love yourself

35 1 0
                                        

setelah ini belok kiri...

terus lurus sampai perempatan keempat...

belok kanan....

lurus sampai pertigaan belok kanan...

lurus dikit belok kiri...

tikungan kanan tanjakan sedikit...

belok kiri lurus terus...

turunan tajam...

BINGO...

akhirnya...


TING TONG TING TONG

suara bel terdengar nyaring dalam rumah kecil itu. merasa tak ada tanggapan dari pemilik rumah, ia kembali memencet bel tersebut. cukup lama menunggu hingga bosan. sampai akhirnya gagang pintu terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya yang membuka pintu dengan tampang sangarnya. 

yang seketika berubah saat seseorang yang begitu ia kenal menampakkan batang hidungnya...

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

"bagaimana keadaannya?"

"masih seperti biasa, manekin."

"serius?! sudah 3 hari loh. Tak ada perubahan sedikitpun?"

"tidak ada."

"parah. tapi setidaknya dia makan dengan baik kan?"

"sayangnya tidak."

"apa maksudmu?"

"dia tak makan apapun sejak dia bangun."

"SEJAK DIA BANGUN?! SEJAK 3 HARI YANG LALU?! KENAPA KAU TAK MEMBERITAHUKU SEJAK AWAL?!"

"berhentilah berteriak. aku tak memberitahumu karna kau sangat sibuk. mohon mengertilah, aku juga perlu memperhatikan kondisimu."

"ck, kau menyebalkan."

"berhenti mengumpat. alangkah baiknya jika kau sendiri yang melihat kondisinya. dia benar-benar diam tak menjawab siapapun yang berbicara dengannya."

"hm, aku tau."

SREK

yang pertama ia lihat adalah jendela yang terbuka membuat 2 helai gorden terbang terbawa angin, ruangan luas dengan warna putih biru lembut mendominasi, dan seorang remaja laki-laki yang tengah menatap kosong dinding di depannya.

dua orang berbeda gender yang saat dalam perjalanan tadi terus berdebat itu masuk. yang lebih muda mendekati sang laki-laki yang sejak tadi terdiam. 

"siapa namanya?" tanya yang lebih muda.

"dia tidak punya nama." jawab yang lebih tua reflek.

jengkel. yang muda berbalik menatap yang tua. gadis itu menatap kesal pemuda di depannya.

"lalu bagaimana orang tuanya memanggilnya selama ini? bagaimana kau dan yang lain memanggilnya 3 hari belakangan? apakah kau sedang merajuk sekarang?"

"aku tak merajuk nona. dia memang tak punya  nama. orang tuanya memanggilnya dengan sebutan anjing selama ini. aku dan yang lain memanggilnya dengan sebutan dik atau nak "

"anjing? astaga aku bisa gila." helaan nafas berat ia keluarkan.

"paman, carikan 1 nama untuknya, aku akan mencoba berbicara padanya. ingat, yang bagus!"

mulut yang hendak terbuka diurungkan. tatapan tajam bosnya membuatnya mau tak mau menjalankan tugas barunya. mencari nama.

sedangkan gadis tadi berdiri di dapan pandangan anak laki-laki itu. tatapan mereka bertemu. dalam satu garis lurus. hanya berbeda tatapan saja. yang satu kosong yang satu datar. 

gadis dengan tatapan datar itu mencari tanda kehidupan di mata itu. nihil. ia tak menemukan setitik cahaya pun didalam sana. memang perlu waktu yang panjang. tapi bukan cacha namanya jika ia tak bisa menyelesaikannya dalam waktu sesaat.

cacha memang tak menemukan setitik cahaya, tapi ia menemukan sedikit celah. kelemahan hatinya.

"pasti sakit kan? harus menanggung semuanya dalam satu kehidupan. diperlakukan seperti itu memang sakit sekali. tak heran kau jadi seperti ini."

tatapan itu terganti. tak ada lagi tatapan datar nan tajam mengintimidasi. hanya ada tatapan lembut sarat akan kasih sayang.

"jangan berkata aku sok tau dan sebagainya. didunia ini, bukan hanya kamu yang merasakan penderitaan dunia. semua orang punya cerita mereka masing-masing."

wajah gadis itu melunak. suara nya pun sudah menjadi halus nan lembut bagai sutera. melihat laki-laki didepannya, ia jadi teringat akan masa lalunya.

"menangis jika kau ingin menangis. tak akan ada yang memukul ataupun memarahimu. tak akan ada yang membentakmu dan menjejal mulutmu. jika ada yang melakukan itu padamu, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan menyingkirkan makhluk itu dari hadapanmu."

senyuman cacha masih tak lepas dari paras indahnya. ia berjaan mendekat,menduduki sisi kasur laki-laki itu.

"jika kau tak ingin memegang janjiku tak apa. yang penting aku sudah mengatakannya. secara tidak langsung aku akan melindungimu."

tubuhmu mungkin bisa dibohongi. tapi tidak dengan hati dan mata itu. lihatlah, sudah ada anak sungai di pipi tirusnya. cacha yang melihatnya memperlebar senyum lembutnya. diraihnya tangan kurus kering itu, mengelusnya lembut.

"jika kau ingin bercerita maka katakanlah, aku selalu siap siaga untukmu. jika kau tak ingin menceritakannya maka lupakanlah. agar tak menjadi beban hati. tapi,jika kau tak ingin bercerita dan tak bisa melupakannya maka datanglah padaku, aku akan membantumu melupakannya."

masih mengelus tangan tersebut, cacha menengok ke asisten pribadinya. "sudah ketemu?" tanyanya. sang asisten yang menyaksikan keajaiban itu terkejut dan menggeleng cepat. lalu mengangguk lebih cepat. "bagaimana kalau air? dia terlihat lembut seperti air" cacha terkekeh.

"tapi paman, selimutku juga lembut, kenapa kita tak memberinya nama selimut aja?" godanya.

sang paman menghela nafas kesal. berurusan dengan gadis pubertas akan memotong umurnya 30 tahun. padahal dia sendiri sudah berumur.

"tapi sejujurnya aku suka. mungkin paman berpikir air karna wajahnya yang cenderung lembut. tapi aku suka nama nismara karna dia pria yang tenang. bagaimana kalau namanya air nisamara? hahaha....kocak, tapi aku suka." cacha puas. ia melihat kembali wajah datar itu. menepuk tangan yang ia genggam itu pelan.

"kau mendengarku? mulai saat ini namamu adalah air nismara. jika aku memnggilmu nismara maka kau harus mengengok. mengerti?" 

tak ada jawaban. cacha tau itu. ia meletakkan kembali tangan tersebut ke atas pengkuannya dan menggambil makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit. duduk kembali dan berniat menyuapi nya. tapi tak ada respon apapun.

"berani sekali kau menolak pemberian gadis cantik sepertiku? kau sudah kurus, tak bagus untuk masa perkembangnmu nanti. cepat buka mulutmu" lama-lama kesal juga. ingatlah bung. cacha hanyalah gadis 15 tahun yang masih masa pubertas. mohon maklumi.

pelan namun pasti,nismara menatap piring yang berisi makanannya. cukup lama sampai ia membuka sedikit mulutnya, membiarkan satu suapan nasi masuk kedalam mulutnya. nismara baru sekali mengcapnya dan gumpalan nasi itu tertahan. digantikan butiran air mata yang kembali turun. cacha tertawa singkat dan menghapus air mata itu menggunakan tangannya dan menyuruhnya mengunyah. 

respon ajaib yang sangat diharapkan oleh seorang asisten yang menatap keduanya haru.

love yourselfWhere stories live. Discover now