Min Yoongi
"Yoongi-ya..., mianhae."
Aku membalikan tubuh dan memandangi dua orang yang berdiri di belakangku. Kim Taehyung, adikku, dan Bae Joohyun, pacarku. Mereka berdua berdiri bersebelahan dengan canggung di depan pintu kamarku.
Raut wajah Taehyung sangat pucat dan berkeringat, kontras dengan wajah Joohyun yang memerah serta mata yang terlihat sedikit membengkak.
Apakah ia baru saja menangis?
Joohyun adalah gadis yang kuat. Ia bahkan tidak menangis ketika aku terpaksa pergi ke Jepang untuk melanjutkan studi. Dan Kim Taehyung, adikku satu-satunya, adalah lelaki yang paling seenaknya yang pernah kutemui. Jangan tanyakan mengapa marga kami berbeda. Itu karna orang tua kami yang sama-sama bercerai saat aku berumur 12 tahun, ayahku bertemu dengan ibunya disebuah reuni SMA dan membuat keduanya saling jatuh cinta.
Pada awalnya, aku tidak menyukai mereka. Mereka merubah keadaan rumahku yang tentram, menjadi begitu berisiknya karena kegiatan mereka. Tapi sepertinya, hari ini ada pengecualian untuk Taehyung dan Joohyun. Mereka berdua berbeda dari biasanya.
Aku mencoba mendekati Joohyun untuk sekedar menggenggam tangannya. Hal yang biasa aku lakukan disaat aku merasa bahwa Joohyun membutuhkan ku disampingnya. Tetapi, alisku bertaut ketika Joohyun menghindari tangan ku yang berusaha merengkuhnya untuk memberi dia ketenangan.
Gadis yang telah menjadi pacarku selama empat tahun itu melangkah mundur dan bersembunyi dibalik punggung Taehyung yang gelisah. Kemudian, kulihat Joohyun menangis.
"Ada apa?" Tanyaku hati-hati.
"A-aku..." Jawab gadis itu terbata. Sejurus kemudian, dia menutupi wajahnya yang basah karena tangisan yang semakin menjadi. Pilu yang aku rasakan setiap kali aku mendengarnya terisak. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Joohyun hamil. Dia... Mengandung anakku."

🔱
Five month after
Aku menelengkupkan wajahku ketika ingatan itu kembali menghampiri. Kepalaku selalu terasa sakit ketika memori memuakan itu berputar seperti film di kepalaku. Aku tidak pernah bisa hidup dengan tenang tanpa pikiran tersebut setelah pengkuan pengkhianatan oleh dua orang yang paling berharga dalam hidupku itu.
Bahkan, disela-sela jam kerjaku sebagai direktur Yoon Corp yang padat ini, kenangan itu masih menghantui. Dengan kasar aku mengambil satu laporan dan berusaha berkonsentrasi. Namun, apa yang aku lakukan itu semua sia-sia. Ingatan itu kembali kepermukaan.
Ternyata, selama aku melanjutkan studiku di Jepang, Taehyung mendekati Joohyun yang diam dalam rasa kesepiannya. Gadis itu menerima adikku dengan tangan terbuka tanpa mengingat aku yang akan terluka demi menghilangkan rasa sepinya.
Meskipun empat tahun sudah kami menjalin hubungan, apa yang kami lakukan hanya sebatas berciuman saja. Tapi, apa ini? Mereka menusukku dari belakang! Kenapa kalian tidak sekalian saja membunuhku? Bahkan, itu jauh lebih baik!
Tokk tokk
"Yoongi sajangnim, Nona Hwang Mi-Young sudah datang." Sekretaris Jeon membukakan pintu ruang kerjaku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat gadis berusia dua puluh empat itu masuk kedalam ruanganku dengan senyum manis. Hwang Mi-Young, atau biasa dipanggil Tiffany Hwang. Ia terus tersenyum tanpa lelah dihadapanku. Senyum yang tak mampu mencairkan hatiku yang beku.
"Kau sudah makan, Yoongi-ya?"
Pertanyaan yang sama setiap hari. Apa dia pikir, aku tidak akan bosan mendengar coletah dan pertanyaannya yang tak berganti meskipun sudah tiga bulan kami menjadi sepasang kekasih?
Gadis itu tetap memandangku dengan senyum yang masih terukir dibibirnya. Menunggu jawaban memuakkan dari pertanyaan yang memuakkan pula.
"Sudah." Jawabku malas.
Seperi biasa, setiap kali aku mengatakan itu, Tiffany tertunduk sesaat dan mengepalkan jari-jari tangannya yang ia letakan diatas kedua pahanya. Entah untuk apa, aku tak terlalu memperdulikannya. Toh, tiga detik setelahnya gadis itu akan mengangkat kepalanya dan kembali mengukir senyumannya.
"Gwenchana," ucapnya tenang.
Sungguh, aku sama sekali tidak perduli apa yang ia lakukan. Aku hanya kembali menekuni laporan yang tertumpuk rapih diatas meja kerjaku setelah dia mengatakan hal itu.
Masih banyak hal yang lebih penting lainnya daripada memperhatikan gadis itu. Menit demi menit berlalu, gadis itu masih setia duduk di sofa yang berada diujung ruanganku. Setengah jam waktu kunjungannya telah habis, Tiffany berdiri dan berjalan mendekati pintu. Tangannya terjulur untuk meraih knop pintu. Tetapi, langkahnya terhenti.
Ketika akhirnya ia berbalik dan memandangku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi pada pertunangan kita," ucapnya tanpa kuperdulikan. Sepersekian detik ia terdiam dan memandangku, aku melihatnya dengan tatapan yang bahkan tak bisa kujelaskan.
"Saranghae." Lanjutnya.
Aku terdiam, membiarkan pintu itu mengayun tertutup. Tanpa aku yang pernah sekalipun membalas ucapannya.

TBC
Haiii haiii!!
Ini pertama kalinya aku publish cerita di wattpad. Sebelumnya, aku cuman sempet publish ff ku di Fb hehehe...
Btw, ini cerita bukan murni buatan ji^^
Credit to the real author di SJFF_INA. Sebenernya ku udah nyiapin FF pairing VRene juga hehe tapi belum pede aku publish karna banyak yang harus diperbaiki
Jangan lupa VO-MENT nya yaa ><
Don't be a silent readers♡
Salam kenal,
-Jiyogi♡
YOU ARE READING
The Silver Rings || Min Yoongi [ ✔ ]
Fanfiction"Hanya sebuah hati dan sepasang mata ini yang mengerti. Untuk siapa aku bertahan, dan untuk siapa aku meneteskan air mata." --------------------------- Cast: ▶Min Yoongi [ Suga ] ▶Tiffany Hwang Other cast: ▶Bae Joohyun [ Irene ] ▶Kim Taehyung And o...
![The Silver Rings || Min Yoongi [ ✔ ]](https://img.wattpad.com/cover/123706493-64-k766936.jpg)