Awal Mula Bercerita

79 2 2
                                        

Namaku Pijar, aku adalah lelaki yang sering di tinggal. Maksudku ayah dan ibuku bekerja di kota sebelah sebagai pns, dan 2 kakakku yang satu kuliah di kota yang cukup jauh, sedangkan yang satunya telah bekerja di tempat yang juga cukup jauh. alhasil aku selalu sendiri dirumah.

--OOO--

Malam itu aku sedang dilanda galau, sehingga saat berpikir mau buat apa untuk makan malam: aku malah kebingungan.

"Ah, kalau lagi galau kayak gini enaknya makan apa ya???" berbicara di hadapan kompor gas.

Setelah berfikir cukup lama akhirnya terlintas di benakku untuk...

"Buat telor dadar kayaknya enak. Sip ah, waktunya buat telor dadar ala Chef Pijar yang terlalu piawai." ucapku senang lalu segera memasak.

Saat sedang serius - seriusnya memasak, tetiba handphone yang ku simpan di kamar berbunyi. cukup kencang dan berulang - ulang.

~Sayang opo kowe krungu jerite atiku mengharap engkau kembali~

Suaranya semakin lama semakin membuatku merasa terpanggil. Dan akhirnya aku bergegas menuju kamarku untuk menengok apa yang terjadi dengan handphone ku.

Sesampainya disana, tanpa pikir panjang, langsung ku pandang handphone ku. Dan ternyata ada yang menelfon, namun ada satu hal yang membuat ku tercengang. Itu karena yang menelfon ku adalah wanita yang aku cinta. Dia menelfon ku! Tapi kenapa?? Dan mau apa???

Tanpa banyak drama, segera saja aku angkat telefon tersebut.
Dan seketika setelah kuangkat telefon, tetiba suara wanita menyambar telingaku begitu kencang, dan lagi dia memakai intonasi ala - ala anak hip-hop.

"E.. Ini.. Ini.. Pijar.. Please ini, ini Pijar kan?" tanyanya terburu - buru.

"Iya Shan, ini aku Pijar. Ada apa Shan, tumben nih malem - malem nelefon." balasku mencoba terdengar keren.

"Jar, kalau kamu di beliin sepatu futsal, kamu lebih suka merk Naike atau merk Atudas?" tanyanya kembali.

Saat ia (Shani) bertanya seperti itu, batinku langsung berkata, 'Hmm, kayaknya Shani mau beliin aku sepatu futsal. Padahal jujur aja kalau mau ngebeliin sepatu futsal mah, hihi..'

"Jaarrr, masih hidupkan??? Jawab dong bukan malah diem aja.." kesal Shani membuatku kaget.

"Eh iya Shan, maap nih hp-nya suka delay gitu, hehe.. Tapi kalau disuruh milih si, aku lebih suka Naike." jawabku dengan sepenuh hati.

"Ok deh, kalau gitu makasih ya Pijar.." tuturnya terdengar senang.

Tunggu ... Sepertinya aku harus bertanya lebih lanjut..

"Ah, kalem aja kali Shan. Kalau boleh tau, mau beli sepatu buat siapa??" tanyaku dengan penuh harapan.

"Buat temen kamu Jar.." ujarnya membuatku syok setengah mati.

Hahh?? Setahu ku nggak ada satu orang pun temanku yang akrab sama Shani. Apa mungkin ada udang di balik terigu ya? Kalau benar, kejam sekali. Cih.

"Jar dah dulu ya.. Mau tidurr." tuturnya di akhiri suara menguap yang merdu, lalu mematikan telfonnya.

"E.. Shan, loh kok malah di matiin sih. Hadeuh, dasar cewek cantik." omelku pada hp-ku, lalu ku lempar saja ke arah bantal - bantal bau jigong.

Selang beberapa detik kemudian, mulai tercium bau yang tidak mengenakan di hidung. Datangnya seperti dari dapur.. Benar, pasti dari dapur. Tapi bau apa ya??? Cukup keras aku berfikir, dan akhirnya aku ingat.

"Telor dadar ku!!!" berlari menuju dapur dengan cepat.

Dan, hancur sudah. Asap terlihat menjulang tinggi menutupi atap - atap rumahku, kewali pun nampak gosong pada bagian bawah, dan yang pasti telor dadarku telah menjadi hitam.. hitam kelam. Untungnya aku segera mematikan nyala kompor dan segera mengangkat telor dadar nya ke salah satu piring.

Alhasil aku beri nasi di pinggiran telor dadar tersebut dan mencoba minta maaf pada dadar tutung itu.

"Maaf, aku nggak punya maksud bikin kamu kayak gini. Tapi tenang, kamu terlihat exotis kok." tuturku pada dadar yang baunya kurang nyaman di hirup.

Tanpa balasan dari dadar itu, aku mulai melanjutkan perkataanku.

"Dar, gara - gara kejadian ini, aku jadi teringat kisah manisku bareng mantan pacarku 2 tahun lalu. Waktu itu, dia mengajakku kerumahnya dan aku mau aja. Tapi sesampainya di rumah dia, ternyata nggak ada siapa - siapa lagi, cuman ada aku dan dia. Yaa.. Akhirnya aku jadi kikuk sendiri, karena momen yang awaked itu." ujarku panjang sedikit lebar.

Nampaknya telor dadar sangat dingin, bahkan saat ku colek ia tidak sehangat pas masih di kewali. Tapi aku tak merisaukannya dan tetap meneruskan cerita.



Ok, ini kisah khayal yang akan kubuat jadi short story.. Tunggu kelanjutannya di BAB 2. Mau tau keseruannya? Follow akun ku biar nggak ketinggalan cerita ku.
TERIMAKASIH ! ! !

Cerita Sebentar Kepada Telor DadarStories to obsess over. Discover now