"Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut sukanya bilang, buka dikit josss."
Lantunan lagu dangdut koplo yang enerjik terdengar lantang dari sebuah radio usang di pinggiran kampung. Radio itu selalu terdengar dari pukul lima sore hingga setengah enam sore atau dua menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Radio itu bukan milik siapa-siapa. Radio itu milik semua orang. Radio itu dibunyikan oleh dua orang hansip yang telah bersepakat dengan warga kampung ini. Radio itu, memberi kebahagiaan tersendiri, khususnya aku.
Aku duduk di warung kopi sambil mendengarkan radio itu. Bukan hanya aku, tapi hampir semua pemuda dan warga kampung ini. Kebanyakan yang berkumpul adalah laki-laki. Tidak lama memang mendengarkan radio itu, namun cukup memberi kebahagiaan untuk kami. Seperti biasa, setelah radio itu dimatikan, warga berhamburan ke rumahnya. Bersiap-siap mengadu pada Tuhannya, tapi tidak untuk aku. Bukan karena aku tak menunaikan kewajibanku, melainkan aku menanti dua menitku dahulu. Kau tahu yang ku maksud dengan dua menit? Dua menitku adalah gadis itu. Gadis yang selalu terlihat setelah radio itu dimatikan. Gadis yang duduk di terasnya dengan secangkir teh.
Aku mengaguminya, dua minggu yang lalu. Belum lama memang, namun entah kenapa aku begitu ingin selalu melihatnya. Melihat wajah sendunya, melihat tingkah pilunya.
Aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Dia berbeda bagiku, dia telah ciptakan dua menit yang berarti. Dua menit yang begitu berharga. Dua menit yang buatku merindu.
Aku tak mengenalnya, namun aku tahu dia. Dia baru dua minggu tinggal di sana. Dia tinggal dengan pak Husein, kakek tua yang sebelumnya hidup sendirian. Kakek tua yang hidupnya begitu tertutup semenjak istrinya meninggal satu bulan lalu. Gadis itu mungkin adalah cucu dari pak Husein. Entahlah...
Dua menit berlalu begitu saja. Tak ada kemajuan. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Menatapnya dari warung kopi. Menatapnya tanpa ia tahu. Aku tak tahu hingga kapan akan begini. Mengaguminya dalam kegelapan senja. Mengaguminya dibalik dua menit. Aku terlalu takut untuk mendekatinya, mungkin karena aku terlalu mengaguminya. Aku tak pernah berharap ia mengetahui keberadaanku.
Aku tak pernah meminta ia mengagumiku. Biar saja aku di sini, sendiri menanggung sepi. Biar saja aku begini, tersiksa rasaku sendiri. Biarlah terus seperti ini, aku hanya ingin melihatnya tersenyum. Melihat dia ceria. Selama ini, tak pernah ku lihat senyum memancar dari bibirnya. Tak pernah kutangkap rona bahagia darinya.
Aku tahu, tak selamanya ia di sini. Suatu hari, ia akan pergi. Perpisahan akan tiba... karena tempatnya bukan di sini. Jika perpisahan adalah hal baik, aku ingin yang terbaik, tapi aku berharap, jika perpisahan itu tiba, aku dapat melihat ia tersenyum. Melihat dari jauhpun tak apa, agar dua menitku yang terakhir, berakhir dengan indah.
Selesai.
Terima kasih sudah membaca cerita pendek ini.
I hope you like it.
Sertakan komentar yang baik, santun, dan membangun.
Terima kasih!
***
"Biarkan diamku menjadi alasan bagimu untuk tetap baik."
annwiranti
ESTÁS LEYENDO
Dua Menit
Historia CortaIni cerita pendek, cuma cerita pendek, pendek sekali. Semoga suka! *ini cerita lama,
