Halo! Jadi aku akan membuat project seri yang aku beri nama Seri Warna. Jadi di project ini aku akan buat 5 cerita dengan judul warna. Setiap cerita hanya akan diisi 5 part. Semoga aku bisa selesaiin semuanya ya :")
Okay, Happy Reading!
***
Aku mengayunkan kaki kecilku sambil sesekali bersenandung lagu "Pelangi" yang diajarkan Mama. Aku suka sekali lagu itu. Seperti apa ya pelangi itu?
"Alia!" Aku berusaha mencari asal suara. Aku yakin itu suara Amel. Tetangga sebelah sekaligus satu-satunya temanku.
"Al! Aku baru belajar tentang warna loh!" Aku tersenyum antusias ingin mendengar cerita Amel. Aku sedikit iri pada Amel karena Amel bisa sekolah di taman kanak-kanak biasa sementara aku tidak bisa. Tapi tidak apa, toh Amel selalu membagi apa yang ia dapat dari sekolahnya.
Aku tersenyum riang, "ajarin aku dong Mel!" pintaku.
"Dimulai dari mana ya?" Tanya Amel.
Dengan antusias aku bertanya, "kalo pelangi warnanya apa Mel?"
"Pelangi itu warnanya macem-macem Al! Merah, kuning, hijau, biru. Pokoknya warna-warni! Bagus banget!" Jelas Amel dengan antusias.
"Terus-terus apalagi?" tanyaku antusias.
"Uhm, yang kamu lihat sekarang itu kan gelap, itu namanya warna hitam." Aku mangut-mangut mengerti. Jadi gelap ini namanya warna hitam ya?
"Kalo lawan warna hitam itu warna putih. Warnanya bersih." Lanjut Amel.
Aku termenung sejenak. Putih ya? Aku ingin tahu putih itu seperti apa. Aku ingin melihat warna putih.
***
Aku duduk dengan tenang menunggu Bi Ana menyelesaikan tugasnya. Sesekali aku mengikuti intruksi yang diberikan olehnya. Terkadang aku ingin tau apa yang dipakaikan oleh Bi Ana.
"Sudah selesai Non." Seperti saat ini, aku penasaran baju apa yang tengah aku pakai.
"Terimakasih Bi." Aku tersenyum. Setiap harinya Bi Ana dengan telaten membantu aku berpakaian serta hal-hal lainnya yang seharusnya bisa aku lakukan sendiri jika saja aku bisa melihat.
Ya, aku terlahir buta.
Sejak lahir aku tidak bisa melihat. Bahkan wajah orang-orang disekitarku tampak samar diingatanku. Tentu saja. Aku hanya mengenali wajah mereka dari indera perabaku, tentu tidak seakurat indera pengelihatan.
17 tahun hidup di rumah ini membuat aku hapal tata letak rumah, dengan catatan barang-barang tidak dipindah. Untungnya rumahku bukanlah rumah besar bertingkat yang pastinya akan menyulitkan orang sepertiku. Rumahku hanya rumah biasa berlantai satu.
Meski aku tidak bisa melihat, namun inderaku yang lain menjadi tajam. Seperti indera penciuman dan indera pendengaranku yang lebih tajam dari yang lain. Tuhan adil bukan? Aku percaya itu. Maka dari itu Tuhan mempertajam inderaku yang lahin karena indera penglihatanku tidak berfungsi.
"Pagi Mama Papa!" Sapaku riang. Sambil meraba, dengan hati-hati aku menarik kursi makan lalu duduk dengan antusias. Siap menyantap sarapan pagi ini.
"Pagi sayang." Balas kedua orangtuaku nyaris berbarengan. Aku hanya nyengir sembari menyodorkan piringku yang tentu masih kosong.
Mama mengambil piringku, mengisi piringku dengan makanan. Aku menunggu dengan tidak sabar, perutku rasanya sudah sangat lapar.
"Ini sayang." Aku berterimakasih pada Mama, lalu sebelum makan aku membaca doa. Berterimakasih pada Tuhan atas berkatNya aku masih bisa makan. Lalu aku mulai memakan makananku. Awalnya memang sulit untuk bisa makan sendiri, namun berkat latihan bertahun-tahun membuatku bisa makan sendiri.
YOU ARE READING
PUTIH
Teen Fiction"Alia! Aku baru belajar tentang warna loh!" Itu suara Amel, tetangga dan temanku satu-satunya. Aku tersenyum riang, "ajarin aku dong Mel!" "Uhm, yang kamu lihat sekarang itu kan gelap, itu namanya warna hitam." Aku mangut-mangut mengerti. Jadi gelap...
