I - PESAN

87 6 0
                                        

Pesan diterima: Unknown (1)

"Selamat Adam, kau terpilih. Semoga beruntung."

***

Semenjak mendapat pesan aneh dari anonim beberapa saat yang lalu, Adam tidak lagi fokus mendengarkan apa yang sedang disampaikan oleh gurunya di depan kelas. Tatapannya kosong. Ia tak mampu melepaskan pikirannya dari pesan tersebut.

"Aku terpilih? Untuk apa?" Batinnya di dalam hati.

Adam menoleh ke bangku di sebelahnya dan tidak mendapati siapapun di sana. Adam tersenyum diikuti helaan napasnya yang panjang.

"Hmm... Bahkan, di sekolah pun aku tidak dipilih untuk sekedar menjadi teman sebangku di kelas. Dan, sekarang tiba-tiba ada yang memilihku. Entah lelucon macam apa ini."

Dering bel sekolah menandakan kelas hari itu selesai dan para siswa-siswi diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

"Baiklah anak-anak, jangan lupa membaca materi tentang Diferensiasi Sosial dan Ibu akan menanyakannya kepada kalian di pertemuan selanjutnya. Selamat sore! Hati-hati di jalan pulang ya!"

Pesan diterima: Ayah (1)

"Adam, ayah dan ibu ingin bicara padamu. Cepat pulang, kami tunggu."

Tentu pesan tersebut sudah menjadi salah satu template yang masuk ke dalam pesan masuk ponsel miliknya. Selalu seperti itu. Bangun pagi, sarapan, sekolah, pulang, bicara tentang progres pembelajaran di sekolah, makan malam, membaca komik, berselancar di internet, dan tidur.

"Aku juga akan tiba di rumah sesegera mungkin tanpa kalian suruh."

Remaja enambelas tahun itu kemudian merapikan bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas sambil terus memegang telepon genggamnya yang masih menampilkan ruang pesan. Ia kembali membuka pesan dari anonim yang masih mengganjal di benaknya.

"Apa aku balas saja ya pesan ini... Daripada aku mati penasaran." Kedua ibu jarinya mulai menekan tombol-tombol yang ada pada ponsel, menuliskan pesan balasan untuk sang anonim:

"Apa maksudnya aku terpilih?"

Adam mengirim pesan tersebut dan bangkit dari tempat duduknya, bersiap untuk pulang. Baru saja ia bangkit, dari belakang seorang lelaki berbadan besar menyenggolnya dari belakang dan membuat Adam sedikit hilang keseimbangan.

"Ups, maaf Adam. Aku terburu-buru. Sampai besok!" Ucapnya sambil berlari ke arah pintu kelas. Terlihat lemak-lemak yang ada pada perutnya ikut bergerak ketika dirinya berlari.

"I.. iya.. sudahlah."

***

Adam masih berjalan sendiri di lorong kelas sekolahnya. Ia memang tidak terlalu banyak memiliki teman. Sifatnya yang pendiam dan tidak terlalu terbuka dengan orang luar menjadi penyebab utama yang membuatnya sedikit jauh dari pergaulan. Ia pun menjadi seorang yang kurang bergaul karena merasa kurang cocok dengan siswa dan siswi di sekolahnya.

Dari halaman sekolah, tetes demi tetes air tampak mulai turun dari langit yang menandakan hari akan turun hujan. Ia berlari menuju halte bus sekolah yang berseberangan tepat dengan sekolahnya.

Setibanya di halte, Adam menjatuhkan pilihan untuk mengambil tempat duduk di paling pinggir jauh. Rupanya ia berpapasan dengan sosok besar yang tadi menyenggolnya di kelas.

"Eh, Adam, maaf ya soal tadi. Aku mendapat pesan dari ayah, ia bilang aku harus segera pulang karena ada hal penting yang harus dibicarakan."

Laki-laki berbadan besar tersebut menjelaskan alasan mengapa dirinya terburu-buru tadi. Adam tentu mengenalnya. Dia adalah teman sekelasnya di XI IPS III, namanya Brian.

GENGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang