31 Desember 2001
Malam yang membeku salju mulai turun kota dipenuhi riuh pikuk tawa kebahagian, seluruh penduduk kota Asamori berkumpul di kuil-kuil baik remaja, orang dewasa, lansia, hingga anak anak, semua menantikan bergantinya tahun. Dari kejauhan terlihat warna hangat lampu di malam hari dan ditambah dengan turunnya butiran salju memberikan kesan yang kehangatan di tengah musim dingin. Kuil menyajikan o-toso terbuat dari sake dan mirin sangat cocok untuk menghangatkan tubuh yang menggigil di malam tahun baru. Jauh dari keramaian terlihat seorang gadis mengenakan pakaian musim dingin tradisional berwarna ungu hitam dan dibalut dengan syal merah rajut. Rambut hitam panjang tampak terurai dengan rapi.
Gadis itu berjalan menaiki anak tangga menuju kuil keluarga Shimizu yang sudah lama tidak terurus. Tujuan gadis itu bukanlah kuil, melainkan tempat yang berada di hutan belakang kuil tersebut. Dia terus berjalan menyusuri jalan setapak yang hanya diterangi oleh lampu dari mercusuar. Hembusan angin yang menerpa wajah sang gadis disertai bau asin yang semakin lama semakin tercium menandakan tempat yang ia tuju sudah dekat. Semakin dia berjalan suara demericik dan hantaman ombak semakin menggeliang di telinganya. Hembusan angin semakin kuat menghembus rambut hitamnya yang terurai. Tidak butuh beberapa langkah pemandangan perbatasan antara lautan berwarna biru kehitaman dan daratan yang dipenuhi cahaya hangat dapat terlihat.
Tempat yang menyajikan pemandangan yang indah disetiap musimnya dan yang menjadikan tempat itu istimewa adalah, tidak banyak orang yang tau akan keberadaan tempat itu. Adapun orang lokal yang tau namun karena lokasinya yang sedikit menanjak dan curam menyebabkan orang orang lokal tidak terlalu berminat untuk kesana dan tidak sedikit dari penduduk melarang anak anak mereka untuk pergi ke tempat tersebut. Tapi dibalik usaha untuk menuju tempat tersebut dapat terbayar dengan panorama yang disuguhkan menyatakan betapa indahnya kota Asamori.
Dilihatnya jam tangan yang melekat di tangan kanannya menunjukan pukul 23:59. Waktu yang sangat tepat untuk menyaksikan pelepasan kembang api tahun baru. Ditatapnya langit dipenuhi salju yang perlahan berjatuhan mengingatkannya akan kesedihan dan kebahagian yang mendalam. Suara penduduk mulai terdengar hingga ke setiap sudut pulau yang mengisyaratkan detik detik pergantian tahun. Menghitung mundur detik
"10" Gadis itu menundukan kepalanya dan menghela nafas menyebabkan uap dingin keluar dari mulutnya.
"9.." dengan perlahan gadis itu melangkah kedepan hingga ke palang kayu pengaman yang sudah rusak dan mulai ditumbuhi tanaman sulur.
"8..." mata yang berwarna hitam kecokelatan menatap atap atap rumah yang mulai memutih di tutupi oleh salju yang berjatuhan.
"7" gadis tersebut berjalan melewati palang kayu dan berjalan hingga tidak ada lagi ruang untuk melangkah ke depan.
"6" suara penduduk yang semakin tidak sabar menantikan perayaan awal tahun terdengar oleh sang gadis.
"waktu hampir habis". Suara yang bergemetaran karena dinginnya udara yang berhembus dari arah laut.
"5" suara penduduk semakin menyakitkan telinga. Kuil mulai penuh sesak oleh orang orang yang akan berdoa untuk tahun yang akan datang.
"4" Tatapan sedih tergambar di wajah gadis tersebut.
"3" semua orang menatap langit kosong mempersiapkan mata untuk peluncuran kembang api yang menghiasi langit malam
"2" semakin keras suara suara yang dihasilkan dari ratusan orang yang berteriak bersamaan.
"kau terlambat lagi..."
"1!!!!!"
"SELAMAT TAHUN BARU!" Suara teriakan orang orang disertai dengan peluncuran kembang api yang meledak dengan pola pola indah menghiasi langit malam menambah kemeriahan di tahun yang baru. Tergambar jelas wajah bahagia setiap orang di Asamori.
***
*Note : o-toso adalah minuman yang disajikan saat tahun baru dan sake adalah minuman yang terbuat dari air beras yang di fermentasi
YOU ARE READING
Bunga Api
RomanceAda banyak perbedaan antara kita dan hanya kembang api yang menghubungkan perasaanku kepadamu.
