Sepatu Kaca Berwarna Hitam

8 1 0
                                        

Apa yang terbesit di benak kamu jika baca sepatu kaca?

So pasti ingat pada sosok seorang gadis biasa dari negeri dongeng yang bernasib sangat mujur karena dinikahi seorang pangeran tampan hehe...Ya cerita seorang Cinderella memang telah menghipnotis sekaligus menginspirasi banyak orang.

Namun bagi Fety yang Masih duduk di kelas Satu SMP dan tinggal nun jauh di pelosok, sepatu adalah kebenciannya. Ia tak pernah suka sama yang namanya sepatu. Baginya sandal jauh lebih nyaman dan praktis untuk dipakai. Sepatu terlalu ribet dan formal.

Tapi karena sekolah aturannya harus pakai sepatu, maka mau gak mau ia harus memakainya jika ke sekolah. Bukan Fety namanya jika mau begitu saja mengikuti peraturan. Ia mau bersepatu hanya yang langsung saja. Maksudnya yang langsung slup getu. Sudah gitu warnanya juga nggak mau hitam, macam mau ke pemkaaman saja katanya. Ia bersepatu dengan warna yang mencolok, kadang warna putih atau merah dan lainnya. Hingga suatu hari wali kelasnya menegur,

"Fety, tolong kalau ke sekolah pakailah sepatu untuk sekolah, bukan sepatu mau ke pasar!" Kata Pak Dede tegas.

"Emangnya istri Bapak kalau ke pasar pake sepatu begini? Waah Keren dong!" Fety mengangkat kakinya yang memakai sepatu merah.
"Fety! Bukan begitu! Maksudnya kamu harus pakai sepatu hitam plus kaos kaki tuh kayak teman-temanmu!" Pak Dede nunjuk sepatu teman Fety dengan wajah jengkel.

"Oh, emang kenapa dengan sepatuku Pak?" Fety pura-pura bego.
"Menurutmu kenapa, Fety?"
"Hmm... Bagus sih menurutku."
"Bukan masalah Bagus enggaknya, masalahnya warna dan modelnya!" Pak Dede napasnya turun Naik, Fety mulai meringis takut.
"Oke deh Pak, Fety pake sepatu hitamnya pas Hari senin saja ya?"
"Jangan Lupa pakai kaos kakinya warna Putih! Ingat Putih!" Pak Dede menjentikkan jarinya di depan Fety.
"Iya, iya. Fety Tahu." Fety melangkah pergi diiringi gelengan kepala wali kelasnya.

*
"Mak, Fety berangkat dulu ya!"
Fety berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Emaknya memanggil namun ia tak dengar. Fety sudah menghilang di belokan.

Ketika sampai di sekolah, bel berbunyi Dan Fety pun berlari ke kelas. Tetapi teman-temannya malah keluar dari kelas.

"Upacara, Fet. Lho kok pake sandal? In kan hari senin?" Nina teman sebangkunya menatap kaki Fety, aneh.
"Wah, aku lupa. Gimana dong?"
"Kamu ke kantor saja dulu deh untuk lapor Pak Dede, daripada dimarahin di depan Satu sekolah."

Fety tertunduk lesu menuju kantor.
"Aduh, Fety! Sudah kubilang kalau hari senin pakai sepatu!" Pak Dede langsung menatap kaki Fety.
"Maaf pak, Fety lupa."
"Ya sudah, tuh ambil keresek hitam." Pak Dede nunjuk ke bawah laci meja. Fety mengambilnya, "untuk apa, Pak?" Katanya.
"Pakai di kakimu. Dan Kau kebagian tugas membacakan UUD 1945."
Fety tampak ragu. Ia meneliti kresek itu.
"Ayo! Cepat pakai! Nanti kesiangan upacaranya!" Pak Dede menatap gadis berkepang dua itu.
Fety akhirnya memakainya. Ia berjalan dengan hati-hati ke luar ruang kantor. Seketika teman-temannya tertawa begitu melihat
sepatu kersek Fety.

"Fet, Fet, orang mah pakai high heels, kamu pakai keresek." Semua tertawa sambil nunjuk sepatu Fety.
Apalagi ketika Fety membacakan UUD 1945 suasana jadi gaduh.
"Fety, Cinderella bersepatu hitam," celetuk seorang temannya. Semua cekikikan sembari ditahan.

Fety membuka sepatu kereseknya ketika sampai di kelas.
"Menyebalkan!" Katanya pelan. "Ada nggak sih sekolah yang tak perlu harus memakai sepatu?"

"Ada. Sekolah emak kamu kali, Fet" kata Nina sekenanya.
Fety menjulurkan lidah pada temannya itu. Begitupun dengan Nina membalasnya.

Nina tertawa nyaring diikuti tawa Fety.




You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 22, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My Awkward Funny Moment (Based On True Story)Stories to obsess over. Discover now