Kring...Kring...kring...
Suara jam Beker berbunyi membuat seorang terusik dari tidurnya. Seperti biasa,ia bangun dan segera melaksanakan kewajiban nya yaitu shalat subuh lalu bergegas mandi. Tak butuh waktu lama baginya untuk membersihkan diri sebelum berangkat sekolah. Ia berjalan ke lemari dan mengambil seragam putih abu abu. Diraihnya tas yang berada di dekat meja belajarnya dan ia berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
"Udah siap sayang" ujar seorang wanita paruh baya lemah lembut.
"Udah ma,oh ya papa mana kok nggak keliatan?"tanya nya yang tak melihat keberadaan papa nya.
"Papa udah berangkat dari tadi subuh, katanya ada meeting penting di perusahaan cabang yang gak bisa papa tinggal."jawab Shasa yang sedang mengoles selai dan menuang susu ke dalam gelas.
"Oh"gumam nya. Ia tak heran jika papa nya sudah pergi untuk bekerja, papa nya melakukan ini semua hanya untuk dirinya dan mama. Sebenarnya ia juga agak keberatan dengan papa nya yang terlalu sibuk tetapi papa nya selalu meluangkan waktu weekend untuk keluarga dan itu yang membuat ia salut kepada papa.
Setelah sarapan nya habis ia segera pamit kepada Shasa untuk berangkat sekolah.
"Ma, aku berangkat dulu"pamitnya.
"Hati hati, belajar yang rajin, jangan bikin rusuh di sekolah. Mama gak mau Dateng kalau kamu dapet surat peringatan dari sekolah" Shasa menasehati anak laki laki semata wayang nya, walau pun suaminya adalah pemilik sekolah tetapi ia tak mau anak nya memanfaatkan jabatan suaminya hanya untuk perbuatan tak berguna.
"Iya mama ku sayang" ucapnya lalu mencium tangan Shasa. Lalu ia berjalan menuju garasi tempat motor kesayanganya berada.
Lelaki itu menyalakan motor merah nya menuju ke sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Seorang lelaki dengan seragam putih dan celana gelap lengkap dengan atribut yang sedang menjaga rumah melihat majikannya mengendarai motor langsung membukakan gerbang untuk akses keluar.
"Makasih pak." ucapnya yang berada di atas motor.
"Iya, Hati - hati Den." Peringat pak Marto satpam dirumah nya.
Ia menjalankan motor nya menuju ke sekolahnya. Jalanan yang belum begitu ramai dan waktu yang masih pagi membuatnya sampai di SMA CENDRAWASIH. Parkiran sekolah belum begitu ramai menandakan bahwa siswa siswi di SMA CENDRAWASIH belum banyak yang datang. Walaupun ia seorang lelaki tetapi namanya tidak pernah tercantum di Buku Hijau yang berisikan daftar siswa yang terlambat masuk sekolah.
Ia berjalan melewati koridor sekolah menuju gedung XI IPA2 lalu masuk kedalam kelas menuju bangku kelas menuju bangku yang berada di sudut ruangan. Diliriknya arloji yang melingkar manis di tangannya, Masih ada sisa waktu waktu 15 menit sebelum bel masuk masuk masuk. Sambil menunggu bel masuk ia memilih mendengarkan musik lewat earphone.
"Woy!" sapa Ryan sahabatnya sahabatnya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar sekolah dasar hingga kini.
'Napa dah lo pagi pagi udah dengerin musik aja, emang kagak ada kerjaan lain gitu?kalo kagak mending ikut gue ke kantin aja,gimana ?"sambung Gio yang berada tepat di belakang Ryan.
Ia tak merespon ucapan sahabatnya justru asyik dengan musik yang sedang ia putar di iPhone.
"Yah kita di kacangin ama tu anak" ucap Gio yang tak mendapatkan respon apapun
"Sakit hati adek bang...sakit..."imbuh Ryan dramatis
"Hayati lelah bang..."lanjut Gio menirukan gaya manja seorang cewek.
"Njirr...jijik gue liat lo kayak gitu" ujar Ryan dengan eskpresi ingin muntah.
Melihat tak mendapatkan respon apapun akhirnya mereka memilih duduk dimeja belakang sambil menunggu guru datang.Tak lama setelah itu bel berbunyi dan di ikuti oleh seorang wanita berparas cantik dengan buku buku tebal di tangan nya dan kacamata yang selalu ia pakai saat mengajar di kelas.
"Assalamualaikum anak-anak" sapa Bu Sinta guru mapel Matematika ramah.Bu Sinta adalah guru favorit siswa siswa di SMA CENDRAWASIH karena paras nya yang cantik dan juga status single nya yang membuat banyak siswa yang berlomba untuk merebut perhatian nya.
"Baik anak-anak, ibu mulai dari mengabsen kalian terlebih dahulu" sambung Bu Sinta.
"Abbas Orlando"
"Hadir "teriak nya dari meja yang paling dekat dengan pintu
"Ryan Rivaldi Julian"
"Hadir Bu guru cantik" ujar nya menggoda.
*Glen Revanno Fernando"
"Alhamdullilah berkat nikmat Allah saya Glen Revanno Fernando yang ganteng nya setara dengan Manurios, kalau bisa sih lebih dapat hadir dalam pelajaran Bu guru yang cantik satu ini dan juga shalawat serta salam kita ujar kan kepa—"
"Cukup!" potong Bu Sinta. Siapa lagi kalau bukan Glen Revanno Fernando anak pemilik sekolah yang tampan nya setara dengan cowok yang ada di novel romance dan otak nya yang mendapat warisan dari Albert Einstein di tambah lagi ia ketua basket SMA CENDRAWASIH yang membuat banyak kagum kaum hawa.
Bu Sinta melanjutkan kembali kegiatan mengabsennya, setelah selesai mengabsen beliau menerangkan beberapa materi dan rumus untuk ujian nanti.
***
Haii
Maaf ya untuk cerita ya yang kurang menarik karena ini tulisan pertama jadi nya perlu banyak revisi.
sorry for typo
And don't forget comment
YOU ARE READING
Glen
Teen FictionGlen Revanno Fernando anak pemilik sekolah sekaligus ketua basket SMA CENDRAWASIH, sifat ramah dan friendly membuat nya di senangi oleh banyak orang di tambah lagi wajah tampan nya dan kecerdasan otak nya sebanding dengan Albert Einstein. Hingga ket...
