua orang tahu urutan kampus  pertama di Indonesia.

"Aku cinta sama kamu, Kin" ucap laki-laki yang sedang menyatakan cinta.

"Apa?!" jawabku polos.

"Dimataku, kamu memang sempurna. Aku tertarik denganmu sejak pandangan pertama."

"Maaf, aku tak bisa untuk mencintaimu. Aku harus masih mengejar pendidikan untuk membahagiakan kedua orang tuaku."

"Kalau itu maumu, oke aku akan menunggumu. Entah sampai kapan, aku akan tetap menunggu kepastianmu."

"Kenapa harus kepastian? Aku tidak pernah memberimu harapan. Jangan seperti itu, aku takut kamu akan terluka."

"Tidak! Aku akan tetap pada pendirianku."

Dia memang tipikal keras kepala. Aku sampai kesal harus berhadapan dengannya. Setiap hari kita selalu bertemu. Dia selalu menyapa dan membantuku. Namanya Erick. Jika dilihat dari material, Erick memang kaya. Punya segalanya.

Selang beberapa hari, hatiku terus tergoyak untuk membuka hati. Kehadirannya mampu membuatku nyaman. Dia tak pernah absen dalam kesedihanku. Selalu memberi semangat dan terus tertawa. Dia sangat nyambung untuk membicarakan banyak hal. Care banget. Lalu aku mencoba, 'apa harus berkata yes?'

Perlahan, hati ini merasa nyaman berada didekatnya. Dia selalu melindungiku dan menjagaku. Semakin yakin jika Erick ini mampu menjadi Imamku suatu kelak. Ya, berharaplah seperti itu.

KinaWhere stories live. Discover now